Friday, May 2, 2014


Panggilan Misi (Matius 4:18-22)

Tujuan: Agar jemaat memahami panggilan misi yang dapat  ditujukan kepada mereka dan mereka siap menerimanya.

Bapak/Ibu yang terkasih di dalam Yesus Kristus, pada kesempatan ini kita akan melihat nas dalam Matius 4:18-22. Nas ini lebih jauh menceritakan mengenai perjalanan misi Yesus di tengah bangsa-bangsa lain melibatkan tindakan panggilan-Nya untuk pribadi-pribadi yang akan bersama-sama mengiringi dan melayani bersama Dia.
            Di sini telah nampak bagi kita bahwa misi Yesus di tengah-tengah bangsa-bangsa lain juga diikuti oleh “mission homimum” yakni melibatkan jiwa-jiwa untuk menjadi alat-alat misi Kristus. di tepi danau Galilea ini Yesus berjalan lalu Ia melihat Petrus dan saudaranya Andreas, Yakobus dan Yohanes yang bekerja sebagai nelayan (penjala ikan). Yesus mendekati mereka dan memanggil nelayan-nelayan tersebut dengan panggilan misi. Panggilan ini melibatkan mereka dalam dua kegiatan yang nampak pada kata panggilan itu sendiri, yakni: “ikutlah Aku” dan kata “Kujadikan menjadi penjala manusia”.
            Pendekatan Yesus dalam panggilan ini begitu sederhana dan kontekstual. Yesus tidak ingin menjadikan mereka hanya sekadar pengkhotbah, penyembuh, atau guru Injil di antara keluarga dan kalangan bangsa-bangsa lain ataupun kalangan orang Yahudi, tapi mereka akan menjadi penjala manusia dengan latar belakang penjala ikan.
            Pendekatan kontekstual Yesus ini begitu unik, Ia tetap menggunakan profesi mereka namun diterjemahkan-Nya kembali menjadi tugas misi. Tugas misi yang sangat luas ini adalah menjala manusia dengan melibatkan lebih dari sekadar berkhotbah, menyembuhkan dan mengajar, tapi ini melibatkan suatu keahlian atau skill untuk menjala manusia-manusia berdosa.
Jadi misi Yesus dalam “mission homimum” ini dapat disimpulkan menjadi tiga proses:
1.      Panggilan awal yang kontekstual adalah mengalihkan atau mentransformasikan kehidupan murid-murid yang sekuler, penuh dosa, ke dalam kehidupan yang baru dalam Kristus. panggilan yang kontekstual ini membuat daya tarik tersendiri karena jati diri para nelayan tidak hilang, serta budaya mereka pun tidak rusak.                 Mereka bukan orang yang dikendalikan menjadi seperti robot untuk mengikut Kristus dan menjalankan misi-Nya, tapi panggilan ini telah melewati proses transformasi yang etis. Transformasi ini juga tidak mengakibatkan trauma dalam kehidupan para nelayan, tapi sebaliknya mereka memiliki rasa optimis yang luar biasa untuk mengiringi Yesus. Transformasi ini adalah penterjemahan kembali profesi mereka ke dalam arti yang baru bagi kehidupan nelayan, yakni “penjala ikan” menjadi “penjala manusia”, jati diri, nilai-nilai budaya tidak rusak. Kristus menghargai budaya orang yang dipanggil-Nya. Interaksi Kristus dengan budaya nelayan begitu baik sehingga tidak menimbulkan protes dari lingkungan masyarakat maupun dari keluarga mereka pada saat ditinggalkannya semua profesi sebagai nelayan.
2.      Untuk menjadi murid-murid, mereka harus “mengikut Yesus” dengan meninggalkan segala sesuatu. Ini merupakan harga yang mereka bayar untuk pemuridan, seperti dalam transformasi. Mengikut Yesus berarti mereka belajar dari teladan Yesus sebagai misionaris, ke mana Yesus pergi dan tinggal dalam suatu budaya, murid-murid juga belajar untuk menjadi misionaris. Murid-murid belajar dari Yesus dan belajar dari lingkungan budaya. Cara-cara yang dilakukan oleh misionaris ini juga dilakukan oleh calon-calon misionaris.
3.      Yesus memanggil murid-murid bukan untuk mengekor Dia, tapi untuk “dijadikan” menjadi misionaris. Di sini, murid-murid akan menerima latihan yang lebih dalam lagi supaya mereka “dijadikan”. Dijadikan berarti mereka menerima pelatihan baik secara rohani             maupun pengetahuan kebenaran untuk memperlengkapi mereka dalam pelayanan misinya. Murid-murid juga diperlengkapi dengan kuasa agar dapat “menjadi” sesuatu.
4.      Proses “penjadian” ini bukan menjadikan murid-murid menjadi “misionaris asal jadi” atau “jadi-jadian”, tapi mereka menjadi misionaris yang bervisi misi Allah untuk dunia ini. Dan mereka menjadi misionaris yang mempunyai tujuan utama dan yang produktif, yakni penjala manusia.

