Ringkasan Khotbah Minggu 22
Desember 2013
Matius 1:18-25
KELAHIRAN YESUS KRISTUS
by: Rev. T.M. Karo-karo, STh,MA
Melalui Matius 1:18-25,
ada tiga perkara penting yang harus selalu kita ingat saat merayakan Natal:
1.
Natal berbicara
tentang Allah yang peduli dengan manusia
Dunia ini telah menjadi
dunia yang egois, sehingga sulit menemukan orang yang peduli dengan orang lain.
Akibatnya, dunia ini terasa kacau, hidup lebih menyakitkan, karena
masing-masing orang hanya peduli pada kepentingan dan kesenangannya
sendiri. Oleh sebab itu, ada jurang yang semakin tajam dalam hidup ini:
yang kaya semakin bertambah kaya, dan yang miskin semakin ditekan sehingga
semakin miskin.
Kekristenan yang sejati
tidak mementingkan diri sendiri. Alkitab berkata “pergi dan jadikan sekalian
bangsa muridKu”, secara kekristenan itu memang berbicara tentang penginjilan,
tetapi secara sosial, itu berbicara bagaimana Allah mengajarkan kita untuk
peduli dengan orang lain.
2.
Allah unik dalam
jalanNya
Allah kita unik dalam
jalanNya, dengan kata lain jalanNya sulit untuk kita pahami. Kita memang tidak
percaya bahwa Allah beranak dan punya anak, tetapi yang kita percayai yakni
bahwa Allah telah turun menjadi manusia, dan di bawah kolong langit ini tidak
ada nama lain yang olehNya manusia dapat beroleh keselamatan selain di dalam
nama Yesus.
Allah unik dalam
jalanNya, sehingga kita tidak tahu sampai kapan, tidak tahu mengapa, dan tidak
tahu bagaimana. Tetapi kita tahu, bahwa rencanaNya pasti akan digenapi dalam
hidup kita. Itulah mengapa kita tidak berkecil hati. Di balik keunikan jalanNya,
Allah membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang tidak pernah gagal, dan tidak
pernah mempermalukan orang yang berharap kepadaNya.
3.
Kasih Allah
belum lengkap tanpa respon manusia
Memang, Allah
memberitahukan semuanya kepada Yusuf. Tetapi Yusuf tidak akan menerima dan
mengalami segala sesuatu jika dia tidak meresponinya. Artinya, tidak hanya
Allah yang berbuat, tetapi Yusuf juga perlu melakukan sesuatu. Allah tidak
membutuhkan siapapun yang tidak mau meresponiNya. Alah tidak membutuhkan
seseorang karena kebesaran atau kehebatannya, melainkan seseorang yang mau
meresponiNya.
Kasih Allah belum
lengkap tanpa respon manusia. Kasih Allah yang sepihak itu harus menjadi
kasih yang lengkap ketika kita meresponiNya. Allah telah melakukan segalanya
untuk kita, dan waktu kita meresponi kasihNya, di sana kita bisa melihat
indahnya kuasa Natal. Mungkin, ada banyak hal baik yang belum terjadi dalam
hidup kita, karena kita tidak meresponiNya. Karena Yusuf mau meresponi, maka
Yusuf melihat pertolongan Tuhan, Ketaatan akan selalu mendatangkan hasil bagi
orang percaya.
Dalam kisah yang
dicatat Matius di perikop ini lebih menceritakan mengenai pergumulan seorang
manusia bernama Yusuf dalam menanggapi rencana besar Allah bagi manusia.
Beberapa kali Matius menekankan bahwa peristiwa kelahiran Yesus ini adalah
karya Allah Roh Kudus dan pesan ini pun disampaikan malaikat Tuhan kepada
Yusuf. Dengan kata lain penulis kitab berusaha mengajak kita melihat bahwa
semua proses kelahiran Yesus tidak lepas dari campur tangan Allah, bukan hanya
kepada Maria, tetapi juga kepada Yusuf yang mendapat pesan khusus melalui
sebuah mimpi. Allah menggunakan malaikat sebagai pengantara untuk menyampaikan
pesan kepada Yusuf agar jangan menceraikan Maria. Bahkan kelahiran Yesus ini
pun sudah direncanakan Allah jauh pada zaman sebelum mereka, dan sudah
dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Dengan demikian jelaslah bahwa Allah sudah
mempersiapkan rencana keselamatan bagi manusia sejak lama, bahkan sejak manusia
jatuh dalam dosa (Kej.3:15). Dalam menggenapkan rencanaNya, Allah memakai
orang-orang tertentu, baik itu para nabi di zaman PL, Yohanes Pembaptis yang
hidup di antara zaman PL dan PB, hingga yang terdekat melalui Yusuf dan Maria.
