Thursday, March 20, 2014


Hiduplah sebagai anak-anak terang


Bahan Sermon Lay Speaker, Majelis, Jemaat GMI Kasih Karunia
Jumaat 21 Maret 2014
“Hiduplah sebagai anak-anak terang” (τεκνα ψωτος περιπατειτε)
Nats Alkitab :  Efesus 5:8-12

  1. Pejelasan Nats

Efesus merupakan kota pusat bisnis dan  prostitusi pada saat itu, sehingga kehadiran kekristenan diharapkan bisa merubah paling tidak mempengaruhi situasi masyrakat Efesus.
            Paulus mendorong orang Kristen yang ada di Efesus untuk menunjukkan identitas dan status mereka sebagai anak-anak terang, dan itulah yang menjadi pokok utama pembahasan Efesus 5:8-14. Paulus memulai fakta tentang masa lalu dari jemaat yang ada di Efesus dengan mengatakan bahwa sebelumnya mereka adalah kegelapan. Dalam ayat 8 Paulus berkata, “Memang dahulu kamu adalah kegelapan”. Kata “dahulu” menunjuk pada kondisi masa lalu yang telah mereka tinggalkan. Ketika Paulus mengatakan bahwa sebelumnya mereka adalah kegelapan, hal ini bukan untuk mengingat-ingat masa lalu, tetapi untuk menegaskan kembali bahwa itu bukan lagi status dan kehidupan mereka.
            Kata kegelapan yang dalam bahasa Yunani disebut skotos (σκοτος), bukan hanya menunjuk pada kondisi yang gelap tetapi juga status mereka yang gelap serta kontribusi mereka yang menjadikan sekelilingnya menjadi gelap. Dahulu mereka adalah anak-anak gelap yang membawa kegelapan, sehingga orang lain tidak mengetahui jalan yang mereka tempuh, tidak hidup dalam kebenaran dan tidak dapat membedakan mana yang benar dan yang salah. Tetapi Paulus menegaskan, bahwa itu masa lalu dan sudah berlalu, dan sekarang mereka sudah menjadi anak-anak terang.
            Masih dalam ayat 8 Paulus berkata, “…tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.” Kehidupan masa lalu mereka sangat berbeda dengan kehidupan mereka masa kini. Paulus menekankan perubahan status dari anak kegelapan menjadi anak terang di dalam Tuhan. Orang Kristen memiliki status dan identitas yang baru di dalam Tuhan. Setiap orang Kristen harus menyadari status mereka yang baru ini, sehingga mereka mengerti untuk apa mereka hidup dan apa yang harus mereka lakukan dengan status yang baru tersebut.
            Setelah Paulus mengingatkan jemaat di Efesus mengenai status mereka sebagai anak-anak terang, kemudian Paulus mendorong setiap orang Kristen yang ada di Efesus supaya hidup sebagai anak-anak terang. Dengan tegas Paulus berkata dalam ayat 8, “Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.” Paulus mendorong jemaat di Efesus supaya menunjukkan melalui kehidupan mereka bahwa mereka adalah anak-anak terang. Dunia membutuhkan teladan, dan itu harus ditunjukkan oleh orang yang mengaku dirinya sebagai pengikut Kristus.
            Ada tiga hal yang harus dilakukan oleh jemaat di Efesus untuk membuktikan bahwa mereka adalah anak-anak terang, dan ini juga yang harus dilakukan oleh setiap orang Kristen di sepanjang zaman dan dimanapun mereka berada:
  1. Menguji apa yang berkenan kepada Tuhan (ay. 10) (analizing). Kata menguji  mempunyai arti menekankan usaha yang aktif dari setiap orang Kristen untuk mengamati, menganalisa serta memilah dan memilih apa yang berkenan kepada Tuhan.
Sementara kata berkenan berarti  bukan hanya sekedar disetujui atau diterima, tetapi juga harus menyenangkan hati Tuhan. Jadi sebelum kita melakukan suatu tugas dan tindakan, kita tidak hanya bertanya apakah tindakan tersebut salah atau tidak; kita juga tidak hanya bertanya apakah tindakan ini disetujui Tuhan atau tidak, tetapi harus sampai pada pertanyaan, apakah perbuatan ini menyenangkan hati Tuhan atau tidak.
       2.  Langkah yang kedua yang harus dilakukan oleh orang Kristen mengambil keputusan untuk dua hal, yakni:
(a)   keputusan untuk tidak mau turut ambil bagian dalam perbuatan kegelapan, perbuatan yang tercela    dan perbuatan yang mendukakan hati Tuhan.
   (b)   komitmen untuk hanya melakukan apa yang menyenangkan hati Tuhan.

