Friday, August 29, 2014



KHOTBAH MINGGU 31 AGUSTUS 2014
Di GMI Kasih Karunia, Jln. Hang Tuah 2, Medan

Nats Alkitab    : Keluaran 3:1-15
Thema             : “Pangilan  untuk Memerdekakan”
By                   : Rev. T.M. Karo-karo,STh,MA
       I.            Pengantar
Setelah Yusuf meninggal kondisi bangsa Israel di tanah Mesir hidup dalam perbudakan, dicatat dalam Kel. 2:23 : “Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah”. Mereka menderita dan berseru kepada Tuhan. Tuhan mendengarkan seruan mereka dan perduli kepada mereka, maka Tuhan mau bertindak  memerdekakan mereka dari penindasan bangsa Mesir (kel. 2:24-25).  Dalam Kel. 3:7-9-- kita melihat  bagaimana keperdulian Allah bagi bangsa pilihannya tersebut:
·         Allah melihat penderitaan  umatNya
·         Allah mendengar seruan umatNya
·         Allah turun untuk menolong umatNya
·         Allah melihat dosa orang Mesir yang menindas umatNya
Dalam rangka keperdulianNya tersebutlah  maka Allah mulai bertindak  untuk memerdekakan umatNya, tindakan tersebut diawali dengan memanggil hambaNya yang dipakai dalam proses penyelamatan tersebut dialah “Musa”.

    II.            Penjelasan Nats

Perlu diingat bahwa pengutusan/pemanggilan  Musa dalam 3:10 ini berhubungan dengan keinginan Tuhan untuk menolong bangsa Israel (3:7-9). Ini adalah sesuatu yang harus dicamkan pada waktu kita mendapat panggilan Tuhan untuk pelayanan. Tuhan mengutus kita untuk menolong orang lain yang dalam penderitaan. Kalau kita menolak, kita berdosa terhadap orang yang menderita itu.  Sebenarnya  Allah  bisa bekerja sendiri tanpa memakai manusia, tetapi Ia memilih untuk bekerja menggunakan manusia. Jadi pemilihan disini ditentukan oleh Allah.

Selama empat  puluh  tahun di  padang Midian, Musa  seolah-olah  dipisahkan  dengan  persoalan  politik  dan kemasyarakatan  di kerajaan  Mesir.   Sebenarnya Musa sudah mengalami hidup  yang tenang di pengasingan.      Di Midian Musa  hampir  melupakan  penderitaan dan  tangisan bangsanya sendiri.  Ada  perbedaan  antara  doa  ibadat  orang-orang Mesir dan umat Israel  di era  pembangungan  piramida.  Doa dan ibadat orang Mesir merupakan  upacara  dengan  segala kemewahan dan kehebatan  lagu dan pujian  pada  Firaun,  sedangkan  doa  dan  ibadat  umat Israel  diliputi  dengan isak tangis  dan  jeritan  permohonan  pembebasan .  Kebaktian  dan  doa orang-orang Mesir berseru  terciptanya   stabilitas kerajaan  dan status quo.  Doa orang-orang  Mesir berlangsung di Istana, piramid  atau metropolitan , sedangkan doa  rintihan umat  Israel  berlangsung  di lembah  sungai  Nil dan di pinggiran daerah miskin.
Ketika  Allah  melawat  dan  turun  ke  bumi  untuk  melawat umatnya. Allah  turun  di tepi  Sungai  Nil untuk mendengarkan jeritan Israel. Allah bukan bertandang  ke istana dan kuil atau piramida. Tapi Allah blusukan di tengah  penderitan  orang  Israel yang  menjadi  korban  perbudakan.
Di sini  jelas bagi  kita  bahwa  Allah   bukan sekedar Allah yang mengetahui dan mendengar penderitaan umat Israel. Allah adalah Allah yang bertindak untuk membebaskan dan memerdekakan manusia yang ditindas oleh sesamanya.  Allah tidak hanya mendengar dan melihat penderitan manusia dari atas surga.  Allah  adalah Tuhan yang mau turun  untuk melepaskan dan  menuntun.  Allah bukan menjadi  penonton  perbudakan  dan penindasan dari  surga  tapi Allah yang mau turun  ke bumi (bd. Yoh. 3:16)
Pilihan Tuhan sebagai alat untuk menyelamatkan bangsa Israel adala Musa, seorang yang terbuang yang melarikann diri ke tanah Midian.
Dalam Kel. 3:1-4:17  ada empat kali Musa menolok panggilan Allah tersebut, tetapi Tuhan menjawab  seluruh keluhan yang menjadi alas an Musa dalam penolokan tersebut:
1.            Persoalan mengenai ketidaklayakan Musa sama sekali terhadap tugas yang digambarkan.  Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" (ayat 11) Tuhan menjawab bahwa Dia berjanji akan menyertai dia terus menerus,  dengan demikian Dia berjanji bahwa budak-budah itu akan dibebaskan dan mereka akan bersama-sama di gunung yang dia berada saat ini (ayat 12).
Musa mengemukakan  halangan tetang ketidaktahuan bangsa itu mengenai sifat-sifat Allah, dan membayangkan dalam hal itu mereka tidak akan mempercayai pesan yang dibawanya.
Jawaban Tuhan (3:14-22).
Allah menyatakan namaNya (3:14-15).
Dalam 3:14 Allah menyatakan diriNya dengan kata-kata ‘Aku adalah Aku’ (‘I am who I am’ atau ‘I will be that I will be’). Istilah ini menunjukkan:
·        sifat Allah yang ada dari diriNya sendiri (self-existent).
·        kekekalan Allah.
·        ketidak-berubahan Allah.
3:14b: ‘Akulah Aku telah mengutus aku kepadamu’.
Dalam 3:15 dikatakan bahwa nama Allah adalah ‘TUHAN’ / ‘LORD’ (= YAHWEH). Bandingkan dengan Kel 6:2 dan Yes 42:8.
2.            Takut Gagal (4:1-17)---tiga mujizat
3.            Ketidak pandaian berbicara (4:1-17)---- Harun sebagai juru bicara

