BAHAN SERMON LAY SPEAKER, MAJELIS GMI KASIH
KARUNIA
JUMAAT 01 AGUSTUS 2014
Nats Alkitab: Roma 10:4-15
Thema: Kristus adalah kegenapan Hukum Taurat
By: Pdt. T.M.Karo-karo,STh, MA
I.
Pendahuluan
Dalam bagian ini Rasul
Paulus hendak membuktikan bahwa semua manusia adalah orang berdosa, dan
bagaimana orang berdosa ini dapat diselamatkan. Istilah teologi untuk
keselamatan ini ialah pembenaran oleh iman (Justification by faith), dimana
pembenaran ini adalah tindakan Allah untuk membenarkan orang berdosa di dalam
Kristus berdasarkan karya penyelamatan Kristus yang sempurna di kayu salib.
Disini Paulus juga ingin berbicara mengenai hubungan antara Injil dengan hukum
Taurat, dimana doktrin pembenaran oleh iman tidak bertentangan dengan hukum
Taurat karena doktrin ini justru meneguhkannya.(3:27-31). Pernyataan ini adalah
untuk meluruskan pandangan Jahudi terhadap hukum Taurat itu, dimana mereka
yakini bahwa dengan melakukan hukum Taurat keselamatan itu akan mereka peroleh.
Orang-orang Kristen Jahudi bertanya, bagaimana hubungan antara doktrin
pembenaran karena iman dengan sejarah kita..?
II.
Tafsiran
Di dalam
ayat 4 ada dua hal yang ditekankan: (1) siapa Kristus sebenarnya; (2)
siapa yang memperoleh manfaat dari Kristus. Kristus adalah kegenapan hukum
Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang
percaya. Kata kegenapan (telos) tampaknya memadukan pengertian
dari kata sasaran dan akhir. Kita tidak dapat mengatakan bahwa Kristus hanyalah
sasaran dan akhir dari hukum Taurat. Lebih tepat kalau dikatakan bahwa Dia
adalah sasaran dan akhir dari hukum Taurat dalam kaitan
dengan kebenaran. Sebelum Kristus datang, orang-orang yang percaya
kepada Allah berada dalam ketegangan. Artinya, mereka dijanjikan akan memperoleh
hidup dengan syarat bahwa mereka hidup dengan cara yang tidak mungkin dapat
mereka penuhi. Dalam ayat 5, Sekalipun ketika mengutip Musa, Paulus
sedikit mengubah Imamat 18:5 dari
naskah Ibrani dan Yunani, ia pada dasarnya memberikan pengertian yang benar
dari ayat itu. Orang yang melakukannya (kebenaran yang dituntut oleh
hukum Taurat) akan hidup karenanya. Di dalam naskah Yunani (Septuaginta)
untuk Imamat 18:5, orang percaya
Yahudi diperintahkan untuk memelihara semua ketetapan dan peraturan.
Sekalipun seorang yang percaya kepada Allah berusaha sebaik-baiknya untuk
memenuhi tuntutan untuk hidup benar yang ditetapkan hukum Taurat. Dia juga
sadar akan segala kegagalannya. Keadaan tidak konsisten ini menghasilkan
ketegangan. Karena itu ia selalu menyajikan persembahan kurban tebusan salah
dan kurban penghapus dosa. Sebab itu, seorang Yahudi yang percaya tidak dapat
berpegang pada Imamat 18:5 sebagai
landasan hukum yang menjamin dirinya memperoleh hidup kekal, tetapi hanya
sebagai janji dari Allah menyangkut persekutuan manusia dengan Dia. Manusia
tidak dapat melihat ayat tersebut sebagai sebuah peraturan hukum. Kalau manusia
berbuat demikian maka ketegangan yang muncul tidak tertahankan. Kristus telah
mengakhiri ketegangan ini. Melalui kehidupan dan kematian-Nya Dia menyatakan
kebenaran sempurna dari Allah, yang dicurahkan oleh Bapa melalui iman kepada
Anak. Inilah sasaran yang ditunjuk oleh hukum Taurat. Kehidupan dan kematian
Kristus mengakhiri ketegangan yang muncul karena adanya janji kehidupan kepada
manusia dengan syarat yang tidak akan pernah dapat dipenuhinya. Karena manusia
tidak dapat hidup sebagaimana dikehendaki oleh Allah, keselamatan di bawah
Perjanjian Lama maupun di bawah Perjanjian Baru haruslah oleh iman.
Di dalam Roma
10:6-8 Paulus mengutip Ulangan 30:12-14 dengan
menyisipkan aneka tanggapan dan frasanya sendiri. Di dalam nas Perjanjian Lama,
kata -"nya" di dalam pertanyaan mengenai siapa yang akan naik atau
siapa yang akan menyeberang untuk mengambil-"nya" bagi manusia,
mengacu kepada perintah untuk "mengasihi Tuhan, Allahmu." Perintah
Allah inilah yang ada di dalam hati dan diucapkan oleh mulut orang Israel
itu. 6, 7. Tetapi Paulus mengambil kalimat dalam Ulangan itu dan
memakainya untuk soal kebenaran yang diperoleh karena iman. Paulus mengaitkan
masalah naik dan menyeberang itu dengan soal naik dan turunnya
Kristus. 8. Ucapan yang ada di mulut dan dalam hati ialah firman
iman yang kami beritakan. Paulus tidak mengatakan bahwa Musa di dalam
kitab Ulangan menubuatkan bahwa kebenaran akan diperoleh melalui iman. Yang
dikatakan Paulus ialah, "Kebenaran karena iman berkata demikian"
(10:6). Kesesuaian dua perjanjian tersebut ditunjukkan oleh fakta bahwa kebenaran
ini ternyata demikian cocok dengan kalimat di Perjanjian Lama itu.
III.
Kesimpulan/Aplikasi
Ucapan Paulus ini dapat mengandung dua arti. Pertama, Tuhan Yesuslah sebenarnya tujuan Taurat sebab hanya Ia telah memenuhi tuntutan Taurat dengan sempurna. Kedua, karena itu Ia menggenapi Taurat. Bukan lagi Taurat jalan untuk orang berharap diselamatkan, tetapi iman kepada-Nya saja jalan keselamatan. Kenyataan itu tidak perlu dipersoalkan lagi. Sebab Yesus Kristus nyata-nyata sudah datang menjadi manusia, mati dan bangkit. Mempertanyakan ulang fakta itu seolah orang yang ingin mencoba menjelajahi jurang tak terukur yang telah dijembatani Kristus (ayat 7).
Iman di hati,
pengakuan di mulut. Keduanya tak dapat dipisahkan. Berseru (memanggil dalam
doa) hanya dapat dilakukan oleh orang yang percaya (ayat 14). Percaya yang
sungguh akan terungkap dalam pengakuan di mulut. Israel telah menerima berita
keselamatan melalui para rasul, dan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama
menunjuk kepada Kristus. Namun mereka tidak percaya. Sayang Israel tak dapat
berseru kepada Kristus karena mereka menolak Kristus. Seluruh umat manusia
terancam binasa dalam murka Allah. Semua suku bangsa, setiap orang perlu
mendengarkan Injil. Kita yang telah mengalami kebaikan Yesus, tidakkah tergerak
membawa kabar baik bagi mereka?
Daftar Pustaka
Davidson
F dan Ralph P. Martin, “Tafsiran Roma” dalam Tafsiran Alkitab Masakini,
Yayasan Komunikasi Binakasih/OMF,
Jakarta 1999
Alkitab Sabda, www.alkitabsabda.co.id
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.