Paulus mengajarkan bahwa menguji apa yang berkenan dan apa yang tidak berkenan di hati Tuhan tidaklah cukup, tetapi harus sampai pada pengambilan keputusan serta memiliki komitmen untuk meninggalkan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Paulus juga menekankan bahwa orang Kristen tidak cukup hanya meninggalkan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan, tetapi juga harus melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan.
            Setelah melakukan langkah yang pertama dan yang kedua, selanjutnya jemaat yang ada di Efesus harus melakukan langkah yang selanjutnya
  1. Berhubungan dengan misi. Dalam ayat 11 Paulus mengatakan supaya jemaat di Efesus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan. Kata menelanjangi mempunyai arti  menegur dengan keras, menyatakan kesalahan ataupun membuktikan bahwa perbuatan kegelapan itu merupakan dosa. Jemaat di Efesus memiliki misi untuk melakukan pembaharuan moral di kota Efesus. Sebagai anak-anak terang, jemaat di Efesus harus berperan secara aktif menolong setiap warga di Efesus supaya mereka menyadari bahwa perbuatan mereka yang hidup dalam kegelapan itu merupakan perbuatan yang merendahkan martabat manusia.

  1. Penerapan Nats

            Telah dijelaskan sebelumnya bahwa kota Efesus bukan hanya kota bisnis tetapi juga kota prostitusi. Mereka tidak menganggap prostitusi sebagai dosa yang memalukan, tetapi menganggapnya sebagai suatu bisnis yang sangat menguntungkan. Bagi para pelacur, praktik prostitusi itu merupakan suatu pekerjaan yang legal. Paulus mendorong jemaat di Efesus untuk menelanjangi kebobrokan moral warga Efesus. Tentunya hal tersebut dilakukan, ketika mereka menunjukkan jati diri mereka sebagi orang Kristen yang hidup dalam terang dan berfungsi sebagai terang.
            Apa yang diajarkan Paulus kepada jemaat di Efesus juga berlaku bagi setiap orang Kristen masa kini. Setiap orang Kristen yang mengakui dirinya sebagai anak-anak terang, harus berperan aktif untuk menelanjangi praktik-praktik kegelapan yang terjadi dalam masyarakat, yang tentunya harus dimulai dari gereja. Ada begitu banyak praktik-praktik kegelapan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat kita. Praktik-praktik kegelapan yang paling menonjol di negara kita adalah suap dan korupsi. Para pakar mengakui bahwa sulitnya pertumbuhan ekonomi di Indonesia diakibatkan oleh korupsi dan suap. Ketika kita berbicara tentang korupsi dan suap, jangan hanya berfokus pada pemimpin atau pejabat Negara. Korupsi dan suap terjadi dalam setiap lapisan, bahkan sampai tingkat yang terendah yaitu tingkat Kelurahan, tingkat RW dan RT.
            Praktik-praktik kegelapan yang lain yang juga sangat menonjol di negara kita ini adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kebejatan moral, seperti prostitusi, pornografi, dan narkoba. Hal ini bukan hanya mempengaruhi orang dewasa tetapi juga telah melanda anak-anak sekolah dari anak SMA sampai anak SMP. Kondisi ini sudah sangat memprihatinkan. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana masa depan bangsa kita dan masa depan anak-anak kita, jika tidak dilakukan penanganan yang serius mengenai pornografi dan narkoba di kalangan anak-anak. Setiap orang Kristen memiliki misi dan tugas untuk menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan ini dan menjadi terang kepada setiap orang, supaya mereka mengerti bahwa apa yang mereka lakukan akan merusak masa depan mereka.
            Bagian terakhir yang sangat penting dari pengajaran Paulus ini terdapat dalam ayat 9 yang berkata, “… karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran”. Paulus mengingatkan jemaat di Efesus, ketika mereka berusaha menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan yang ada di Efesus mereka harus melakukan itu dalam tiga koridor yaitu kebaikan, keadilan dan kebenaran. Setiap orang Kristen yang menegur kesalahan orang lain harus dimotivasi oleh kasih dan tujuannya adalah untuk kebaikan orang lain. Ketika kita menegur kesalahan orang lain harus berlandaskan rasa keadilan. Tingkat teguran yang diberikan kepada orang lain ditentukan oleh tingkat kesalahan. Jangan sampai kesalahan yang kecil dibesar-besarkan, sehingga akan menimbulkan masalah yang lebih besar. Ketika kita menegur orang lain juga harus didasarkan kebenaran. Sebelum melakukan teguran, kita harus mengetahui secara benar duduk persoalan, mengetahui fakta-fakta yang benar dan melakukan teguran secara benar. Ketiga koridor tersebut sangat penting dalam melakukan misi pembaharuan dalam masyarakat, karena hal tersebut sangat menentukan keberhasilan misi kita.

