Wednesday, February 5, 2014



Khotbah Pada  Pembukaan Kebaktian Sektor Tahun 2014
GMI Kasih Karunia, Jalan Hang Tuah 2, Medan
Evangelium : Yohanes 6:41 -51
Tema : Hidup kekal diperoleh dengan jalan percaya kepada Yesus Kristus


Pendahuluan

Apakah yang terlintas dalam pikiran kita ketika kita ditanya "apakah yang kamu cari dalam hidupmu?" Mungkin sebagian besar orang akan menjawab "kebahagiaan" , namun seringkali kita tidak mengetahui darimana asal atau sumber kebahagiaan itu, dan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Allah telah menyatakan diriNya kepada manusia agar manusia mengerti bahwa Allah begitu memperdulikan mereka- Kedatangan Yesus ke dunia adatah bukti terbesar akan kasih Allah kepada manusia, namun keberadaanNya sering tidak dihiraukan bahkan ada sebagian orang yang tidak menerimaNya. Allah adalah satu-satunya sumber hidup, sumber sukacita, dan kebahagiaan yang kekal (keselamatan) inilah yang ingin Yesus nyatakan dalam kedatanganNya melalui pelayanan hidup, pengajaran dan pengorbananNya di kayu salib.Bagaimana dengan kita, apakah kita termasuk telah menemukan fokus utama tujuan kita yaitu kebahagiaan yang kekal yaitu hidup bersama Allah dalam kekekalan?Atau jangan-jangan sebaliknya, kita telah memfokuskan hidup kita untuk mencari yang sia-sia?Mencari hidup duniawi yang sifatnya hanya sementara? 

Penjelasan Nas

Pada perikop sebelumnya sebelum nas ini disebutkan banyak orang yang mencari Yesus.Ada bermacam-macam motivasi orang datang kepada Yesus. Ada yang hanya sekedar ikut- ikutan, ada yang hanya ingin melihat tanda-tanda mujizat yang Ia perbuat, bahkan yang lebih memprihatinkan adalah mereka datang hanya karena roti (makanan duniawi) hal inilah yang terjadi pada konteks nas ini. Yesus mengupas 'harapan yang salah' diantara mereka tentang Yesus.Mereka mencari 'roti' tetapi tidak nampak tanda ajaib, Artinya yang mereka utamakan adalah berkat duniawi, kemakmuran dalam arti politik. Kalau mereka sungguh-sungguh ingin mengikut Yesus, haruslah mereka lakukan 'pekerjaan Allah', artinya menyerahkan diri kepada Dia dengan penuh kepercayaan tetapi orang banyak itu tidak menyetujuiNya. Mereka membandingkan Musa dengan Yesus, lalu kata mereka tanda ajaib yang diperbuatan oleh Yesus tidak sebesar yang diperbuat oleh Musa.Musa mengaruniakan roti ("manna") dari surga itu suatu tanda ajaib yang tiada taranya bagi mereka.Lalu Yesus menceritakan adanya roti yang sesungguhnya dari sorga, lalu mereka meminta roti itu. 

Yesus menegaskan maksudnya di ayat 35 dengan perkataan "Akulah roti hidup", Yesus menerangkan bahwa Dialah Manna yang sejati. Ia bukanlah memberi manna, tetapi Dia  sendirilah Manna itu. la telah turun dari sorga. Karena itu bukan kehendakNya sendiri yang dilakukanNya, melainkan kehendak BapaNya yang di sorga.Dan kehendak Bapa itu ialah "supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman". Mendengar itu makin tidak percayalah mereka lalu bersungut-sungut (ay- 41,42).

Orang banyak itu bersungut-sungut disebabkan oleh pengenalan mereka akan Yesus hanyalah dari kriteria kemanusiaanNya. Mereka hanya mengenal Yesus sebagai anak Yusuf, dari Nazareth, dan sebagainya. Sehingga dengan pengenalan yang demikian mereka menuduh para pengikut Yesus keterlaluan dalam pengenalan akan Yesus sebagai Firman yang menjadi manusia. Namun Yesus menghardik mereka dengan mengatakan: 'Jangan kamu bersungut- sungut!" Hardikan dan tegoran ini tujuannya adalah untuk mengajak semua orang bagaimana seharusnya dan semestinya mengenal Yesus yang sebenarnya, agar tidak terlalu berpolemik dan beradu argumentasi iman dalam usaha mengenal Yesus yang adalah Roti Surga.Perkataan Yesus itu agar orang Yahudi tidak bersungut-sungut adalah tegoran dan jawaban kepada orang Yahudi atas reaksi dan penolakan orang Yahudi setelah Yesus berbicara kepada mereka bahwa diriNya adalah roti hidup dan roti yang telah turun dari sorga di Kapernaum dalam Bait Allah.Penolakan dari kelompok orang Yahudi pada Yesus karena ketidakmengertian mereka yang hanya melihat Yesus hanya secara lahiriah saja, mengingat mereka hanya mengenal sepenuhnya bahwa Yesus adalah putra dari Yusuf seorang tukang kayu dari Nazaret. Orang Yahudi berpendapat, bagaimana mungkin Yesus telah mengatakan bahwa Ia telah turun dari Sorga? Penolakan orang Yahudi kepada Yesus adalah kegagalan mereka serta kesalahan besar dari mereka karena mereka sangat sulit atau tidak mengerti bahwa anak tukang kayu menjadi utusan dari Allah bagi hidup manusia. 

Yesus menjelaskan kepada mereka bahwa tidak ada orang yang dapat datang kepada Yesus, jikalau tidak dibawa oleh Bapa. Supaya dapat percaya kepada Yesus, harus terjadi perubahan total dalam hati seseorang yang dilakukan oleh Allah Bapa. Tetapi bagi orang percaya maka jelaslah kepadanya bahwa Yesus ialah 'roti hidup'. Roti itu lebih dari baik dari manna, karena orang yang makart dari roti itu akan hidup untuk selama-lamanya. Bukan maksudnya kita menjadi manusia kanibal karena memakan daging Yesus, karena Yesus mengatakan bahwa roti yang Ia berikan itu adalah dagingNya.(ay.51) Tetapi maksudnya adalah supaya kita percaya kepada Yesus yang telah rnemberikan tubuhNya (dagingNya) untuk menebus kita agar terlepas dari belenggu dosa dan memperoleh keselamatan. Makan roti hidup, yaitu roti hidup yang telah turun dari sorga membuat orang yang memakannya tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berkarya dalam hidup.Roti hidup itu menghantar orang yang memakannya hingga ke akhir hidup yang mengalahkan maut. 

