KHOTBAH
MINGGU 17 AGUSTUS 2014
GMI
KASIH KARUNIA, JALAN HANG TUAH 2 MEDAN
Nats
Alkitab : Kejadian 45:1-15
Epstel : Roma 11:1-2a, 29-32
Responsoria : Mzm 133:1-3
Thema : Rekonsiliasi melalui
pengampunan
Oleh : Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
I.
Pendahuluan
Kisah Yusuf dengan
saudara-saudaranyea adalah suatu rentetan kisah yang cukup menarik dan sangat
dinamis. Kisah itu diawali dengan kebencian/irihati dari dari
saudara-saudaranya oleh karena dia
menerima perlakuan istimewa dari orangtua mereka (Kej. 37), sehingga
saudara-saudara mereka dengan kekejaman
dan tipu daya menjual Yusuf ke Mesir.
Di negeri Mesir, walau
hanya sebagai seorang budak Yusuf bisa menunjukkan integritas moral dan iman
(dengan isteri Potifar) walaupun akibatnya dia harus mendekap di dalam penjara.
Melalui penjaralah akses Yusuf jalan
untuk menjadi orang nomor dua di Mesir, ditetapkan sebagai pemimpin untuk
menghadapi 7 tahun kelaparan di negeri itu, dan tentu saja akibatnya
sampai ke Kanaan sebagai tempat tinggal orang tua Yusuf.
Melalui masa kelaparan
itu Yusuf bisa kembali bertemu dengan saudara-saudaranya yang datang
mencari makanan ketika disuruh oleh ayah mereka Yakub.
Peristiwa Pertemuan
itulah yang diceritakan secara dramatis dalam Kejadian pasal 43-45 ini, termasuk bagian khotbah ini.
II.
Exegese
Nats dan Aplikasi
Ada beberapa hal yang
perlu kita pelajari sebagai dalam
pertemuan antara Yusuf dengan saudara-saudaranya tersebut. Kita mengetahui
sebagai manusia Yusuf sangat menderita akibat ulah dari saudara2 nya tersebut,
tetapi ia melihat penderitaan itu sebagai rencana Allah untuk mendatangkan
berkat.
1. Yusuf
focus pada Allah, bukan pada masalah
Yang
sering terjadi dalam kehidupan manusia adalah dendam dan berusaha membalas
segala tidakan yang pernah orang lain lakukan dimana ada
kesempatan. Mengampuni orang yang pernah menyakiti memang tidaklah
mudah. Namun ada sesuatu yang berbeda dalam kisah Yusuf. Yang terjadi
justru peristiwa yang sangat mengharukan. Yusuf menangis dan memeluk saudara-saudaranya.
Yusuf meyakinkan saudara-saudaranya, "Janganlah
bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini,
sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu"
(ay. 5).
Kenapa hal demikian dapat ia lakukan? Inilah jawabannya! Yusuf dapat melihat peristiwa masa lalu sebagai campur tangan Allah! Karena itu ia tidak marah atau dendam atas perbuatan jahat saudara-saudaranya itu di masa yang lalu. Ia tidak terfokus pada peristiwa pahit yang pernah dialaminya, tetapi melihat sesutu yang lain, sesuatu yang indah yang dikerjakan Allah. Allah mengubah segala keadaan perjalanan hidup yang pahit, menjadi rancangan damai sejahtera. Allah memakai Yusuf untuk memelihara kelangsungan hidup garis keturunan Kristus. Peristiwa itu tidak terjadi dalam satu hari, tetapi memakan waktu bertahun-tahun. Itulah proses yang Allah lakukan bagi umat percaya.
Saudara, kisah Yusuf ini merupakan suatu penghiburan yang besar tatkala kita merasa sangat menderita. Kita diajak untuk belajar dari satu perkara penting, bahwa dibalik itu semua rencana Allah sungguh indah. Melalui kebenaran firman Tuhan ini menyiratkan satu pemahaman yang mendalam, seperti yang diungkapkan oleh Yusuf sendiri bahwa Allah mengutusnya untuk mendahului mereka. Jika Allah memberi Anda suatu permulaan yang sulit janganlah terfokus pada masalah, tetapi bersandar dan mintalah kekuatan dari-Nya untuk dapat melewati hal itu.
Dalam kehidupan sebagai orang beriman, mungkin kita seringkali mengalami peristiwa-peristiwa yang menyakitkan. Dikhianati, difitnah, dijatuhkan, dan aneka bentuk peristiwa menyakitkan lainnya. Dalam proses itu, jika kita tetap setia dalam keyakinan iman dan percaya bahwa Allah menyertai kita, maka hidup kita pun akan berakhir dengan kemenangan dan sukacita. Berhentilah untuk menyesali diri atas peristiwa yang mungkin sedang kita alami kini. Berhentilah memelihara dendam berkepanjangan yang sebenarnya hanya menambah susah. Berhentilah dari hanya terfokus terhadap masalah pahit yang menjepit. Tapi percayalah bahwa Allah juga mengasihi kita, walau apa yang Allah lakukan terkadang tampaknya mustahil untuk dimengerti (bdk.Mzm. 105). Kita harus memusatkan pikiran kepada Allah, bukan kepada masalah. Kita harus berkonsentrasi pada apa yang sedang dan akan Ia lakukan, yaitu rancangan berkat dan damai sejahtera bagi kita.