Minggu Lent 21 Maret 2014

Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA


Daftar Bacaan:
    Barclay, William, Pemahaman Alkitab Setiap hari: Galatia, Efesus, hal  239-249 BPK GM, Jakarta 2000
    Martin, Ralp P., Tafsiran Efesus dalam Tafsiran Alkitab Masakini, hal. 599-602,  Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta 1999
    Silalahi, Frans, Hiduplah sebagai anak-anak Terang, ramlyharahap.blogspot.com
           


Sunday, March 16, 2014

PERESMIAN GEDUNG SM, PASTORI, GUEST HOUSE
GMI KASIH KARUNIA, MEDAN

Sampai di sini Tuhan telah menolong kita! GMI Kasih karunia Medan besyukur kepada Tuhan karena telah menyelesaikan pembangunan Gedung Sekolah Minggu, Pastori, dan Guest House. Acara Peresmian dipimpin oleh Bishop Darwis Manurung, STh,MPsi pada minggu 16 Maret 2014.

Acara diawali dengan penyambutan rombongan Bishop oleh Panitia dan warga jemaat dengan pengalungan bunga kepada Bishop dan Ibu Bishop. Pengguntingan pita dilaksanakan oleh Ibu Bishop, Pembukaan selubung prasasti oleh Pimpinan Distrik 2 Wil. I DS Pdt Dr. H. Siagian,MTh, kemudian dilanjutkan dengan Pembukaan kunci bangunan oleh Bishop. Seluruh jemaat memasuki ruangan, acara kebaktian Pentahbisan dipimpin oleh Bishop Darwis Manurung, STh,MPsi; selesai acara pentahbisan peninjauan bangunan oleh Bishop dan rombongan dan seluruh hadirin.

Perlu kami jelaskan bangunan ini terdiri dari 3 lantai, lantai pertama diperuntukkan sebagai Gedung SM dan kantor gereja, lantai dua dua unit Pastori, dan lantai tiga Guest House yang terdiri dari 3 kamar. Dibangunan dengan dana lk. Rp 1,7 M oleh swadaya jemaat GMI KK.

Acara ini dilanjutkan dengan Acara ibadah minggu di gereja dan sekaligus dirangkai dengan acara minggu Sekolah minggu dikemas  dengan apik dan menaruk. Setelah acara Ibadah minggu dilanjutkan dengan acara makan dan acara pesta pengumpulan dana. Sampai berita ini diturunkan dana yang terkumpul sebesar Rp 423.105.000,- Puji Tuhan, segala kemuliaan hanya bagiNya.


Thursday, March 13, 2014

RENCANA PERESMIAN GEDUNG SEKOLAH MINGGU, PASTORI, GUEST HOUSE
GMI KASIH KARUNIA, MEDAN

GMI Kasih Karunia, jalan Hang Tuah 2 Medan, menurut rencana akan mengadakan acara pentahbisan Gedung SM, pastori dan Guest House pada hari Minggu tanggal 16 Maret 2014. Acara peresmian  akan dipimpin oleh Bishop Darwis Manurung, STh, M.Psi. Bangunan tersebut berada di samping GMI Kasih Karunia, Jln Hang Tuah 2 Medan, berlantai tiga: lantai satu Gedung SM, lantai dua Rumah Pastori, lantai tiga Guest House. Bangunan tersebut diperkirakan memakan dana lk. Rp. 1,7 milyard  belum termasuk mobiler dengan sumber dana swadaya warga jemaat GMI Kasih Karunia, jln hang Tuah 2 Medan. Bangunan tersebut dipersembahkan untuk kemuliaan nama Tuhan.