Renungan

Pada masa sekarang ini, banyak orang yang "hidup untuk makan" bukan "makan untuk hidup".Juga banyak orang yang memfokuskan diri mencari makanan duniawi dibandingkan makanan rohani.Ada juga tipe orang hanya mencari Yesus ketika pergumulan dan persoalan menimpa hidupnya. Setelah ia lepas dari pergumulannya tidak lagi datang kepada Yesus bahkan mengucap syukur pun tidak. Ia datang kepada Yesus hanya ketika ia membutuhkannya. Banyak juga kita lihat yang disebut Kristen 'Tomat' hari Minggu tobat, Senin sampai Sabtu kumat, atau Kristen kapal selam yang sebentar timbul, sebentar tenggelam, yang hanya muncul di gereja pada saat hari-hari besar gereja misalnya, pada saat ada Baptisan, Naik Sidi (Malua), Perjamuan Kudus, Paskah, Natal atau karena ada acarc pesta Gereja, misalnya: Pesta Panen, Pesta Pembangunan Gereja.

Yesus sendiri mengatakan "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh. 145).Artinya hanya dari Yesuslah kita bisa mendapatkan roti yang benar dari surga yang memberikan kita hidup yang kekal.Manna memang menyelamatkan bangsa Israel dari kematian karena kelangkaan makanan.Kematian badani memang dapat dicegah dengan datangnya manna, tetapi kematian rohani masih tetap merajalela.Demikian juga halnya dengan yang terjadi pada saat ini.Tidak ada satu pun sumber kekuatan di muka bumi ini yang dapat memberikan kita hidup yang kekal. Hanya Yesuslah satu-satunya yang dapat memberikannya- Karena itu tidak ada pilihan lain, jika kita mengarahkan tujuan hidup kita kepada kebahagiaan yang sejati yaitu hidup kekal bersama Yesus, percayalah dengan sepenuh hati kepadaNya. Kita bersyukur dan berterimakasih, karena Tuhan telah memberikan roti untuk kelangsungan hidup kita dalam mempertahankan hidup yang diberikanNya kepada kita.Tanpa roti maka hidup kita ini tidak bisa berlanjut.Hidup yang sebenarnya adalah hidup dalam hubungan yang baru dengan Allah.Hubungan yang baru itu adalah hubungan kepercayaan, ketaatan, dan kasih dan hubungan seperti itu hanya dimungkinkan oleh Yesus Kristus.Lepas dari Yesus Kristus tidak seorangpun yang bisa memasuki hubungan baru itu. Dengan kata lain, tanpa Yesus, kita memang ada tetapi tidak hidup. Oleh karena itu, kalau Yesus adalah esensi hidup kita, maka Ia adalah Roti Hidup, untuk itu barang siapa makan daripadaNya, ia tidak akan mati melainkan beroleh hidup selamalamanya, dan roti yang diberikan Tuhan adalah dagingNya yang telah diberikanNya bagi dunia ini. Ketika kita merasa lapar maka kita akan makan agar kita memiliki tenaga untuk meneruskan hidup kita. Maka agar kita memiliki kekuatan menghadapi segala tantangan hidup, kuat menghadapi segala pergumulan dan persoalan-persoalan yang ada, percayalah kepada Yesus yang senantiasa akan memberikan kita kekuatan itu sehingga kita bisa sampai kepada kehidupan kekal bersama Tuhan. Amen