Masing-masing pribadi ada peranan secara khusus, bahkan termasuk para malaikat
sebagai pembawa berita. Yusuf dan Maria memainkan peran yang Allah percayakan
kepada mereka dengan ketundukan pada rencana Allah. Yusuf dan Maria mau dipakai
Allah dan itu ditunjukkan melalui ketaatan mereka dan kesediaan mereka untuk
menjalani hidup seperti yang Allah tentukan bagi mereka, walau ada risiko atau
kesulitan yang harus dihadapi karena ketaatan tersebut. Namun Yusuf tidak
melarikan diri, melainkan percaya bahwa Anak itu adalah Imanuel. Hingga hari
ini Allah masih bekerja menggenapkan pekerjaanNya melalui manusia-manusia,
diantaranya adalah kita. Sediakah kita menjadi orang kepercayaan Allah? Orang
kepercayaan yang tetap setia mengerjakan kehendak Allah dengan taat, bahkan
ketika ada risiko/kesulitan yang kita hadapi? Menjelang peringatan Natal,
mari merenungkan dan mengambil tindakan atas pertanyaan: Apa yang akan kita
lakukan bagi Allah untuk menunjukkan kepadaNya bahwa kita adalah orang yang
dapat dipercayaiNya?
Tuhan ingin kita juga
memiliki hidup yang taat kepada Firman Tuhan. Tuhan ingin kita seperti Yusuf
mencintai Firman Tuhan, menggumuli dan melakukannya dalam hidup. Ketaatan kita
kepada Firman Tuhan akan membentuk karakter hidup kita semakin lama semakin
baik, menjadikan kita bijaksana dalam hidup dan bahkan membuat kita menjadi
berkat bagi orang lain. Ketaatan kita kepada Firman Tuhan akan memproses hidup
kita semakin berkualitas dan memuliakan Dia. Persoalannya, sudahkah Firman
Tuhan mengubahkan hidup kita? Atau Firman Tuhan hanya penghias bibir kita;
hanya menambah pengetahuan kita. Apakah Firman Tuhan sudah kita praktekkan
dalam hidup kita. Seberapa banyak Firman Tuhan mengubahkan hidup kita. Atau
kita di gereja mengangguk-angguk tetapi setelah keluar dari gereja kita lupa
dengan apa yang kita iyakan di dalam gereja?
Pada waktu Yusuf hendak
melaksanakan rencanaNya itu, ternyata Malaikat Tuhan datang berbicara kepada
Yusuf lewat mimpi. Tuhan mencegah niat Yusuf untuk menceraikan tunangannya itu.
Sebelumnya, Yusuf sama sekali tidak tahu rencana keselamatan dari Tuhan. Itu
sebabnya, melalui mimpi Tuhan berfirman kepada Yusuf bahwa anak dalam kandungan
Maria itu berasal dari Roh Kudus. Anak dalam kandungan yang kelak disebut Yesus
itu sedang menjalankan misi penebusan bagi dosa manusia. Maria dan Yusuf
dilibatkan dalam misi itu. Oleh sebab itu Yusuf diperintahkan untuk mengambil
Maria sebagai istrinya.
Sebenarnya perintah
dari Tuhan bukanlah hal yang gampang bagi Yusuf. Ia bisa saja tidak MENTAATI
PERINTAH TUHAN ITU. Pertama, peristiwa itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa
maria mengandung dari roh kudus. Kedua, Jika Yusuf mengambil Maria sebagai
Istrinya, maka ia tentu akan memiliki TUGAS yang sangat tidak gampang dalam
rencana Allah. Saudara lihat dalam perjalanan berikutnya, bagaimana Yusuf
membawa keluarganya mengungsi ke Mesir karena ancaman Herodes. Yusuf kemudian
membawa keluarganya ke Nazaret dan bersama dengan Tuhan Yesus hidup disana.
Saudara juga ingat bagaimana Yusuf dengan Maria berusaha mencari Yesus di bait
Allah ketika ia berumur 12 tahun. Tugas dan tanggung jawab Yusuf besar. Apakah
Yusuf menolak? Ternyata tidak.
Dalam ayat 24 dikatakan
“sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan
Malaikat itu kepadanya.” Yusuf tidak bersoal jawab dengan Tuhan; Yusuf tidak
mengajukan sejumlah argumentasi atau alasan untuk menolak perintah Tuhan. Yusuf
TANPA KERAGUAN SEDIKITPUN MENTAATI perintah Tuhan.
Kehebatan atau
kemampuan luar biasa yang kita miliki ketika mendengar perintah Tuhan adalah
mengajukan banyak sekali alasan-alasan untuk menolak perintah Tuhan. Tuhan memberikan
banyak perintah kepada kita, namun banyak sekali alasan yang kita kemukakan
untuk menolak perintah Tuhan.
- Perintah
untuk beribadah kepada Tuhan dengan setia. Alasan: ada tamu, ada undangan,
sakit perut, pekerjaan banyak, capek, waktu untuk keluarga.
- Perintah
untuk melayani Tuhan: Alasan: tidak ada waktu, saya tidak suka orang itu.
- Masih
banyak perintah lain yang kita tidak patuhi dengan alasan-alasan yang begitu
banyak.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.