Foto bangunan, tampak depan

Wednesday, February 5, 2014



Khotbah Pada  Pembukaan Kebaktian Sektor Tahun 2014
GMI Kasih Karunia, Jalan Hang Tuah 2, Medan
Evangelium : Yohanes 6:41 -51
Tema : Hidup kekal diperoleh dengan jalan percaya kepada Yesus Kristus


Pendahuluan

Apakah yang terlintas dalam pikiran kita ketika kita ditanya "apakah yang kamu cari dalam hidupmu?" Mungkin sebagian besar orang akan menjawab "kebahagiaan" , namun seringkali kita tidak mengetahui darimana asal atau sumber kebahagiaan itu, dan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Allah telah menyatakan diriNya kepada manusia agar manusia mengerti bahwa Allah begitu memperdulikan mereka- Kedatangan Yesus ke dunia adatah bukti terbesar akan kasih Allah kepada manusia, namun keberadaanNya sering tidak dihiraukan bahkan ada sebagian orang yang tidak menerimaNya. Allah adalah satu-satunya sumber hidup, sumber sukacita, dan kebahagiaan yang kekal (keselamatan) inilah yang ingin Yesus nyatakan dalam kedatanganNya melalui pelayanan hidup, pengajaran dan pengorbananNya di kayu salib.Bagaimana dengan kita, apakah kita termasuk telah menemukan fokus utama tujuan kita yaitu kebahagiaan yang kekal yaitu hidup bersama Allah dalam kekekalan?Atau jangan-jangan sebaliknya, kita telah memfokuskan hidup kita untuk mencari yang sia-sia?Mencari hidup duniawi yang sifatnya hanya sementara? 

Penjelasan Nas

Pada perikop sebelumnya sebelum nas ini disebutkan banyak orang yang mencari Yesus.Ada bermacam-macam motivasi orang datang kepada Yesus. Ada yang hanya sekedar ikut- ikutan, ada yang hanya ingin melihat tanda-tanda mujizat yang Ia perbuat, bahkan yang lebih memprihatinkan adalah mereka datang hanya karena roti (makanan duniawi) hal inilah yang terjadi pada konteks nas ini. Yesus mengupas 'harapan yang salah' diantara mereka tentang Yesus.Mereka mencari 'roti' tetapi tidak nampak tanda ajaib, Artinya yang mereka utamakan adalah berkat duniawi, kemakmuran dalam arti politik. Kalau mereka sungguh-sungguh ingin mengikut Yesus, haruslah mereka lakukan 'pekerjaan Allah', artinya menyerahkan diri kepada Dia dengan penuh kepercayaan tetapi orang banyak itu tidak menyetujuiNya. Mereka membandingkan Musa dengan Yesus, lalu kata mereka tanda ajaib yang diperbuatan oleh Yesus tidak sebesar yang diperbuat oleh Musa.Musa mengaruniakan roti ("manna") dari surga itu suatu tanda ajaib yang tiada taranya bagi mereka.Lalu Yesus menceritakan adanya roti yang sesungguhnya dari sorga, lalu mereka meminta roti itu. 

Yesus menegaskan maksudnya di ayat 35 dengan perkataan "Akulah roti hidup", Yesus menerangkan bahwa Dialah Manna yang sejati. Ia bukanlah memberi manna, tetapi Dia  sendirilah Manna itu. la telah turun dari sorga. Karena itu bukan kehendakNya sendiri yang dilakukanNya, melainkan kehendak BapaNya yang di sorga.Dan kehendak Bapa itu ialah "supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman". Mendengar itu makin tidak percayalah mereka lalu bersungut-sungut (ay- 41,42).

Orang banyak itu bersungut-sungut disebabkan oleh pengenalan mereka akan Yesus hanyalah dari kriteria kemanusiaanNya. Mereka hanya mengenal Yesus sebagai anak Yusuf, dari Nazareth, dan sebagainya. Sehingga dengan pengenalan yang demikian mereka menuduh para pengikut Yesus keterlaluan dalam pengenalan akan Yesus sebagai Firman yang menjadi manusia. Namun Yesus menghardik mereka dengan mengatakan: 'Jangan kamu bersungut- sungut!" Hardikan dan tegoran ini tujuannya adalah untuk mengajak semua orang bagaimana seharusnya dan semestinya mengenal Yesus yang sebenarnya, agar tidak terlalu berpolemik dan beradu argumentasi iman dalam usaha mengenal Yesus yang adalah Roti Surga.Perkataan Yesus itu agar orang Yahudi tidak bersungut-sungut adalah tegoran dan jawaban kepada orang Yahudi atas reaksi dan penolakan orang Yahudi setelah Yesus berbicara kepada mereka bahwa diriNya adalah roti hidup dan roti yang telah turun dari sorga di Kapernaum dalam Bait Allah.Penolakan dari kelompok orang Yahudi pada Yesus karena ketidakmengertian mereka yang hanya melihat Yesus hanya secara lahiriah saja, mengingat mereka hanya mengenal sepenuhnya bahwa Yesus adalah putra dari Yusuf seorang tukang kayu dari Nazaret. Orang Yahudi berpendapat, bagaimana mungkin Yesus telah mengatakan bahwa Ia telah turun dari Sorga? Penolakan orang Yahudi kepada Yesus adalah kegagalan mereka serta kesalahan besar dari mereka karena mereka sangat sulit atau tidak mengerti bahwa anak tukang kayu menjadi utusan dari Allah bagi hidup manusia. 

