Resolusi Tahun Baru bersama Allah
Mazmur 32:5
By : Pdt. T.M Karo
karo,STh,MA
Dosaku
kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata:
“Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku,” dan Engkau
mengampuni kesalahan karena dosaku. (Mazmur 32:5).
Bernostalgia
umumnya terasa mengasyikkan. Khususnya jika yang dikenang adalah saat-saat yang
menyenangkan dalam hidup. Biasanya manusia memerlukan momen tertentu untuk
menandai sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Kenangan akan pengalaman
kesedihan, kegagalan, penolakan, atau kesepian, cenderung ingin kita lupakan. Memang segala hal yang berkaitan
dengan pengalaman yang pahit seringkali ingin kita singkirkan jauh-jauh
Tetapi
di awal sebuah tahun yang baru, ada baiknya kenangan akan peristiwa yang tidak
mengenakkan juga kita ingat dan
renungkan kembali, supaya kita dapat
belajar dari kesalahan yang pernah kita
lakukan dan menjadi lebih berhati-hati untuk tidak jatuh ke dalam
kelalaian yang sama. Memutuskan untuk belajar dari kesalahan adalah juga bentuk
sebuah usaha untuk bertumbuh menjadi lebih baik. Walaupun mungkin pahit,
barangkali hal ini juga merupakan sebuah keterbukaan dan kerendahan hati untuk
bersedia diubahkan dan dibentuk oleh Tuhan supaya kita dapat hidup semakin dekat
dengan Dia, semakin menyerupai Dia, sebagaimana kita temui dalam surat Rasul
Paulus kepada umat di Roma, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia
ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan
manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang
sempurna.” (Roma 12:2). Tak seorangpun dari manusia yang hidup di dunia
ini yang sudah mencapai kesempurnaan. Kita selalu mempunyai sisi-sisi lemah dan
kebiasaan-kebiasaan yang mendatangkan dosa yang perlu untuk diperbaiki.
Pembentukan
karakter iman dan kasih kita kepada
Tuhan adalah satu resolusi yang paling penting dalam kehidupan ini.
Sesungguhnya tidak ada yang lebih penting bagi Tuhan selain pembentukan
karakter kita supaya menjadi semakin kudus dan tak bercela di
hadapan-Nya. Karena adalah kerinduan-Nya agar kita dapat selamanya
bersama dengan Dia dan menikmati cinta kasih-Nya dengan sempurna.
Fokus kepada satu kelemahan untuk diperbaiki
lebih mudah dan memberikan harapan daripada sibuk memikirkan betapa banyaknya kesalahan
yang telah pernah kita buat. Hal itu hanya akan menimbulkan rasa putus asa dan
perasaan malas untuk memulai. Tuhan kita adalah seorang Bapa yang sabar dan
lemah lembut yang selalu mampu melihat kebaikan dan potensi-potensi yang baik
dalam diri setiap anak-Nya betapapun besarnya kesalahan kita, asalkan kita mau
datang kepada-Nya dan bertobat. Sejauh Timur dari Barat, demikian
dijauhkan-Nya pelanggaran kita daripada kita (Mazmur 103 : 12).Yesus pun
mengungkapkan karakter Bapa itu melalui kisah perumpamaan tentang anak yang
hilang di dalam Lukas 15: 11-32.
