KUNCI SUKSES KELUARGA KRISTEN
I Korintus 11: 11 – 12
oleh
: Pdt. T.M.Karo-karo,STh,MA
Dikhotbahkan pada tgl 16
Oktober 2013 GMI Kasih Karunia, Jln Hang Tuah 2, Medan
Ada banyak alasan manusia untuk
menikah, antara lain:
1.
Biar saya mencintai dan dicintai
2.
“Saya ingin mendapatkan sesuatu yang dulu tidak
pernah saya dapatkan dari keluarga saya.”
3.
“Saya tidak ingin kesepian.”
4.
“Saya tidak ingin menjalani kehidupan ini
seorang diri.”
5.
“Saya ingin ada yang merawat dan menemani kalau
saya tua nanti.”
6.
Agar saya memiliki keturunan
7.
dll
Saudara,
jawaban-jawaban tersebut terdengar sangat logis dan tidak salah. Jawaban-jawaban
itu menyiratkan egoisme dan egosentrisme, hanya berfokus pada kepentingan diri
sendiri, harapan dan keinginan pribadi serta apa yang ingin kita dapatkan.
1. Pernikahan tidak selalu berisi apa yang akan
kita dapatkan dari pasangan kita tetapi juga harus berisi apa yang akan saya
berikan pada pasangan kita.
2. Pernikahan tidak hanya berfokus pada apa yang
akan kita dapatkan tetapi juga apa yang akan saya berikan.
3. Pernikahan yang hanya mengharapkan sesuatu
---adalah pernikahan yang tak seimbang---keropos dan rapuh.
Ibu
Theresa pernah berkata, “Bagikan kasih ke mana saja
Anda pergi; pertama di rumah Anda sendiri.
Pernikahan tanpa kasih/cinta
akan penuh kesedihan, keluhan dan rintihan, air mata, kesia-siaan, haus akan
cinta, perkelahian, penuh kehancuran hati.
Bagaimana hari-hari
kehidupan kita jika kita tidak hidup di dalam kasih? Mungkin Anda dan saya
perlu merenungkan hal berikut ini:
Dari
bacaan kita, I Korintus 11: 11 – 12 kita dapat melihat beberapa pokok penting
yang perlu kita pahami dalam kaitannya dengan hidup pernikahan dan membangun
sebuah keluarga.
1.
Pernikahan adalah relasi dua arah dan seimbang.
2.
Kedudukan suami tidak lebih tinggi daripada istri. Begitu juga
kedudukan istri tidak lebih tinggi daripada suami.
3.
Yang satu tidak lengkap tanpa yang lain.
Dari
bacaan kita setidaknya ada empat (4) hal yang dapat kita lihat dan kembangkan
sebagai dalam membangun sebuah pernikahan.
1. Pernikahan harus
dilihat sebagai sebuah komitmen pada sebuah hubungan yang permanen.
Yang membedakan
manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah komitmen. Hidup pernikahan dibangun
di atas serangkaian komitmen antara suami dan istri. Komitmen untuk saling
mengasihi, saling menghargai, saling mengingatkan, saling mendoakan dan
komitmen untuk menjalani kehidupan pernikahan sampai maut memisahkan. Oleh
sebab itu, Yesus pernah berkata, “Apa yang telah dipersatukan oleh Allah jangan
dipisahkan oleh manusia.”
Komitmen untuk
mengasihi dan mencintai harus menjadi dasar hidup pernikahan.
Komitmen menjadikan
rumah tangga kita semakin hari semakin kokoh dan semakin terasa menyenangkan.
2. Pernikahan harus
dilihat sebagai sebuah panggilan untuk melayani dengan penuh kesetiaan.
Pernikahan adalah
sebuah panggilan bagi masing-masing, suami dan istri, untuk melakukan yang
terbaik bagi pasangannya. Alangkah indahnya sebuah rumah tangga yang di
dalamnya satu sama lainnya terdorong untuk saling melayani dan saling memberi.
3. Pernikahan harus
dilihat sebagai sebuah proses pemurnian.
Pernikahan adalah
sebuah perpaduan dua pribadi, di mana masing-masing pribadi, suami dan istri,
dengan kesadaran penuh memberikan sebagian ruang dalam hidupnya bagi
pasangannya. Sehingga tidak ada lagi aku atau kamu. Yang ada adalah kita. Bukan
kepentinganmu atau kepentinganku, yang ada adalah kepentingan kita bersama.
4. Pernikahan harus
dilihat sebagai sebuah anugerah.
Tidak ada orang yang
tidak senang menerima hadiah. Hadiah akan selalu disambut dengan sukacita dan
rasa syukur sesederhana apa pun bentuknya.
Dengan memandang
pernikahan sebagai sebuah hadiah, kita akan menjalaninya dengan penuh sukacita
dan penuh rasa syukur, bukan sebagai beban apalagi sebagai penjara.
SELAMAT BERBAHAGIA!
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.