Yesus menjelaskan kepada mereka bahwa tidak ada orang yang dapat datang kepada Yesus, jikalau tidak dibawa oleh Bapa. Supaya dapat percaya kepada Yesus, harus terjadi perubahan total dalam hati seseorang yang dilakukan oleh Allah Bapa. Tetapi bagi orang percaya maka jelaslah kepadanya bahwa Yesus ialah 'roti hidup'. Roti itu lebih dari baik dari manna, karena orang yang makart dari roti itu akan hidup untuk selama-lamanya. Bukan maksudnya kita menjadi manusia kanibal karena memakan daging Yesus, karena Yesus mengatakan bahwa roti yang Ia berikan itu adalah dagingNya.(ay.51) Tetapi maksudnya adalah supaya kita percaya kepada Yesus yang telah rnemberikan tubuhNya (dagingNya) untuk menebus kita agar terlepas dari belenggu dosa dan memperoleh keselamatan. Makan roti hidup, yaitu roti hidup yang telah turun dari sorga membuat orang yang memakannya tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berkarya dalam hidup.Roti hidup itu menghantar orang yang memakannya hingga ke akhir hidup yang mengalahkan maut. 

Renungan

Pada masa sekarang ini, banyak orang yang "hidup untuk makan" bukan "makan untuk hidup".Juga banyak orang yang memfokuskan diri mencari makanan duniawi dibandingkan makanan rohani.Ada juga tipe orang hanya mencari Yesus ketika pergumulan dan persoalan menimpa hidupnya. Setelah ia lepas dari pergumulannya tidak lagi datang kepada Yesus bahkan mengucap syukur pun tidak. Ia datang kepada Yesus hanya ketika ia membutuhkannya. Banyak juga kita lihat yang disebut Kristen 'Tomat' hari Minggu tobat, Senin sampai Sabtu kumat, atau Kristen kapal selam yang sebentar timbul, sebentar tenggelam, yang hanya muncul di gereja pada saat hari-hari besar gereja misalnya, pada saat ada Baptisan, Naik Sidi (Malua), Perjamuan Kudus, Paskah, Natal atau karena ada acarc pesta Gereja, misalnya: Pesta Panen, Pesta Pembangunan Gereja.

Yesus sendiri mengatakan "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh. 145).Artinya hanya dari Yesuslah kita bisa mendapatkan roti yang benar dari surga yang memberikan kita hidup yang kekal.Manna memang menyelamatkan bangsa Israel dari kematian karena kelangkaan makanan.Kematian badani memang dapat dicegah dengan datangnya manna, tetapi kematian rohani masih tetap merajalela.Demikian juga halnya dengan yang terjadi pada saat ini.Tidak ada satu pun sumber kekuatan di muka bumi ini yang dapat memberikan kita hidup yang kekal. Hanya Yesuslah satu-satunya yang dapat memberikannya- Karena itu tidak ada pilihan lain, jika kita mengarahkan tujuan hidup kita kepada kebahagiaan yang sejati yaitu hidup kekal bersama Yesus, percayalah dengan sepenuh hati kepadaNya. Kita bersyukur dan berterimakasih, karena Tuhan telah memberikan roti untuk kelangsungan hidup kita dalam mempertahankan hidup yang diberikanNya kepada kita.Tanpa roti maka hidup kita ini tidak bisa berlanjut.Hidup yang sebenarnya adalah hidup dalam hubungan yang baru dengan Allah.Hubungan yang baru itu adalah hubungan kepercayaan, ketaatan, dan kasih dan hubungan seperti itu hanya dimungkinkan oleh Yesus Kristus.Lepas dari Yesus Kristus tidak seorangpun yang bisa memasuki hubungan baru itu. Dengan kata lain, tanpa Yesus, kita memang ada tetapi tidak hidup. Oleh karena itu, kalau Yesus adalah esensi hidup kita, maka Ia adalah Roti Hidup, untuk itu barang siapa makan daripadaNya, ia tidak akan mati melainkan beroleh hidup selamalamanya, dan roti yang diberikan Tuhan adalah dagingNya yang telah diberikanNya bagi dunia ini. Ketika kita merasa lapar maka kita akan makan agar kita memiliki tenaga untuk meneruskan hidup kita. Maka agar kita memiliki kekuatan menghadapi segala tantangan hidup, kuat menghadapi segala pergumulan dan persoalan-persoalan yang ada, percayalah kepada Yesus yang senantiasa akan memberikan kita kekuatan itu sehingga kita bisa sampai kepada kehidupan kekal bersama Tuhan. Amen