Sunday, January 12, 2014

Khotbah Minggu 29 Desember 2013
GMI Kasih Karunia, Jln. Hang Tuah 2 Medan
MATIUS 2:13-23
By: Pdt. T.M. karo-karo, STh,MA
I) Herodes.
1)   Mau membunuh Yesus.
a)   Mula-mula ia menggunakan orang Majus (ay 8), tetapi ketaatan orang Majus pada Firman Tuhan (ay 12) menggagalkan rencana pembunuhan Herodes ini, dan ini menyebabkan ia merasa tertipu (ay 16).
b)   Usaha selanjutnya ialah membunuh semua anak-anak di Betle­hem yang berusia dibawah 2 tahun (ay 16). Ini tidak berarti bahwa pada saat itu Yesus sudah berusia mendekati 2 tahun. Pasti Yesus masih berusia jauh di bawah 2 tahun, tapi Herodes, yang tidak tahu kapan persisnya bayi Yesus itu dilahirkan, lalu mengambil amannya dan mengambil batas 2 tahun.
Apa yang dilakukan oleh Herodes di sini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Firaun dalam Kel 1:15-22. Baik Herodes maupun Firaun adalah orang-orang yang melawan Allah dan berusaha menggagalkan rencana Allah.Tetapi merekalah yang gagal (bdk. Maz 2:1-4) karena rencana Allah tidak mungkin gagal (Ayub 42:2  Yes 14:24,26-27  Yes 46:10-11).
2)   Kematian Herodes (ay 19).
a)   Pada waktu Herodes mau mati, ia menangkapi tokoh-tokoh Yahudi dan memenjarakan mereka. Dan ia memberi perintah untuk membunuh mereka semua pada saat ia mati. Ia melakukan hal ini karena ia tahu bahwa tidak ada orang yang akan berkabung pada waktu ia mati. Dengan adanya perintah ini, pada waktu ia mati akan ada orang-orang yang berkabung, sekalipun bukan untuk kematiannya, tetapi setidaknya pada saat kematiannya.
Tetapi pada waktu ia mati, perintah ini tidak dilaksana­kan.
b)   Bagaimanapun juga, setiap orang harus mati dan mempertanggung-jawabkan perbuatannya dihadapan Tuhan.
Siapkah saudara untuk mati? Ingat bahwa kalau saudara belum mempunyai Yesus sebagai Juruselamat saudara, saudara tidak siap untuk menghadap Tuhan! Karena itu jangan menunda untuk percaya dan ikut Yesus!
II) Penderitaan karena Herodes.
Ada 2 golongan yang mengalami penderitaan akibat tindakan Herodes ini:
1)   Ibu dari bayi-bayi yang dibunuh (ay 17-18).
2)   Yusuf, Maria dan Yesus.
a)   Mereka harus mengungsi ke Mesir dan hidup di negeri asing / kafir.
Pengungsian ini tidak diceritakan dalam Injil Lukas, tetapi seharusnya kira-kira terletak di sela-sela Luk 2:39.
b)   Setelah kematian Herodespun, mereka tidak terbebas dari penderitaan, karena ternyata Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan ayahnya (ay 22).
Kedua golongan ini menghadapi penderitaan dengan cara yang berbeda:
1)   Ibu dari bayi-bayi yang dibunuh.
a)   Mereka sedih dan menangis (ay 18).
Banyak orang Kristen menyalahkan orang menangis dalam keadaan apapun berdasarkan Fil 4:4 dan Ro 8:28. Tetapi dalam Kitab Suci kita melihat bahwa:
·        Yesus juga pernah sedih dan menangis (Mat 26:37-38  Yoh 11:33-35).
·        Paulus berkata bahwa kita harus menangis dengan orang yang menangis (Ro 12:15b).
Ini menunjukkan bahwa ada situasi dimana kesedihan dan tangisan bisa dibenarkan.
b)   Mereka hanya / terus-menerus menujukan pandangannya pada penderitaan mereka (ay 18: ‘mereka tidak ada lagi’).
Ini hal yang salah dari para ibu itu. Tidak salah kalau mereka sedih dan menangis pada waktu bayi mereka dibunuh, tetapi kalau mereka terus menerus menujukan pandangannya pada hal yang membuat mereka sedih, maka kesedihan mereka menjadi berlarut-larut, dan ini merupakan sikap yang salah.
c)   Mereka tidak mau dihibur (ay 18).
Ini sikap yang sama seperti sikap Yakub pada waktu mengira bahwa Yusuf sudah mati diterkam binatang buas (Kej 37:35), dan ini lagi-lagi merupakan sikap yang salah.
Pada waktu sedih, saudara bukan saja tidak boleh menolak penghiburan, tetapi sebaliknya saudara harus mencari penghiburan! Tetapi juga perlu diperhatikan supaya saudara tidak mencari hiburan yang tidak benar, seperti hal-hal duniawi, dsb.Ini hanya penghiburan yang bersifat semu dan sementara. Carilah hiburan dari Firman Tuhan, orang kris­ten / hamba Tuhan yang rohani dsb. Dengan demikian saudara tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan saudara.
2)   Yusuf.
a)   Dalam penderitaan ia tetap mendengar Firman Tuhan dan mentaatinya (ay 13-15,20-21).
Allah menyuruh dia lari ke Mesir. Yusuf mempunyai alasan yang kuat untuk memprotes cara yang ‘lemah’ itu. Bukankah Anak yang dilahirkan Maria itu disebut sebagai Juruselamat (Mat 1:21)? Lalu mengapa Juruselamat itu tidak bisa menye­lamatkan mereka, bahkan Juruselamat itu harus diselamatkan dengan cara yang begitu ‘lemah’ yaitu melarikan diri? Bukankah pada masa yang lalu Allah sering menyelamatkan umatNya dengan cara-cara yang spektakuler / luar biasa, seperti membelah Laut Merah (Kel 14:15-31), membutakan orang kafir yang mau menangkap nabiNya (2Raja 6:8-23), menurunkan api dari langit untuk membakar orang-orang yang mau menangkap nabiNya (2Raja 1:1-12), dsb? Mengapa sekarang, untuk menyelamatkan AnakNya sendiri, Allah menggunakan cara yang begitu ‘lemah’? Tetapi sekalipun ada alasan untuk protes, Yusuf tidak melakukan itu dan ia taat kepada Tuhan.
Penerapan:
Pada waktu saudara minta tolong kepada Tuhan, saudara tidak boleh mendikte Dia dengan cara apa Ia harus menolong saudara. Biarlah Ia yang memilih dan menentukan caraNya dan saudara harus percaya bahwa cara yang diberi­kan itu adalah yang terbaik. Misalnya pada waktu saudara sakit, janganlah menentukan bahwa Tuhan harus menyembuhkan saudara dengan menggunakan cara yang luar biasa, yaitu dengan menggunakan mujijat kesembuhan. Tuhan bisa menggunakan cara yang biasa, yaitu melalui dokter, obat, olah raga, istirahat, dsb.
Illustrasi: ada suatu tempat yang terkena banjir yang hebat. Seorang kristen naik ke atas atap rumahnya dan berdoa supaya Tuhan menyelamatkan dia. Sebentar lagi datang sebuah perahu, dan orang-orang di perahu mengajak­nya naik perahu untuk menyelamatkan diri. Tetapi ia meno­lak naik perahu itu dan berkata: ‘Aku sudah berdoa kepada Tuhan dan Ia pasti akan menolong aku’. Perahu itu pergi, dan sebentar lagi datang sebuah perahu yang lain yang mau menolong dia. Tetapi ia lagi-lagi menolak dengan alasan / jawaban yang sama. Sebentar lagi datang sebuah helikopter yang menurunkan tali untuk menolongnya. Tetapi ia lagi-lagi menolak sambil berkata: ‘Aku sudah berdoa kepada Tuhan, dan Ia pasti akan menolong aku’. Banjir itu terus naik, dan akhirnya orang itu mati tenggelam. Pada waktu menghadap Tuhan, orang itu dengan penasaran bertanya kepada Tuhan: ‘Tuhan, aku berdoa supaya Engkau menyelamatkan aku. Mengapa Engkau tidak menyelamatkan aku?’. Tuhan lalu berkata: ‘Apa maksudmu Aku tidak menyelamatkan kamu? Aku mengirim 2 buah perahu dan sebuah helikopter, tetapi engkau menolak untuk Kuselamat­kan!’.
Orang ini menganggap cara yang biasa bukanlah dari Tuhan. Karenanya ia menolak pertolongan dengan cara yang biasa itu, dan ia mengharapkan Tuhan menggunakan cara yang luar biasa, seperti mengirim malaikat, dsb. Akhirnya ia mati karena kebodohannya!
b)   Yusuf taat secara langsung (ay 14 - ‘malam itu juga’).
Penerapan:
Jangan menunda untuk mentaati Firman Tuhan! Penundaan adalah ketidaktaatan! Ingat juga bahwa setan selalu bisa memberikan alasan yang kuat dan logis supaya saudara menunda ketaatan saudara! Misalnya dalamn hal melayani Tuhan.Pada masa pemuda / remaja, setan mengusulkan supaya saudara menunda pelayanan dengan alasan bahwa ini adalah masa muda yang indah, masa pacaran, masa belajar dsb.Pada waktu saudara sudah dewasa dan bekerja, setan memberikan begitu banyak kesibukan sehingga saudara menunda lagi.Pada saat sudah tua, kesehatan saudara tidak memungkinkan untuk melayani Tuhan. Jadi akhirnya, dari penundaan datang pembatalan!
c)   Yusuf taat terus-menerus (ay 13-15,19).
Ketaatan yang sejati harus disertai ketekunan.
Penerapan:
·        Tuhan menyuruh saudara belajar Firman Tuhan. Tekunkah saudara dalam belajar?Tekunkah saudara dalam datang ke Pemahaman Alkitab di gereja saudara?Tekunkah saudara dalam membaca Alkitab / bersaat teduh?
·        Tuhan menyuruh saudara untuk memberitakan Injil. Apakah kegagalan dalam memberitakan Injil, atau kesukaran yang timbul karena pekabaran Injil yang saudara lakukan, membuat saudara lalu berhenti dalam mengabarkan Injil? Tuhan menghendaki saudara mentaati perintah untuk mem­beritakan Injil ini dengan tekun!
·        Tuhan menyuruh saudara berdoa, memuji Dia, bersyukur kepadaNya, dsb. Apakah saudara melakukan hal-hal ini dengan tekun?
d)   Yusuf menggunakan akal sehat dan Firman Tuhan (ay 22).
Akal sehatnya membuat ia takut pergi ke Yudea karena ia tahu akan kekejaman Arkhelaus yang tidak kalah dengan kekejaman ayahnya (Herodes yang Agung). Dan ia lalu menuruti pimpi­nan Firman Tuhan dan pergi ke Nazaret di Galilea (ay 22-23).
Penerapan:
Pada umumnya kita harus menggunakan akal sehat / logika. Tetapi kadang-kadang, Tuhan bisa menyuruh kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat, misalnya pada waktu Ia menyuruh Petrus untuk berjalan di atas air (Mat 14:28-29). Pada saat seperti itu, kita harus tunduk pada Firman Tuhan, bukan pada akal sehat / logika kita!
III) Tujuan Tuhan dengan penderitaan.
Di atas Herodes dan pen­deritaan yang dialami orang-orang tadi  ada Tuhan yang menguasai segala sesuatu. Kalau Ia mengijinkan adanya orang seperti Herodes menyebabkan penderitaan kepada orang-orang lain, termasuk anak-anakNya, Ia pasti mempunyai tujuan tertentu. Apa tujuan Tuhan?
·        ay 14: Yusuf, Maria dan Yesus menderita. Apa tujuannya? Ay 15 memberikan jawabnya, yaitu supaya nubuat dalam Hos 11:1 tergenapi.
·        ay 16: bayi-bayi dibunuh sehingga ibu bayi-bayi itu mende­rita. Apa tujuannya? Ay 17-18 memberikan jawabnya, yaitu supaya nubuat dalam Yer 31:15 tergenapi.
·        ay 22: Arkhelaus menjadi raja sehingga Yusuf menderita lagi karena tidak berani pulang. Apa tujuannya? Ay 23 memberikan jawabnya, yaitu supaya Firman yang disampaikan nabi-nabi tergenapi.
Jadi dari semua ini kita bisa lihat bahwa Allah pasti mempun­yai tujuan yang baik pada waktu Ia mengijinkan anak-anakNya menderita. Bandingkan dengan Ro 8:28 yang berbunyi: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.