Kesabaran
dan semangat tidak mudah putus asa sangat penting agar kita selalu mempunyai
harapan untuk bangkit lagi. Kadang kita tidak menyadari bahwa beberapa kebiasaan
kita ternyata membuat diri kita merasa tidak damai dan kita gagal menampilkan wajah Allah yang ada di
dalam diri kita. Sifat dan kebiasaan
seperti merasa diri yang paling tahu, kebiasaan menunda pekerjaan tertentu,
atau iri hati dan kecenderungan menghakimi sesama, biasanya tersamar di
sudut-sudut hati kita yang gelap, dan
kita membutuhkan kerendahan hati untuk
menyerahkannya kepada Allah agar Ia dapat masuk dan membersihkan sudut-sudut
gelap itu. Pemazmur yang selalu rindu untuk bertobat juga mengungkapkannya
sedemikian, “ Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku
dan kenallah pikiran-pikiranku” (Mazmur 139 : 23)
Seringkali
kita tidak mampu dengan kekuatan kita sendiri untuk bangkit dari kebiasaan yang
tidak membangun. Bergantung terus kepada pertolongan Allah yang mampu
melunakkan hati sekeras apapun adalah sangat berkenan kepadaNya, sambil tak
segan-segan mencari pertolongan sesama yang dapat membantu kita, membaca dan
meresapi renungan iman, dan tentu tak jemu-jemu belajar dari Firman-Nya agar
niat baik kita diasah dan dikuatkan dengan kuasa Firman Tuhan. “Dalam segala
keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat
memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan
dan pedang Roh, yaitu firman Allah (Efesus 6 : 16-17).
Sangat
penting bagi kita untuk mengenali kesalahan yang masih berulang-ulang kita
lakukan, serta kebiasaan buruk yang sukar kita tinggalkan, mungkin juga karena
bawaan dari kepribadian. Kewaspadaan kita harus selalu ditingkatkan karena si jahat
sering masuk dari pintu kelemahan kita yang
sudah menjadi kekhasan kita itu untuk
berbuat dosa lagi dan membuat kita semakin merasa terpuruk karena merasa sulit
sekali berubah. Kalau perlu sebisa mungkin kita perlu menghindari waktu, tempat, dan
kesempatan yang membuat kita mudah jatuh
lagi ke dalam dosa yang sama. Allah selalu menyertai kita dan menguatkan kita
untuk tidak menyerah kepada bujukan si jahat. Sesungguhnya kita tak
pernah sendirian dalam berjuang, tinggal apakah kita mau mengklaim penyertaan
Allah itu dengan penuh iman, “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata
Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (Efesus 6 : 11).
Firman
di atas itu juga mengingatkan kita bila
berhadapan dengan sesama yang sulit, bagaimana Allah tetap memandang setiap
orang dengan penuh cinta, belaskasihan, pengampunan serta harapan. Maka kita pun harus belajar memandang sesama kita dengan penuh harapan akan kebaikan, betapapun
sulitnya menemukan kebaikan itu. Tidak perlu kita menyerahkan diri kepada
amarah dan kebencian atau dendam, karena sesama adalah teman-teman seperjuangan
kita yang juga masih berjuang, yang harus kita rangkul untuk melawan musuh kita
yang sesungguhnya…”karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging,
tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan
penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Efesus
6 : 12).
Demikianlah
pemeriksaan batin, pertobatan, dan
pembersihan diri menjadi rutinitas yang indah yang ingin kita lakukan menapaki tahun yang baru ini, agar seluruh jiwa kita sehat dan berkenan
kepada Allah, yang menciptakan setiap dari kita indah, murni, dan berharga
sejak semula. Tugas kita untuk
memelihara kebersihan jiwa kita agar Dia
nyaman bersemayam di dalamnya dan kita mampu menghasilkan buah-buah kasih dan
kehidupan seperti rencana-Nya yang indah bagi setiap anak-anak-Nya.
Selanjutnya
diri kita tentu “tercemar” lagi, dan
tentu kita juga masih akan gagal dan
jatuh lagi, tetapi kita ingat jati diri
kita yang sebenarnya sebagai anak-anak
Tuhan, kita tidak akan menyerah dan
ingin selalu bersemangat untuk terus bergantung kepada Allah dengan kerendahan
dan keterbukaan hati. Menjadi miskin dan rendah di hadapan Allah adalah kekuatan
kita, “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan
dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati,
kelemahlembutan dan kesabaran (Kolose 3 :12). Allah yang Maha
Mencintai, akan selalu menyertai kita. Amin.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.