 III.            Aplikasi
1.      Allah Perduli kepada UmatNya
Dalam Yesus Kristus  Allah   tidak  sekedar akan  melakukan  incognito dan blusukan  saja, tetapi Allah  yang menghampakan  diri  ber inkarnasi atau menyatu ragakanu  diri dengan penderitaan manusia.  Di sinilah kita melihat solidaritas  Allah  terhadap  budak Israel.  Solidaritas  Allah  kepada  manusia  yang  tertindas  bukanlah  sesuatu  perasaan sentimental  dan  emosional saja, tetapi  menampakkan  dalam  sebuah   misi  Allah  yang  akan  melakukan  perubahan tatanan nasional ekonomi yang berlaku.  Allah turun ke sungai Nil bukan  untuk  menjaga  status quo atau keseimbangan (harmoni) yang  semu,  tetapi  akan  mengadakan  perubahan   yang  mendasar.  Sudah tentu tindakan Allah untuk turun dan membebaskan umat Israel  akan mengganggu stabilitas  keamanan Firaun.  Allah  lebih  mengutamakan  misi pemerdekaan umat Israel  dari  pada  stabilitas  dan  keamanan  semu yang sedang berlangsung di Mesir.  Misi  pemerdekaan sudah tentu menimbulkan goncangan  dan oposisi dari  Firaun. 

Musa  dipanggil Allah untuk meninggalkan suasana  kehidupan yang  khusuk dan  santai  di padang  Median .  Musa dipanggil oleh Allah  untuk hidup  dalam ‘ketidak-tentraman’.  Musa akan mengalami  diperlakukan    sebagai ‘trouble maker’ oleh  Firaun.  Musa akan menghadapi kekuatan  Firaun yang sangat congkak.
Dalam peristiwa Keluaran  bukan sekedar  pertarungan antara Musa melawan  Firaun. Bukan pula  pertarungan  antara Israel  melawan Mesir. Tidak. Di Sungai  Nil dan  kota  kota  Mesir  terjadi  pertarungan  antara  Allah  kehidupan   melawan allah kematian. Antara  Allah pendukung  pemerdekaan setiap  budak  dan  allah  pelestari sistim  ekonomi perbudakan.  
Kasih  Allah  kepada  umat Israel  adalah  kasih yang  memerdekakan.  Kasih  yang  memerdekakan  ini akan menuntut penyangkalan serta pengorbanan diri  dari setiap  orang   yang  dipanggil untuk  memerdekakan  umat Allah. .    Yesus Kristus juga sebagai  gambar  manusia yang menyatakan kasih yang memerdekakan  kepada manusia,  Yesus Kristus telah turun juga ke dunia untuk hidup bersama rakyat demi memerdekakan manusia.  Demi misi pemerdekaan manusia  ,  Musa tidak segan-segan mengorbankan eksistensinya sebagai bangsawan  istana  di Mesir  dan   kehidupan  nyaman  di Midian. Dengan melakukan  misi  Allah,   Musa  hidup  dalam  perjuangan  sebuah  perjalanan  yang  berpengharapan . Di dalam Yesus Kristus,  kepada  kita juga diajarkan bahwa dalam rangka misi penebusan dan pendamaian umat manusia,  Ia telah menghampakan diri dan berada di tengah-tengah umat manusia,  Yesus Kristus bersedia kehilangan eksistensi dan kesetaraanNya sebagai Anak Allah  dan mau  turun  ke bumi  menjadi  manusia  hina.  Demi  misi  Allah, Yesus  Kristus bersedia    dituduh sebagai ‘orang durhaka’ (atau pemberontak) disalibkan bersama-sama  pencuri  di Golgota.  Kasih Allah adalah kasih yang memerdekakan  manusia  dari  segala  belenggu atau penindasan manusia dan dosa.  Hanya  apabila ada  kemerdekaan yang sejati di situlah ada pendamaian yang sejati.  Hanya  jika ada keadilan sejati, di situlah akan ada perdamaian  yang sejati.

2.      Jangan menolak panggilan Tuhan sekalipun itu tidak menyenangkan saudara! Apapun alasan saudara. Apapun dan siapapun tidak akan bisa menggoyahkan panggilan Allah.



No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.