BAHAN SERMON MAJELIS/LS/CLS GMI KASIH KARUNIA, MEDAN
JUMAAT 30 JANUARI 2015
Nats Alkitab :
1 Korintus 9:16-23
Thema : “Prinsip Pelayanan”
I.
Pendahuluan
Dalam bagian ini Paulus memberikan suatu penjelasan
tentang “pelayanan”. Dia mengilustrasikan prinsip-prinsip yang baru saja
dikemukakan dengan mengacu pada pengalamanya sendiri. Selaku seorang rasul dan
seorang yang juga memiliki kebebasan kristiani dia dapat meminta dukungan
keuangan dari orang-orang kepada siapa dia memberitakan Injil (ayat 1-14). Akan
tetapi sebetulnya dia tidak menggunakan haknya itu untuk memperoloeh keuntungan
(15-23). Keputusan semacam ini menuntut adanya disiplin pribadi dan kerelaan
untuk hidup sederhana (ayat 24-27). Jemaat di Korintus tentu saja diharapkan
untuk menerapkan pelajaran tentang penyangkalan diri.
II.
Eksegese/Penjelasan Nats
1.
Bagi Paulus
tidak ada alasan baginya untuk
memegahkan diri sebagai pemberita Injil. Keharusanlah yang memaksa dia untuk
memberitakan Injil kepada orang lain. Ia tak memilih tugas itu, tetapi Tuhanlah yang
menugaskannya. Penyangkalan atas dirinya itu adalah bukti kejujurannya dan
jawaban bagi tiap orang yang menuduhnya berambisi mencari uang. Karena bagi dia
memberitakan Injil adalan suatu kewajiban, bukan kesenangan pribadi yang boleh
dipilih atau tidak. Jadi upahku adalah “aku
memberitakan injil tanpa upah”. Inilah sebabnya ia tak mau memanfaatkan
sepenuhnya akan haknya dalam Injil.
2.
“ia bebas
terhadap semua orang”, dia dalam pelayanan sangat fleksibel, dia tidak
menjadikan dirinya kaku dengan norma-norma dan kebiasaan-kebiasaan, sehingga
dia mengatakan “aku bisa menjadi hamba
semua orang” dalam arti dia bisa melayani semua orang tanpa dibatasi
oleh adat dan kebiasaan (Yahudi atau non Yahudi).
3.
Dalam ayat
22-23, kita melihat suatu kesimpulan sikapnya: Dia bersedia bagi semua
orang….menjadi segala galanya. Hal ini berarti bahwa dia bukan berbuat tanpa
prinsip, tapi hendak mengorbankan kepentingan dan kesenangannya sendiri secara
sempurnan, sekalipun kepentingan dan kesenangan itu tidaklah salah, asalkan
dengan itu dia dapat menyelamatkan beberapa orang.
III.
Aplikasi
Untuk Aplikasi perikop ini mari kita renungkan dua
illustrasi yang saya kutip di bawah ini:
1.
Tiap minggu,
seorang perangkai bunga menyiapkan rangkaian bunga untuk dipajang di altar gereja
. Gereja hanya memberinya dana secukupnya. Tidak jarang ia harus menombok demi
mendapat bunga terbaik. Tak heran, rangkaian bunganya selalu tampak elegan dan
berselera tinggi. Dari sudut bisnis, ia rugi. Dengan dana minim, buat apa
bersusah payah? Namun, baginya ini merupakan pengabdian, bukan pekerjaan.
Rangkaian bunganya adalah persembahan, bukan sekadar barang jualan.
Dalam bekerja, umumnya
orang mementingkan hak. Kerja keras harus dibayar dengan upah pantas dan aneka
fasilitas. Pengabdian lebih dari itu. Melibatkan loyalitas dan pengorbanan.
2.
Suatu kali
seekor gagak membawa sebongkah daging di paruhnya. Sambil terbang di menggigit
daging itu. Di bawahnya kancil yang cerdik ikut tergiur dengan daging yang
dibawa si gagak. Dia berkata pada si gagak, “Hai, gagak yang gagah! Engkau
adalah binatang paling sempurna yang pernah kulihat!” Mendengar pujian si
kancil, gagak merasa sangat bangga. Kancil berkata lagi,” Jika saja engkau mau
memperdengarkan suaramu yang indah, tentunya aku akan mengakui bahwa engkau
memang binatang terhebat di hutan ini!” bujuk Kancil. Karena merasa sangat
senang dengan pujian Kancil, gagak ini mulai lengah. Perlahan, mulutnya terbuka
dan serta merta jatuhlah daging dari mulutnya. Kancil tidak menyia-nyiakan
kesempatan. Diambilnya daging itu lalu kabur. Gagak yang sombong merasa
terperdaya dan menyesal karena mudah terlena karena kesombongannya sendiri.
Siapa yang tidak suka dengan pujian?
Pujian layak diberikan
ketika seseorang sudah melakukan tugas dengan sangat baik. Tapi, ini tidak
berlaku pada diri seorang pelayan Tuhan. Setidaknya itu yang Paulus pahami
mengenai pelayanan.
Oleh : Pdt. T.M. Karo-karo,STh, MA
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.