Sunday, January 12, 2014

Khotbah Minggu 29 Desember 2013
GMI Kasih Karunia, Jln. Hang Tuah 2 Medan
MATIUS 2:13-23
By: Pdt. T.M. karo-karo, STh,MA
I) Herodes.
1)   Mau membunuh Yesus.
a)   Mula-mula ia menggunakan orang Majus (ay 8), tetapi ketaatan orang Majus pada Firman Tuhan (ay 12) menggagalkan rencana pembunuhan Herodes ini, dan ini menyebabkan ia merasa tertipu (ay 16).
b)   Usaha selanjutnya ialah membunuh semua anak-anak di Betle­hem yang berusia dibawah 2 tahun (ay 16). Ini tidak berarti bahwa pada saat itu Yesus sudah berusia mendekati 2 tahun. Pasti Yesus masih berusia jauh di bawah 2 tahun, tapi Herodes, yang tidak tahu kapan persisnya bayi Yesus itu dilahirkan, lalu mengambil amannya dan mengambil batas 2 tahun.
Apa yang dilakukan oleh Herodes di sini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Firaun dalam Kel 1:15-22. Baik Herodes maupun Firaun adalah orang-orang yang melawan Allah dan berusaha menggagalkan rencana Allah.Tetapi merekalah yang gagal (bdk. Maz 2:1-4) karena rencana Allah tidak mungkin gagal (Ayub 42:2  Yes 14:24,26-27  Yes 46:10-11).
2)   Kematian Herodes (ay 19).
a)   Pada waktu Herodes mau mati, ia menangkapi tokoh-tokoh Yahudi dan memenjarakan mereka. Dan ia memberi perintah untuk membunuh mereka semua pada saat ia mati. Ia melakukan hal ini karena ia tahu bahwa tidak ada orang yang akan berkabung pada waktu ia mati. Dengan adanya perintah ini, pada waktu ia mati akan ada orang-orang yang berkabung, sekalipun bukan untuk kematiannya, tetapi setidaknya pada saat kematiannya.
Tetapi pada waktu ia mati, perintah ini tidak dilaksana­kan.
b)   Bagaimanapun juga, setiap orang harus mati dan mempertanggung-jawabkan perbuatannya dihadapan Tuhan.
Siapkah saudara untuk mati? Ingat bahwa kalau saudara belum mempunyai Yesus sebagai Juruselamat saudara, saudara tidak siap untuk menghadap Tuhan! Karena itu jangan menunda untuk percaya dan ikut Yesus!
II) Penderitaan karena Herodes.
Ada 2 golongan yang mengalami penderitaan akibat tindakan Herodes ini:
1)   Ibu dari bayi-bayi yang dibunuh (ay 17-18).
2)   Yusuf, Maria dan Yesus.
a)   Mereka harus mengungsi ke Mesir dan hidup di negeri asing / kafir.
Pengungsian ini tidak diceritakan dalam Injil Lukas, tetapi seharusnya kira-kira terletak di sela-sela Luk 2:39.
b)   Setelah kematian Herodespun, mereka tidak terbebas dari penderitaan, karena ternyata Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan ayahnya (ay 22).
Kedua golongan ini menghadapi penderitaan dengan cara yang berbeda:
1)   Ibu dari bayi-bayi yang dibunuh.
a)   Mereka sedih dan menangis (ay 18).
Banyak orang Kristen menyalahkan orang menangis dalam keadaan apapun berdasarkan Fil 4:4 dan Ro 8:28. Tetapi dalam Kitab Suci kita melihat bahwa:
·        Yesus juga pernah sedih dan menangis (Mat 26:37-38  Yoh 11:33-35).
·        Paulus berkata bahwa kita harus menangis dengan orang yang menangis (Ro 12:15b).
Ini menunjukkan bahwa ada situasi dimana kesedihan dan tangisan bisa dibenarkan.
b)   Mereka hanya / terus-menerus menujukan pandangannya pada penderitaan mereka (ay 18: ‘mereka tidak ada lagi’).
Ini hal yang salah dari para ibu itu. Tidak salah kalau mereka sedih dan menangis pada waktu bayi mereka dibunuh, tetapi kalau mereka terus menerus menujukan pandangannya pada hal yang membuat mereka sedih, maka kesedihan mereka menjadi berlarut-larut, dan ini merupakan sikap yang salah.