Sunday, December 22, 2013

Thema: “Insan yang berharga bagi Tuhan” (Yesaya 60:15-22)
Sub Thema: “Kelahiran Yesus memulihkan hubungan manusia dengan Allah dan pemulihan itu akan mengangkat harkat dan martabat manusia”
by : Rev. T.M. Karo-karo,STh,MA
Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di ladang  pemiliknya. Ketika ia mendekati kandang kuda, ia mendengar  binatang besar itu memanggilnya. Kata kuda itu, "Kamu pasti masih baru di sini. Tak lama lagi kamu akan tahu bahwa pemilik ladang ini mencintai  saya lebih dari binatang lainnya sebab saya telah mengangkut  banyak barang untuknya. Saya kira seekor binatang sekecil kamu  tidak akan bernilai sama sekali baginya."
Anjing kecil itu menundukkan kepalanya dan segera pergi ketika dia  mendengar seekor sapi di kandang sebelah berkata, "Saya adalah  binatang yang paling terhormat di sini sebab nyonya di sini membuat keju dan mentega dari susu saya, kamu tentu tidak berguna bagi keluarga di sini." Teriak seekor domba, "Hai sapi, kedudukanmu tidak lebih tinggi  dari saya, saya memberi mantel bulu kepada pemilik ladang ini,  saya memberi kehangatan kepada seluruh keluarga. Tapi mengenai anjing itu, pendapatmu benar, dia tidak memberi apa-apa kepada pemilik ladang ini." Satu persatu binatang di situ ikut serta dalam percakapan itu,  sambil menceritakan betapa tingginya kedudukan mereka di ladang  itu. Ayampun berkata bagaimana ia telah memberi telur dan kucing,  yang terkenal karena kecepatannya, mengatakan bagaimana ia  mengenyahkan tikus-tikus dari rumah itu. Semua binatang itu  sepakat bahwa anjing kecil itu tidak memberi apa-apa kepada keluarga itu.
 Terpukul oleh kecaman binatang-binatang lain, anjing kecil itu  pergi ke tempat sepi dan mulai menangis. Ada seekor anjing tua di  situ mendengar tangisan tersebut, lalu mendengarkan cerita anjing  kecil itu. "Saya tidak memberi pelayanan kepada keluarga di sini..." Kata anjing tua itu, "Memang benar bahwa kamu terlalu kecil untuk  menarik pedati, dan kamu tidak akan bisa memberi telur, susu atau bulu. Tapi bodoh sekali bila kamu menangisi sesuatu yang tidak bisa kamu  lakukan. Kamu harus menggunakan kemampuan yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk membawa kegembiraan" Malam itu ketika pemilik ladang baru pulang dan tampak lelah  karena perjalanan jauh di tengah terik matahari, anjing kecil itu  lari menghampirinya, menjilat kakinya dan melompat ke pelukannya.  Sambil menjatuhkan diri ke tanah, pemilik ladang itu memeluk dia  erat-erat dan mengelus-elus kepalanya serta berkata, "Meskipun  saya pulang dalam keadaan lelah, tapi saya merasa semuanya hilang  bila kamu menyambut saya, kamu sungguh paling berharga diantara semua binatang di ladang ini."
Demikian juga halnya dengan anak-anak Tuhan sekarang ini, merasa dirinya tidak berharaga cuma karena dirinya tidak bisa melakukan perkara-perkara yang besar menurut penilaian dunia. Cuma karena mereka tidak bisa berkhotbah seperti pengkhotbah terkenal atau tidak mempunyai karunia kesembuhan /mujizat, mereka merasa dirinya tak bernilai di hadapan Tuhan. 
Puji Tuhan ternyata Tuhan melihat kita begitu berharga.
Dalam Yesaya 43:4 dikatakan bahwa bangsa Israel begitu berharga di mata Tuhan.
Yes 43:4  Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.
Demikian juga dengan Tuhan Yesus  yang menilai manusia (orang percaya) lebih berharga  dari burung pipit dan domba.
Pada kesempatan ini kita akan belajar tentang faktor-faktor yang menentukan nilai seseorang di hadapan Tuhan.
I.  SIAPA YANG MEMILIKI ORANG TERSEBUT

Dalam perjanjian Baru , Paulus mengatakan bahwa kita telah dibeli dan dibayar dengan lunas.
1Kor 6:20  Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!
1Kor 7:23  Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.
Dengan telah dibeli dan ditebusnya kita, itu berarti bahwa kita adalah milik Yesus. Dan karena kita dimiliki oleh Yesuslah makanya kita menjadi begitu berharga. Sebelumnya kita hanyalah seonggok tanah liat yang tidak bernilai sama sekali, namun karena kita telah dibeli dengan darah yang mahal makanya kita menjadi begitu bernilai di hadapan Tuhan.
Pernah terjadi dalam sebuah lelang di mana barang-barang seseorang yang terkenal dilelang dan mencapai harga yang begitu tinggi, jauh melebihi harga semestinya.
Bagaimana mungkin kursi goyang yang harganya $3,000 bisa laku $453,000. Sebuah mobil bekas yang ditaksir bernilai $18,000 laku dilelang seharga $79,500. Gelas biasa yang ditaksir bernilai $500 ternyata bisa laku seharga $38,000. Sebuah kalung yang bernilai $700 bisa laku $211,500 atau mengalami peningkatan 302.000% dari harga normal! Sudah bayar sedemikian mahal, mereka masih mengucapkan beribu-ribu terima kasih. Gila, bukan? Tetapi semua kegilaan itu bisa dimaklumi karena barang-barang yang dilelang tersebut adalah milik Jacqueline Kennedy Onassis. Yang membuat barang-barang tersebut laku mahal tentu saja bukan karena barang itu sendiri, tetapi karena siapa yang memilikinya.

Selain itu ada juga gitar yang harganya mungkin Cuma beberapa puluh atau beberapa ratus juga , setelah dilelang bisa mencapai harga 20 milyar rupiah. Gitar-gitar itu dibeli oleh seorang pangeran dari timur tengah. Gitar tersebut dibeli dengan harga yang begitu mahal, cuma karena gitar tersebut adalah milik John Lennon dan Elthon John.
Bukankah ini hal yang gila, nilai barang tersebut melonjak bebarapa kali lipat Cuma karena siapa yang memiliki barang tersebut. Demikian juga halnya dengan kita. Nilai kita melonjak jauh ketika kita dimiliki oleh Yesus Kristus. Kita yang tadinya hanyalah sampah, kita diangkat menjadi anak-anak yang dikasihi-Nya. Sekarang kita dipandang berharga di mata-Nya. Sama seperti barang-barang lelangan tersebut, hidup kita sungguh berharga. Yang membuat kita berharga karena Dia yang memiliki kita, kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.

Ada dua kebenaran yang bisa kita petik melalui renungan hari ini. Pertama, jangan pernah sombong sebab yang membuat kita bernilai dan berharga bukan karena diri kita, tapi karena Tuhan. Kedua, ketika kita depresi karena merasa tidak berharga, ingatlah bahwa nilai kita ditentukan oleh Tuhan Yesus. Dia bersedia membayar dengan darah yang mahal hanya untuk menyelamatkan kita. Kita begitu berharga dan bernilai. Jangan pernah memiliki cara pandang yang miskin tentang diri kita sendiri.