Kenapa hal demikian dapat ia lakukan? Inilah jawabannya! Yusuf dapat melihat peristiwa masa lalu sebagai campur tangan Allah! Karena itu ia tidak marah atau dendam atas perbuatan jahat saudara-saudaranya itu di masa yang lalu. Ia tidak terfokus pada peristiwa pahit yang pernah dialaminya, tetapi melihat sesutu yang lain, sesuatu yang indah yang dikerjakan Allah. Allah mengubah segala keadaan perjalanan hidup yang pahit, menjadi rancangan damai sejahtera. Allah memakai Yusuf untuk memelihara kelangsungan hidup garis keturunan Kristus. Peristiwa itu tidak terjadi dalam satu hari, tetapi memakan waktu bertahun-tahun. Itulah proses yang Allah lakukan bagi umat percaya.
Saudara, kisah Yusuf ini merupakan suatu penghiburan yang besar tatkala kita merasa sangat menderita. Kita diajak untuk belajar dari satu perkara penting, bahwa dibalik itu semua rencana Allah sungguh indah. Melalui kebenaran firman Tuhan ini menyiratkan satu pemahaman yang mendalam, seperti yang diungkapkan oleh Yusuf sendiri bahwa Allah mengutusnya untuk mendahului mereka. Jika Allah memberi Anda suatu permulaan yang sulit janganlah terfokus pada masalah, tetapi bersandar dan mintalah kekuatan dari-Nya untuk dapat melewati hal itu.
Dalam kehidupan sebagai orang beriman, mungkin kita seringkali mengalami peristiwa-peristiwa yang menyakitkan. Dikhianati, difitnah, dijatuhkan, dan aneka bentuk peristiwa menyakitkan lainnya. Dalam proses itu, jika kita tetap setia dalam keyakinan iman dan percaya bahwa Allah menyertai kita, maka hidup kita pun akan berakhir dengan kemenangan dan sukacita. Berhentilah untuk menyesali diri atas peristiwa yang mungkin sedang kita alami kini. Berhentilah memelihara dendam berkepanjangan yang sebenarnya hanya menambah susah. Berhentilah dari hanya terfokus terhadap masalah pahit yang menjepit. Tapi percayalah bahwa Allah juga mengasihi kita, walau apa yang Allah lakukan terkadang tampaknya mustahil untuk dimengerti (bdk.Mzm. 105). Kita harus memusatkan pikiran kepada Allah, bukan kepada masalah. Kita harus berkonsentrasi pada apa yang sedang dan akan Ia lakukan, yaitu rancangan berkat dan damai sejahtera bagi kita.
2. Rokonsiliasi
dan Hidup Rukun
Apakah kita rukun dengan orang yang ada di sekitar
kita ? Jawabannya adalah: jangankan
dengan “orang lain” dengan saudara sendiri pun ada yang tak hidup rukun.
Persoalan yang paling mungkin terjadi adalah dengan orang yang paling dekat
dengan kita, isteri, suami, saudara dan lain-lain. Oleh sebab itu ketika ada
persoalan perlu ada rekosiliasi (perbaikan hubungan) dan saudara kembarnya
adalah pengampunan.
Ada sebuah pertikaian antara desa ke desa (desa A
dengan B), kedua desa ini berbatasan dipisahkan oleh sebuah sungai (namanya
sungai sebangkau). Sungai ini adalah pemersatu antara kedua desa itu karena
sama-sama hidup dari air sungai itu. Persolan muncul ketika desa A menamai
desanya sesuai dengan nama sungai itu, sehingga desa B tidak setuju. Sehingga
kedua desa ini terjadi perang, banyak korban jiwa dan kerugian lainnya. Setelah
lama berperang mereka sadar, dan mereka mau duduk bersama dan menyelesaikan permalsahan itu.
Dan akhirnya dibuat kesepakatan bahwa kedua desa itu boleh memakai nama sungai
itu. Yang satu bernama Sebangkau A dan yang satu lagi Sebangkau B. Sejah saat
itu terjadilah pemulihan dan perdamaian antara dua desa tersebut seperti
keadaan semula. Itulah Rekonsiliasi : sebuah tindakan memulihkan hubungan atau
perdamaian antara dua pihak yang pernah bertikai, secara sadar dan tulus agar
hubungan kembali pada keadaan semula. Itulah yang dilakukan Yusuf dengan
senjatanya yang dahsyat yaitu: Pengampunan. Pengampunan adalah penerimaan
terhadap sikap seseorang yang melukai kita tanpa melihat mau tidaknya si
pembuat luka memperbaiki sikapnya. Maukah kita melakukannya?
III.
Kesimpulan
Mari kita fokuskan mata
kita kepada rencana Allah dalam hidup kita, dan janganlah focus kepada
permasalahan karena Allah mempunyai rancakan yang indah bagi orang-orang
percaya. Mari kita mengadakan rekonsiliasi dengan orang-orang yang dekat dengan
kita melalui senjata yang ampuh yaitu: pengampunan.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.