c)   Mereka tidak mau dihibur (ay 18).
Ini sikap yang sama seperti sikap Yakub pada waktu mengira bahwa Yusuf sudah mati diterkam binatang buas (Kej 37:35), dan ini lagi-lagi merupakan sikap yang salah.
Pada waktu sedih, saudara bukan saja tidak boleh menolak penghiburan, tetapi sebaliknya saudara harus mencari penghiburan! Tetapi juga perlu diperhatikan supaya saudara tidak mencari hiburan yang tidak benar, seperti hal-hal duniawi, dsb.Ini hanya penghiburan yang bersifat semu dan sementara. Carilah hiburan dari Firman Tuhan, orang kris­ten / hamba Tuhan yang rohani dsb. Dengan demikian saudara tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan saudara.
2)   Yusuf.
a)   Dalam penderitaan ia tetap mendengar Firman Tuhan dan mentaatinya (ay 13-15,20-21).
Allah menyuruh dia lari ke Mesir. Yusuf mempunyai alasan yang kuat untuk memprotes cara yang ‘lemah’ itu. Bukankah Anak yang dilahirkan Maria itu disebut sebagai Juruselamat (Mat 1:21)? Lalu mengapa Juruselamat itu tidak bisa menye­lamatkan mereka, bahkan Juruselamat itu harus diselamatkan dengan cara yang begitu ‘lemah’ yaitu melarikan diri? Bukankah pada masa yang lalu Allah sering menyelamatkan umatNya dengan cara-cara yang spektakuler / luar biasa, seperti membelah Laut Merah (Kel 14:15-31), membutakan orang kafir yang mau menangkap nabiNya (2Raja 6:8-23), menurunkan api dari langit untuk membakar orang-orang yang mau menangkap nabiNya (2Raja 1:1-12), dsb? Mengapa sekarang, untuk menyelamatkan AnakNya sendiri, Allah menggunakan cara yang begitu ‘lemah’? Tetapi sekalipun ada alasan untuk protes, Yusuf tidak melakukan itu dan ia taat kepada Tuhan.
Penerapan:
Pada waktu saudara minta tolong kepada Tuhan, saudara tidak boleh mendikte Dia dengan cara apa Ia harus menolong saudara. Biarlah Ia yang memilih dan menentukan caraNya dan saudara harus percaya bahwa cara yang diberi­kan itu adalah yang terbaik. Misalnya pada waktu saudara sakit, janganlah menentukan bahwa Tuhan harus menyembuhkan saudara dengan menggunakan cara yang luar biasa, yaitu dengan menggunakan mujijat kesembuhan. Tuhan bisa menggunakan cara yang biasa, yaitu melalui dokter, obat, olah raga, istirahat, dsb.
Illustrasi: ada suatu tempat yang terkena banjir yang hebat. Seorang kristen naik ke atas atap rumahnya dan berdoa supaya Tuhan menyelamatkan dia. Sebentar lagi datang sebuah perahu, dan orang-orang di perahu mengajak­nya naik perahu untuk menyelamatkan diri. Tetapi ia meno­lak naik perahu itu dan berkata: ‘Aku sudah berdoa kepada Tuhan dan Ia pasti akan menolong aku’. Perahu itu pergi, dan sebentar lagi datang sebuah perahu yang lain yang mau menolong dia. Tetapi ia lagi-lagi menolak dengan alasan / jawaban yang sama. Sebentar lagi datang sebuah helikopter yang menurunkan tali untuk menolongnya. Tetapi ia lagi-lagi menolak sambil berkata: ‘Aku sudah berdoa kepada Tuhan, dan Ia pasti akan menolong aku’. Banjir itu terus naik, dan akhirnya orang itu mati tenggelam. Pada waktu menghadap Tuhan, orang itu dengan penasaran bertanya kepada Tuhan: ‘Tuhan, aku berdoa supaya Engkau menyelamatkan aku. Mengapa Engkau tidak menyelamatkan aku?’. Tuhan lalu berkata: ‘Apa maksudmu Aku tidak menyelamatkan kamu? Aku mengirim 2 buah perahu dan sebuah helikopter, tetapi engkau menolak untuk Kuselamat­kan!’.