Miliki rasa percaya diri, bukan karena diri kita, tetapi karena Tuhan Yesus yang memiliki kita. Hidup kita berharga bukan karena diri kita sendiri tapi karena Dia yang memiliki kita. " Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus ... bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal ... "(1 Petrus 1 : 18 - 19)

II. CARA DAN LAMANYA PROSES PENEMPAAN

Yeremia 18:4  Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.
Yeremia menggambarkan bahwa manusia itu seperti tanah liat dalam tangan seorang penjunan. Dalam hal ini penjunan tersebut tentulah Allah sendiri. Seorang penjunan akan membuat bejana dari tanah liat yang sama dengan harapan tanah liat yang tak bernilai tadi bisa menjadi suatu karya seni yang bernilai tinggi tentunya.Bahkan seorang penjunan akan melakukan secara berulang-ulang sampai bejana tersebut menjadi bejana yang sempurna dalam pemandangannya.(Yer 18:1-6)

Dengan demikian proses penempaan itu sendiri adalah sebuah upaya meningkatkan harga suatu barang. Barang yang tadinya tidak atau kurang bernilai diproses menjadi suatu barang yang mempunyai nilai yang tinggi.

Suatu saat sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik "Lihat cangkir itu, sebuah cangkir yang indah sekali" kata si nenek  kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk pujian dan perhatiannya, cuma perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak tidaklah indah dan secantik ini. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang penjunan  yang mencangkulku, menyiramku dengan air, setelah itu ia mengncurkan aku dengan cara memasukan aku dalam mesin penghancur tanah dan setelah lembut, dengan tangan kotor membentuk aku diatas sebuah alat yang bisa berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku sambil membentuk aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai berulang-ulang. Stop ! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja menekanku, tanpa menghiraukan teriakanku. Setelah terbetuk pikirku penderitaanku akan segera berakhir, tetapi ternyata belum. Ternyata aku harus dikeringkan dulu, aku diangin-anginkan selama beberapa minggu setelah itu aku dijemur untuk mengeluarkan kadar air yang ada dalam tubuhku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi.Tapi orang ini berkata "belum !" Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya ! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku.
Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.
Saudara, seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Ia membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi Allah untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan Allah. Allah mengubah kita dari tidak bernilai menjadi sesuatu karya yang bernilai tinggi.Dengan demikian proses penempaan atau pembentukan adalah cara Tuhan membuat saudara dan saya sempurna dan berharga di mata-Nya.

P.B Meyer asal Inggris pernah memberikan sebuah ilustrasi sebagai berikut:
Sepotong besi dengan harga Rp 25.000,-
-          Kalau ditempa atau dibentuk menjadi tapal kuda (sepatu kuda) akan menjadi seharga Rp 50.000)
-          Kalau ditempa atau dibentuk menjadi jarum, harganya naik menjadi Rp 175.000)
-          Kalu ditempa atau dibentuk menjadi pisau silet, harganya akan menjadi berlipat ganda menjadi Rp 1.625.000)
-          Kalau ditempa atau dibentuk menjadi jarum penunjuk arloji Rolex, harganya melonjak lagi menjadi Rp 1.250.000.000.
Setiap tampaan atau pembentukan terhadap besi tersebut, meningkatkan nilai jualnya. Lebih banyak ditempa, dipukul, dibakar, maka nilai jualnya semakin tinggi.
Demikian juga dengan kita orang percaya, semakin lama dan semakin banyak kita ditempa dan kita merespon dengan benar penempaan itu, tanpa kita sadari hal itu akan meningkatkan nilai kita.

III.   KETAATAN DAN KESETIAAN SESEORANG
Ketaatan dan kesetian kita menentukan nilai kita.Jika seseorang setia  dan taat maka ia akan menjadi property kesayangan Tuhan.
Salomo mengatakan bahwa ketaatan dan kesetiaan yang nampak dalam kelakuan dan perbuatan yang baik, membuat seseorang begitu berharga melampaui harga emas perak dan permata.
Amsal 22:1  Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.
Ams 20:15  Sekalipun ada emas dan permata banyak, tetapi yang paling berharga ialah bibir yang berpengetahuan.
Ams 31:10  Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.
Demikian juga halnya dengan Paulus. Ia menggambarkan bahwa dalam rumah yang besar banyak perabot, ada yang terbuat dari emas dan perak  ada pula yang terbuat dari kayu dan tanah. Perabot-perabot tersebut dibuat dengan bahan yang berbeda dan dengan tujuan yang  berbeda.
2Tim 2:20  Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.
Namun demikian, seseorang bisa menjadi perabot yang dipakai untuk tujuan yang mulia dengan cara” menyucikan diri dari hal-hal yang jahat” .
2Tim 2:21  Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.
Dengan demikian, ini berarti bahwa ada bagian kita dalam menentukan nilai. Ketaatan kita terhadap Tuhan dan Firman-Nya dengan cara menjauhi kejahatan adalah faktor yang menentukan sekali nilai kita baik dalam pandangan manusia maupun dalam pandangan Tuhan.
Ada legenda seekor anjing yang setia menemani tuannya, Prof. Dr. Elisaburo Ueno, guru besar di Universitas Tokyo. Awalnya, Hachiko, anjing itu diajak mengantar dan menjemput tuannya di sebuah stasiun kereta api. Setiap hari, Hachiko selalu menunggu dengan setia kedatangan profesor. Suatu saat, tahun 1925, sang profesor tidak muncul di stasiun kereta karena meninggal di tempat mengajar. Namun Hachiko, dengan kesetiaan luar biasa tetap menanti hingga tengah malam. Keesokannya, lusa, dan bahkan dikisahkan seterusnya selama 10 tahun, ia terus menunggu. Suatu saat, Hachiko tertabrak dan mati seketika. Kisah ini sangat mengharukan masyarakat Jepang sehingga mereka mengabadikannya dengan mendirikan patung anjing.
Bisa jadi Hachiko bukan anjing yang mahal awalnya, ia hanyalah anjing kampung namun karena kesetiannya kepada tuannya ia menjadi begitu bernilai, sampai dibuatkan sebuah patung khusus untuk mengenang kesetiaannya. Seandainya Hachiko hidup dalam jaman sekarang ini tentu akan dihargai dengan harga yang sangat mahal kalau dilelang. Pertanyaannya apakah yang membuat nilainya melambung tinggi??, jawabannya adalah ketaatan dan kesetiaannya terhadap tuannya.
Demikian juga dengan orang percaya. Meskipun kita telah dibeli oleh darah yang mahal, namun kita harus menjaganya dengan taat dan setia terhadap Tuhan dan Firman-Nya. Namun demikian bukan karena kita bernilai tinggi makanya kita dibeli mahal, tapi karena kita dibeli mahal makanya kita bernilai tinggi. Selanjutnya kita harus taat dan setia terhadap Tuhan yang telah membeli kita guna mempertahankan nilai kita di hadapan Tuhan.

