Saturday, August 16, 2014

KHOTBAH MINGGU 17 AGUSTUS 2014
GMI KASIH KARUNIA, JALAN HANG TUAH 2 MEDAN


Nats Alkitab    : Kejadian 45:1-15
Epstel              : Roma 11:1-2a, 29-32
Responsoria    : Mzm 133:1-3
Thema             : Rekonsiliasi melalui pengampunan
Oleh                : Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA

       I.            Pendahuluan
Kisah Yusuf dengan saudara-saudaranyea adalah suatu rentetan kisah yang cukup menarik dan sangat dinamis. Kisah itu diawali dengan kebencian/irihati dari dari saudara-saudaranya  oleh karena dia menerima perlakuan istimewa dari orangtua mereka (Kej. 37), sehingga saudara-saudara mereka  dengan kekejaman dan tipu daya menjual Yusuf ke Mesir.
Di negeri Mesir, walau hanya sebagai seorang budak Yusuf bisa menunjukkan integritas moral dan iman (dengan isteri Potifar) walaupun akibatnya dia harus mendekap di dalam penjara. Melalui  penjaralah akses Yusuf jalan untuk menjadi orang nomor dua di Mesir, ditetapkan sebagai pemimpin untuk menghadapi  7 tahun kelaparan  di negeri itu, dan tentu saja akibatnya sampai ke Kanaan sebagai tempat tinggal orang tua Yusuf.
Melalui masa kelaparan itu Yusuf bisa  kembali  bertemu dengan saudara-saudaranya yang datang mencari makanan  ketika  disuruh oleh ayah mereka Yakub.
Peristiwa Pertemuan itulah yang diceritakan secara dramatis dalam Kejadian pasal 43-45  ini, termasuk bagian khotbah ini.

    II.            Exegese Nats dan Aplikasi
Ada beberapa hal yang perlu kita pelajari sebagai  dalam pertemuan antara Yusuf dengan saudara-saudaranya tersebut. Kita mengetahui sebagai manusia Yusuf sangat menderita akibat ulah dari saudara2 nya tersebut, tetapi ia melihat penderitaan itu sebagai rencana Allah untuk mendatangkan berkat.  
1.      Yusuf focus pada Allah, bukan pada masalah
Yang sering terjadi dalam kehidupan manusia adalah dendam dan berusaha membalas segala tidakan yang pernah orang lain lakukan dimana ada kesempatan. Mengampuni orang yang pernah menyakiti memang tidaklah mudah. Namun ada sesuatu yang berbeda dalam kisah Yusuf. Yang terjadi justru peristiwa yang sangat mengharukan. Yusuf menangis dan memeluk saudara-saudaranya. Yusuf meyakinkan saudara-saudaranya, "Janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu" (ay. 5).

Kenapa hal demikian dapat ia lakukan? Inilah jawabannya! Yusuf dapat melihat peristiwa masa lalu sebagai campur tangan Allah! Karena itu ia tidak marah atau dendam atas perbuatan jahat saudara-saudaranya itu di masa yang lalu. Ia tidak terfokus pada peristiwa pahit yang pernah dialaminya, tetapi melihat sesutu yang lain, sesuatu yang indah yang dikerjakan Allah. Allah mengubah segala keadaan perjalanan hidup yang pahit, menjadi rancangan damai sejahtera. Allah memakai Yusuf untuk memelihara kelangsungan hidup garis keturunan Kristus.  Peristiwa itu tidak terjadi dalam satu hari, tetapi memakan waktu bertahun-tahun. Itulah proses yang Allah lakukan bagi umat percaya.

Saudara, kisah Yusuf ini merupakan suatu penghiburan yang besar tatkala kita merasa sangat menderita. Kita diajak untuk belajar dari satu perkara penting, bahwa dibalik itu semua rencana Allah sungguh indah. Melalui kebenaran firman Tuhan ini menyiratkan satu pemahaman yang mendalam, seperti yang diungkapkan oleh Yusuf sendiri bahwa Allah mengutusnya untuk mendahului mereka.  Jika Allah memberi Anda suatu permulaan yang sulit janganlah terfokus pada masalah, tetapi bersandar dan mintalah kekuatan dari-Nya untuk dapat melewati hal itu.

Dalam kehidupan sebagai orang beriman, mungkin kita seringkali mengalami peristiwa-peristiwa yang menyakitkan. Dikhianati, difitnah, dijatuhkan, dan aneka bentuk peristiwa menyakitkan lainnya. Dalam proses itu, jika kita tetap setia dalam keyakinan iman dan percaya bahwa Allah menyertai kita, maka hidup kita pun akan berakhir dengan kemenangan dan sukacita. Berhentilah untuk menyesali diri atas peristiwa yang mungkin sedang kita alami kini. Berhentilah memelihara dendam berkepanjangan yang sebenarnya hanya menambah susah. Berhentilah dari hanya terfokus terhadap masalah pahit yang menjepit. Tapi percayalah bahwa Allah juga mengasihi kita, walau apa yang Allah lakukan terkadang tampaknya mustahil untuk dimengerti (bdk.Mzm. 105). Kita harus memusatkan pikiran kepada Allah, bukan kepada masalah. Kita harus berkonsentrasi pada apa yang sedang dan akan Ia lakukan, yaitu rancangan berkat dan damai sejahtera bagi kita.
2.      Rokonsiliasi dan Hidup Rukun
Apakah kita rukun dengan orang yang ada di sekitar kita ?  Jawabannya adalah: jangankan dengan “orang lain” dengan saudara sendiri pun ada yang tak hidup rukun. Persoalan yang paling mungkin terjadi adalah dengan orang yang paling dekat dengan kita, isteri, suami, saudara dan lain-lain. Oleh sebab itu ketika ada persoalan perlu ada rekosiliasi (perbaikan hubungan) dan saudara kembarnya adalah pengampunan.
Ada sebuah pertikaian antara desa ke desa (desa A dengan B), kedua desa ini berbatasan dipisahkan oleh sebuah sungai (namanya sungai sebangkau). Sungai ini adalah pemersatu antara kedua desa itu karena sama-sama hidup dari air sungai itu. Persolan muncul ketika desa A menamai desanya sesuai dengan nama sungai itu, sehingga desa B tidak setuju. Sehingga kedua desa ini terjadi perang, banyak korban jiwa dan kerugian lainnya. Setelah lama berperang mereka sadar, dan mereka mau duduk  bersama dan menyelesaikan permalsahan itu. Dan akhirnya dibuat kesepakatan bahwa kedua desa itu boleh memakai nama sungai itu. Yang satu bernama Sebangkau A dan yang satu lagi Sebangkau B. Sejah saat itu terjadilah pemulihan dan perdamaian antara dua desa tersebut seperti keadaan semula. Itulah Rekonsiliasi : sebuah tindakan memulihkan hubungan atau perdamaian antara dua pihak yang pernah bertikai, secara sadar dan tulus agar hubungan kembali pada keadaan semula. Itulah yang dilakukan Yusuf dengan senjatanya yang dahsyat yaitu: Pengampunan. Pengampunan adalah penerimaan terhadap sikap seseorang yang melukai kita tanpa melihat mau tidaknya si pembuat luka memperbaiki sikapnya. Maukah kita melakukannya?

 III.            Kesimpulan

Mari kita fokuskan mata kita kepada rencana Allah dalam hidup kita, dan janganlah focus kepada permasalahan karena Allah mempunyai rancakan yang indah bagi orang-orang percaya. Mari kita mengadakan rekonsiliasi dengan orang-orang yang dekat dengan kita melalui senjata yang ampuh yaitu: pengampunan. 

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.