Thursday, January 29, 2015

BAHAN SERMON MAJELIS/LS/CLS GMI KASIH KARUNIA, MEDAN
JUMAAT  30 JANUARI 2015

Nats Alkitab             : 1 Korintus 9:16-23
Thema                        : “Prinsip Pelayanan”

       I.            Pendahuluan
Dalam bagian ini Paulus memberikan suatu penjelasan tentang “pelayanan”. Dia mengilustrasikan prinsip-prinsip yang baru saja dikemukakan dengan mengacu pada pengalamanya sendiri. Selaku seorang rasul dan seorang yang juga memiliki kebebasan kristiani dia dapat meminta dukungan keuangan dari orang-orang kepada siapa dia memberitakan Injil (ayat 1-14). Akan tetapi sebetulnya dia tidak menggunakan haknya itu untuk memperoloeh keuntungan (15-23). Keputusan semacam ini menuntut adanya disiplin pribadi dan kerelaan untuk hidup sederhana (ayat 24-27). Jemaat di Korintus tentu saja diharapkan untuk menerapkan pelajaran tentang penyangkalan diri.

   II.            Eksegese/Penjelasan Nats

1.      Bagi Paulus tidak ada alasan baginya  untuk memegahkan diri sebagai pemberita Injil. Keharusanlah yang memaksa dia untuk memberitakan Injil kepada orang lain. Ia tak memilih  tugas itu, tetapi Tuhanlah yang menugaskannya. Penyangkalan atas dirinya itu adalah bukti kejujurannya dan jawaban bagi tiap orang yang menuduhnya berambisi mencari uang. Karena bagi dia memberitakan Injil adalan suatu kewajiban, bukan kesenangan pribadi yang boleh dipilih atau tidak. Jadi upahku adalah “aku memberitakan injil tanpa upah”. Inilah sebabnya ia tak mau memanfaatkan sepenuhnya akan haknya dalam Injil.
2.      “ia bebas terhadap semua orang”, dia dalam pelayanan sangat fleksibel, dia tidak menjadikan dirinya kaku dengan norma-norma dan kebiasaan-kebiasaan, sehingga dia mengatakan “aku bisa menjadi hamba semua orang” dalam arti dia bisa melayani semua orang tanpa dibatasi oleh adat dan kebiasaan (Yahudi atau non Yahudi).
3.      Dalam ayat 22-23, kita melihat suatu kesimpulan sikapnya: Dia bersedia bagi semua orang….menjadi segala galanya. Hal ini berarti bahwa dia bukan berbuat tanpa prinsip, tapi hendak mengorbankan kepentingan dan kesenangannya sendiri secara sempurnan, sekalipun kepentingan dan kesenangan itu tidaklah salah, asalkan dengan itu dia dapat menyelamatkan beberapa orang.
III.            Aplikasi
Untuk Aplikasi perikop ini mari kita renungkan dua illustrasi yang saya kutip di bawah ini:
1.      Tiap minggu, seorang perangkai bunga menyiapkan rangkaian bunga untuk dipajang di altar gereja . Gereja hanya memberinya dana secukupnya. Tidak jarang ia harus menombok demi mendapat bunga terbaik. Tak heran, rangkaian bunganya selalu tampak elegan dan berselera tinggi. Dari sudut bisnis, ia rugi. Dengan dana minim, buat apa bersusah payah? Namun, baginya ini merupakan pengabdian, bukan pekerjaan. Rangkaian bunganya adalah persembahan, bukan sekadar barang jualan.
Dalam bekerja, umumnya orang mementingkan hak. Kerja keras harus dibayar dengan upah pantas dan aneka fasilitas. Pengabdian lebih dari itu. Melibatkan loyalitas dan pengorbanan.

2.      Suatu kali seekor gagak membawa sebongkah daging di paruhnya. Sambil terbang di menggigit daging itu. Di bawahnya kancil yang cerdik ikut tergiur dengan daging yang dibawa si gagak. Dia berkata pada si gagak, “Hai, gagak yang gagah! Engkau adalah binatang paling sempurna yang pernah kulihat!” Mendengar pujian si kancil, gagak merasa sangat bangga. Kancil berkata lagi,” Jika saja engkau mau memperdengarkan suaramu yang indah, tentunya aku akan mengakui bahwa engkau memang binatang terhebat di hutan ini!” bujuk Kancil. Karena merasa sangat senang dengan pujian Kancil, gagak ini mulai lengah. Perlahan, mulutnya terbuka dan serta merta jatuhlah daging dari mulutnya. Kancil tidak menyia-nyiakan kesempatan. Diambilnya daging itu lalu kabur. Gagak yang sombong merasa terperdaya dan menyesal karena mudah terlena karena kesombongannya sendiri. Siapa yang tidak suka dengan pujian?
Pujian layak diberikan ketika seseorang sudah melakukan tugas dengan sangat baik. Tapi, ini tidak berlaku pada diri seorang pelayan Tuhan. Setidaknya itu yang Paulus pahami mengenai pelayanan.


Oleh : Pdt. T.M. Karo-karo,STh, MA

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.