IV.   APA YANG ADA DALAM SAUDARA
Dengan demikian nilai manusia sesungguhnya bukan terletak pada casingnya yang merupakan bejana tanah liat yang tak berarti, tapi pada harta di dalamnya. Orang percaya seperti peti harta karun yang terdapat harta yang tak ternilai harganya.
Ini menjadi suatu penghiburan sejati bagi kita, mungkin casing kita jelek, kurus, pendek, kudisan yang penting apa harta yang ada dalamnya. Kalau di dalam kita ada harta yang tak ternilai maka kita adalah sesuatu yang bernilai tinggi.
Selain itu Alkitab juga menegaskan bahwa di dalam kita ada Roh Kudus. Roh yang memberi kita kuasa dan kemampuan untuk memberitaan injil.
Roh yang ada dalam kitalah yang membuat kita berharga, karena tanpa Roh Kudus itu kita sama saja dengan bejana yang tak bernilai. Tapi Roh kudus menjadikan kita bernilai tinggi dan berharga.
Inilah cara pandang yang harus dimengerti oleh anak-anak Tuhan. Nilai kita bukan karena casingnya tapi isinya. Kalau isinya Firman Tuhan (injil) dan Roh Kudus niscaya saudara dan saya bukan bejana tanah liat biasa tapi sebuah bejana tanah liat yang luar bisa,
Pada umumnya dunia akan menghargai manusia dari casing (paras dan mukanya), tapi Tuhan melihat dan menghargai apa yang ada dalam hati.


Saturday, December 21, 2013

Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
Sehkata br Sembiring
Anak-anak:
1. Konstantinus karo-karo
2. Andarios karo-karo
3. Gloria  Santa Clara br Karo

Mengucapkan: 

 Selamat Hari Natal  25 Desember 2013
                                                              & 
                                           Tahun Baru 01 Januari 2014.
Ringkasan Khotbah Minggu 22 Desember 2013
Matius 1:18-25
KELAHIRAN YESUS KRISTUS
by: Rev. T.M. Karo-karo, STh,MA

Melalui Matius 1:18-25, ada tiga perkara penting yang harus selalu kita ingat saat merayakan Natal:

1.      Natal berbicara tentang Allah yang peduli dengan manusia
Dunia ini telah menjadi dunia yang egois, sehingga sulit menemukan orang yang peduli dengan orang lain. Akibatnya, dunia ini terasa kacau, hidup lebih menyakitkan, karena masing-masing orang hanya peduli pada kepentingan dan kesenangannya  sendiri. Oleh sebab itu, ada jurang yang semakin tajam dalam hidup ini: yang kaya semakin bertambah kaya, dan yang miskin semakin ditekan sehingga semakin miskin.
Kekristenan yang sejati tidak mementingkan diri sendiri. Alkitab berkata “pergi dan jadikan sekalian bangsa muridKu”, secara kekristenan itu memang berbicara tentang penginjilan, tetapi secara sosial, itu berbicara bagaimana Allah mengajarkan kita untuk peduli dengan orang lain.

2.      Allah unik dalam jalanNya
Allah kita unik dalam jalanNya, dengan kata lain jalanNya sulit untuk kita pahami. Kita memang tidak percaya bahwa Allah beranak dan punya anak, tetapi yang kita percayai yakni bahwa Allah telah turun menjadi manusia, dan di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehNya manusia dapat beroleh keselamatan selain di dalam nama Yesus.
Allah unik dalam jalanNya, sehingga kita tidak tahu sampai kapan, tidak tahu mengapa, dan tidak tahu bagaimana. Tetapi kita tahu, bahwa rencanaNya pasti akan digenapi dalam hidup kita. Itulah mengapa kita tidak berkecil hati. Di balik keunikan jalanNya, Allah membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang tidak pernah gagal, dan tidak pernah mempermalukan orang yang berharap kepadaNya.

3.      Kasih Allah belum lengkap tanpa respon manusia
Memang, Allah memberitahukan semuanya kepada Yusuf. Tetapi Yusuf tidak akan menerima dan mengalami segala sesuatu jika dia tidak meresponinya. Artinya, tidak hanya Allah yang berbuat, tetapi Yusuf juga perlu melakukan sesuatu. Allah tidak membutuhkan siapapun yang tidak mau meresponiNya. Alah tidak membutuhkan seseorang karena kebesaran atau kehebatannya, melainkan seseorang yang mau meresponiNya.

Kasih Allah belum lengkap tanpa respon manusia. Kasih Allah yang sepihak itu harus menjadi kasih yang lengkap ketika kita meresponiNya. Allah telah melakukan segalanya untuk kita, dan waktu kita meresponi kasihNya, di sana kita bisa melihat indahnya kuasa Natal. Mungkin, ada banyak hal baik yang belum terjadi dalam hidup kita, karena kita tidak meresponiNya. Karena Yusuf mau meresponi, maka Yusuf melihat pertolongan Tuhan, Ketaatan akan selalu mendatangkan hasil bagi orang percaya.