Orang ini menganggap cara yang biasa bukanlah dari Tuhan. Karenanya ia menolak pertolongan dengan cara yang biasa itu, dan ia mengharapkan Tuhan menggunakan cara yang luar biasa, seperti mengirim malaikat, dsb. Akhirnya ia mati karena kebodohannya!
b)   Yusuf taat secara langsung (ay 14 - ‘malam itu juga’).
Penerapan:
Jangan menunda untuk mentaati Firman Tuhan! Penundaan adalah ketidaktaatan! Ingat juga bahwa setan selalu bisa memberikan alasan yang kuat dan logis supaya saudara menunda ketaatan saudara! Misalnya dalamn hal melayani Tuhan.Pada masa pemuda / remaja, setan mengusulkan supaya saudara menunda pelayanan dengan alasan bahwa ini adalah masa muda yang indah, masa pacaran, masa belajar dsb.Pada waktu saudara sudah dewasa dan bekerja, setan memberikan begitu banyak kesibukan sehingga saudara menunda lagi.Pada saat sudah tua, kesehatan saudara tidak memungkinkan untuk melayani Tuhan. Jadi akhirnya, dari penundaan datang pembatalan!
c)   Yusuf taat terus-menerus (ay 13-15,19).
Ketaatan yang sejati harus disertai ketekunan.
Penerapan:
·        Tuhan menyuruh saudara belajar Firman Tuhan. Tekunkah saudara dalam belajar?Tekunkah saudara dalam datang ke Pemahaman Alkitab di gereja saudara?Tekunkah saudara dalam membaca Alkitab / bersaat teduh?
·        Tuhan menyuruh saudara untuk memberitakan Injil. Apakah kegagalan dalam memberitakan Injil, atau kesukaran yang timbul karena pekabaran Injil yang saudara lakukan, membuat saudara lalu berhenti dalam mengabarkan Injil? Tuhan menghendaki saudara mentaati perintah untuk mem­beritakan Injil ini dengan tekun!
·        Tuhan menyuruh saudara berdoa, memuji Dia, bersyukur kepadaNya, dsb. Apakah saudara melakukan hal-hal ini dengan tekun?
d)   Yusuf menggunakan akal sehat dan Firman Tuhan (ay 22).
Akal sehatnya membuat ia takut pergi ke Yudea karena ia tahu akan kekejaman Arkhelaus yang tidak kalah dengan kekejaman ayahnya (Herodes yang Agung). Dan ia lalu menuruti pimpi­nan Firman Tuhan dan pergi ke Nazaret di Galilea (ay 22-23).
Penerapan:
Pada umumnya kita harus menggunakan akal sehat / logika. Tetapi kadang-kadang, Tuhan bisa menyuruh kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat, misalnya pada waktu Ia menyuruh Petrus untuk berjalan di atas air (Mat 14:28-29). Pada saat seperti itu, kita harus tunduk pada Firman Tuhan, bukan pada akal sehat / logika kita!
III) Tujuan Tuhan dengan penderitaan.
Di atas Herodes dan pen­deritaan yang dialami orang-orang tadi  ada Tuhan yang menguasai segala sesuatu. Kalau Ia mengijinkan adanya orang seperti Herodes menyebabkan penderitaan kepada orang-orang lain, termasuk anak-anakNya, Ia pasti mempunyai tujuan tertentu. Apa tujuan Tuhan?
·        ay 14: Yusuf, Maria dan Yesus menderita. Apa tujuannya? Ay 15 memberikan jawabnya, yaitu supaya nubuat dalam Hos 11:1 tergenapi.
·        ay 16: bayi-bayi dibunuh sehingga ibu bayi-bayi itu mende­rita. Apa tujuannya? Ay 17-18 memberikan jawabnya, yaitu supaya nubuat dalam Yer 31:15 tergenapi.
·        ay 22: Arkhelaus menjadi raja sehingga Yusuf menderita lagi karena tidak berani pulang. Apa tujuannya? Ay 23 memberikan jawabnya, yaitu supaya Firman yang disampaikan nabi-nabi tergenapi.
Jadi dari semua ini kita bisa lihat bahwa Allah pasti mempun­yai tujuan yang baik pada waktu Ia mengijinkan anak-anakNya menderita. Bandingkan dengan Ro 8:28 yang berbunyi: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.