Thursday, August 21, 2014

BAHAN SERMON LS, CLS, MAJELIS GMI  KASIH KARUNIA
JUMAAT 22 AGUSTUS 2014
                                       


Nats Alkitab : Roma 12:9-21
Thema            : Hidup di dalam kasih
Oleh                : Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
(bisa dibaca di: gmikasihkarunia.blogspot.com)

        I.            Pendahuluan
Dalam Pasal 12:1-8, kita diajar paling tidak dalam tiga hal, pertama bagaimana orang Kristen mengadakan ibadah yang sesungguhnya kepada Allah (ayat 1), kedua: sebagai umat yang percaya kepada Tuhan Yesus kehadirannya di tengah-tengah komunitas hidupnya harus berani  tampil beda (ayat 2); dan yang ketiga: bahwa umat Tuhan di dalam hidupnya dan di tengah pelayanannya harus memiliki kerendahan hati.
Roma 12:9-21 adalah kelanjutan dari perikop di atas, dimana Paulus mengemukakan apa-apa saja yang “harus dilakukan” dan apa-apa saja yang “harus dihindari” dari hidup dan bahkan persekutuan orang-orang Kristen.

   II.            Exegese dan Aplikasi
Kalau kita daftarkan nasihat-nasihat Paulus dalam perikop ini, maka pada hakekatnya dapat dibagi menjadi dua bagian, bagian yang pertama perintah larangan: janganlah, jauhi, dll (dalam bahasa etika disebut hukum negative), seperti: jangan pura-pura, jauhi yang jahat lakukanlah yang baik (ayat 9), janganlah hendaknya kerajinanmu kendor….(11a), jangan membalas kejahatan dengan kejahatan (ayat 17), jangan….dll

Bagian yang kedua adalah hukum yang sifatnya untuk dilakukan (sering disebut hukum positip), seperti: lakukanlah yang baik (ayat 9c), saling mengasihi, saling mendahului memberi hormat (ayat 1), bersukacitalah dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, bertekunlah dalam doa (ayat 12), bantulah…., berilah tumpangan, berkatilah yang menganiaya kamu, berkatilah yang mengutuk (ayat 14), bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, menangislah dengan orang yang menangis (ayat 15), hendaklah sehati sepikir, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang, dll.

Sangat tepat dengan judul yang ada dalam Alkitab kita “nasihat untuk hidup di dalam kasih”, kasih adalah benar-benar azas yang dasariah dalam hidup Kristen, Kasih jauh melebihi emosi, jauh lebih kuat dari perasaan yang paling halus. Kasih (agape) adalah sifat dasar “kemurahan Allah” dalam menyelamatkan dunia.

1.      Kasih yang murni, bukan pura-pura, pasti bekerja dengan rupa-rupa cara; kasih pasti menimbulkan rasa kebencian  pada kejahatan, dan kehausan akan yang baik. Kasih mendorong untuk saling mengasihi, saling mendahului dalam memberi hormat, mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan sendiri terlebih-lebih dalam komunitas Kristen dimana kamu hadir. Artina kasih yang melayani, kasih yang aktif. (ayat 9-10)
2.      Kalau kasih berkuasa maka semangat tidak akan kendor, dan pelayanan kepada Tuhan akan semakin  baik. Kerajinan yang disebabkan kasih akan membawa akibat yang positif bagi persekutuan jemaat. Kerajian yang disebabkan motivasi dunia akan membawa pengaruh yang tidak baik bagi diri sendiri dan persekutuan (ayat 11-13).
3.      Petunjuk-petunjuk lain dalam etika Kristen.
Kita sebagai orang percaya hidup bukan sendiri di dunia ini, tapi kita berdampingan dengan orang-orang yang berkepercayaan yang lain dengan kita. Dalam sentuhan itu, kita harus menunjukkan bahwa kita hidup di dalam kasih, dan tetap mempertahankan iman dan kepercayaan kita. Kita harus tetap tanggap akan lingkungan social kita dengan memancarkan terang kasih kita kepadanya (ayat 12-21)

Jika kita perhatikan perintah-perintah dalam perikop ini lebih banyak menuju kepada peran aktif yang harus kita lakukan dari pada larangan-larangan.
 Oleh sebab itu perlu kita sadari bahwa melakukan “ hidup di dalam kasih”  tidak hanya patuh pada larangan-larangan Tuhan (janganlah…..) tetapi juga  harus aktif melaksanakan perintah positif yang diperintahkan oleh Tuhan. Jangan hanya terfokus pada “Jangan…..tetapi juga harus focus pada “aktif”.



III.            Kesimpulan
Jangan hanya focus pada larangan-larangan, tetapi kita juga harus aktif pada perintah positif yang diperintahkan oleh Tuhan. Hendaklah “kasih” mewarnai seluruh hidup orang percaya; dalam berpikir, bertindak, hidup dalam keluarga, hidup di dalam persekutuan, dan juga hidup di dalam berdampingan dengan orang-orang yang berlainan kepercayaan dengan kita. Tuhan Yesus memberkati.



Kepustakaan

Davidson F dan Ralph P. Martin, “Tafsiran Roma” dalam Tafsiran Alkitab Masakini, Yayasan   Komunikasi Binakasih/OMF, Jakarta 1999







No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.