Dalam kisah yang dicatat Matius di perikop ini lebih menceritakan mengenai pergumulan seorang manusia bernama Yusuf dalam menanggapi rencana besar Allah bagi manusia. Beberapa kali Matius menekankan bahwa peristiwa kelahiran Yesus ini adalah karya Allah Roh Kudus dan pesan ini pun disampaikan malaikat Tuhan kepada Yusuf. Dengan kata lain penulis kitab berusaha mengajak kita melihat bahwa semua proses kelahiran Yesus tidak lepas dari campur tangan Allah, bukan hanya kepada Maria, tetapi juga kepada Yusuf yang mendapat pesan khusus melalui sebuah mimpi. Allah menggunakan malaikat sebagai pengantara untuk menyampaikan pesan kepada Yusuf agar jangan menceraikan Maria. Bahkan kelahiran Yesus ini pun sudah direncanakan Allah jauh pada zaman sebelum mereka, dan sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Dengan demikian jelaslah bahwa Allah sudah mempersiapkan rencana keselamatan bagi manusia sejak lama, bahkan sejak manusia jatuh dalam dosa (Kej.3:15). Dalam menggenapkan rencanaNya, Allah memakai orang-orang tertentu, baik itu para nabi di zaman PL, Yohanes Pembaptis yang hidup di antara zaman PL dan PB, hingga yang terdekat melalui Yusuf dan Maria. Masing-masing pribadi ada peranan secara khusus, bahkan termasuk para malaikat sebagai pembawa berita. Yusuf dan Maria memainkan peran yang Allah percayakan kepada mereka dengan ketundukan pada rencana Allah. Yusuf dan Maria mau dipakai Allah dan itu ditunjukkan melalui ketaatan mereka dan kesediaan mereka untuk menjalani hidup seperti yang Allah tentukan bagi mereka, walau ada risiko atau kesulitan yang harus dihadapi karena ketaatan tersebut. Namun Yusuf tidak melarikan diri, melainkan percaya bahwa Anak itu adalah Imanuel. Hingga hari ini Allah masih bekerja menggenapkan pekerjaanNya melalui manusia-manusia, diantaranya adalah kita. Sediakah kita menjadi orang kepercayaan Allah? Orang kepercayaan yang tetap setia mengerjakan kehendak Allah dengan taat, bahkan ketika ada risiko/kesulitan yang kita hadapi? Menjelang  peringatan Natal, mari merenungkan dan mengambil tindakan atas pertanyaan: Apa yang akan kita lakukan bagi Allah untuk menunjukkan kepadaNya bahwa kita adalah orang yang dapat dipercayaiNya?

Tuhan ingin kita juga memiliki hidup yang taat kepada Firman Tuhan. Tuhan ingin kita seperti Yusuf mencintai Firman Tuhan, menggumuli dan melakukannya dalam hidup. Ketaatan kita kepada Firman Tuhan akan membentuk karakter hidup kita semakin lama semakin baik, menjadikan kita bijaksana dalam hidup dan bahkan membuat kita menjadi berkat bagi orang lain. Ketaatan kita kepada Firman Tuhan akan memproses hidup kita semakin berkualitas dan memuliakan Dia. Persoalannya, sudahkah Firman Tuhan mengubahkan hidup kita? Atau Firman Tuhan hanya penghias bibir kita; hanya menambah pengetahuan kita. Apakah Firman Tuhan sudah kita praktekkan dalam hidup kita. Seberapa banyak Firman Tuhan mengubahkan hidup kita. Atau kita di gereja mengangguk-angguk tetapi setelah keluar dari gereja kita lupa dengan apa yang kita iyakan di dalam gereja?

Pada waktu Yusuf hendak melaksanakan rencanaNya itu, ternyata Malaikat Tuhan datang berbicara kepada Yusuf lewat mimpi. Tuhan mencegah niat Yusuf untuk menceraikan tunangannya itu. Sebelumnya, Yusuf sama sekali tidak tahu rencana keselamatan dari Tuhan. Itu sebabnya, melalui mimpi Tuhan berfirman kepada Yusuf bahwa anak dalam kandungan Maria itu berasal dari Roh Kudus. Anak dalam kandungan yang kelak disebut Yesus itu sedang menjalankan misi penebusan bagi dosa manusia. Maria dan Yusuf dilibatkan dalam misi itu. Oleh sebab itu Yusuf diperintahkan untuk mengambil Maria sebagai istrinya.

Sebenarnya perintah dari Tuhan bukanlah hal yang gampang bagi Yusuf. Ia bisa saja tidak MENTAATI PERINTAH TUHAN ITU. Pertama, peristiwa itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa maria mengandung dari roh kudus. Kedua, Jika Yusuf mengambil Maria sebagai Istrinya, maka ia tentu akan memiliki TUGAS yang sangat tidak gampang dalam rencana Allah. Saudara lihat dalam perjalanan berikutnya, bagaimana Yusuf membawa keluarganya mengungsi ke Mesir karena ancaman Herodes. Yusuf kemudian membawa keluarganya ke Nazaret dan bersama dengan Tuhan Yesus hidup disana. Saudara juga ingat bagaimana Yusuf dengan Maria berusaha mencari Yesus di bait Allah ketika ia berumur 12 tahun. Tugas dan tanggung jawab Yusuf besar. Apakah Yusuf menolak? Ternyata tidak.

Dalam ayat 24 dikatakan “sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan Malaikat itu kepadanya.” Yusuf tidak bersoal jawab dengan Tuhan; Yusuf tidak mengajukan sejumlah argumentasi atau alasan untuk menolak perintah Tuhan. Yusuf TANPA KERAGUAN SEDIKITPUN MENTAATI perintah Tuhan.

Kehebatan atau kemampuan luar biasa yang kita miliki ketika mendengar perintah Tuhan adalah mengajukan banyak sekali alasan-alasan untuk menolak perintah Tuhan. Tuhan memberikan banyak perintah kepada kita, namun banyak sekali alasan yang kita kemukakan untuk menolak perintah Tuhan.
-          Perintah untuk beribadah kepada Tuhan dengan setia. Alasan: ada tamu, ada undangan, sakit perut, pekerjaan banyak, capek, waktu untuk keluarga.
-          Perintah untuk melayani Tuhan: Alasan: tidak ada waktu, saya tidak suka orang itu.
-          Masih banyak perintah lain yang kita tidak patuhi dengan alasan-alasan yang begitu banyak.