Empat langkah dalam proses “mission homimum” ini menjadi dasar dalam pelayanan Kristus dalam mempersiapkan para penjala ikan untuk menjadi penjala manusia. Dari profesi sekuler menjadi profesi rohani. Yesus mentransformasikan budaya penjala ikan menjadi budaya kerajaan Allah, yakni menjala manusia yang berdosa. Murid-murid akan menyadari bahwa budaya kerajaan Allah merupakan suatu budaya yang transformasional untuk menjalankan tugas yang baru dan jauh lebih mulia dari yang telah mereka kerjakan sebagai penjala ikan. Murid-murid mendapat suatu kehormatan yang besar dalam panggilan ini. Walaupun intelek mereka sangat sederhana, kehidupan yang selalu berhubungan dengan alam, mereka telah menerima anugerah untuk melakukan pekerjaan yang melebihi segala intelek manusia, yakni menjala manusia.
Kalau menurut tradisi orang Yahudi, biasanya calon-calon dari murid-murid Yudaisme diberi hak untuk memilik Rabi atau guru yang mereka sukai, tapi anugerah Allah dalam Kristus adalah memanggil mereka untuk menjadi murid-murid Kristus. Panggilan Kristus tidak berdasarkan intelek mereka, tapi anugerah Allah yang besar. Murid-murid tentunya telah mengalami anugerah-Nya yang besar dalam panggilan Kristus yang tidak membedakan dari mana mereka datang, tapi berdasarkan rencana misi-Nya untuk orang-orang berdosa.
Bapak/Ibu yang terkasih dalam Kristus Yesus, makna apa yang dapat kita pahami dari panggilan misi yang dinyatakan kepada murid-murid-Nya yang pertama yang berasal dari penjala ikan? Bagaimana makna ini dapat kita terapkan dalam kehidupan kita orang percaya? Maukah kita menerima panggilan misi dari Yesus apabila Yesus melakukannya bagi kita? Saya ingin mengajak kita untuk memahami beberapa hal yang menjadi tantangan dalam hidup kita:
1.      Allah sedang berbicara kepada kita dan ingin memanggil kita untuk melayani Dia melalui profesi kita, entah kita sebagai dokter, nelayan, ahli komputer, arsitek, supir, guru, dll. Tujuan panggilan ini agar kita menjadi alat Tuhan melayani di tempat di mana Anda sekarang berada dan melayani Dia sesuai dengan rencana-Nya. Tapi maukah kita mengalami hidup baru dalam Kristus, artinya Yesus akan mentransformasikan hidup kita menjadi hidup yang kudus dan tak bercela, sebelum Ia dapat memakai kita. Hal ini berarti kita harus meneladani seperti nelayan-nelayan, yakni Petrus, Andreas dan nelayan lainnya. Kita harus menjawab “ya” kepada panggilan-Nya. Kita harus bersedia hidup baru oleh kuasa Tuhan yang mengubah kita melalui pertobatan kita.
2.      Kita harus menjadi pengikut Yesus atau murid-murid Yesus setelah mengambil keputusan tadi. Kita harus mengiringi Yesus setiap hari, artinya hidup dalam kasih-Nya. Kita harus menyangkali diri dari segala kehidupan duniawi yang telah kita tinggalkan. Kita harus setia kepada-Nya dan meneladani hidup Yesus sebagai seorang misionaris yang mampu hidup di tengah-tengah masyarakat majemuk, yakni masyarakat yang beraneka ragam budayanya.
3.      Kita harus belajar dan belajar mengenai kebenaran Alkitab itu sendiri, sebelum dapat memberitakan Injil dan mengajar orang lain. Dengan belajar, kita dapat memperlengkapi diri bukan hanya secara moral, tapi juga secara intelektual. Ada berbagai cara juga untuk kita memperlengkapi pengetahuan Alkitab, kita dapat membaca buku-buku rohani, mendengar kaset-kaset khotbah ataupun seminar, masuk sekolah Alkitab, maupun kursus-kursus intensif. Makin kita belajar, makin dapat mengenal Kristus yang sebagai sumber kebenaran itu.
4.      Kita harus mengambil tindakan untuk memenuhi panggilan misi tersebut. Kita dapat memasuki suatu pelayanan yang ditunjukkan oleh Tuhan kepada kita. Dan sesuai dengan beban yang ditauh dalam hati kita, maka kita dapat melayani dengan efektif di mana banyak jiwa akan mengalami kasih Allah. Hidup kita akan berbuah, dan buah-buah itu akan menghasilkan lebih banyak orang yang akan dipanggil untuk melayani Tuhan.

Bapak/Ibu yang terkasih di dalam Yesus Kristus, milikilah keempat hal yang telah dijelaskan tadi. Ambillah keputusan sesuai dengan pimpinan Roh Kudus untuk melayani Tuhan. Apabila Tuhan Yesus memanggil kita untuk melayani melalui profesi maupun melayani sepenuh waktu untuk Kristus, maka bertindaklah. Berdoalah dan mintalah nasehat dan bimbingan dari para hamba Tuhan yang dikenal. Dengan demikian kita akan menggenapi “missio homimum”, kita akan menjadi alat Tuhan untuk melaksanakan misi-Nya dalam dunia yang gelap ini.
Ada begitu banyak jiwa di dunia sedang hidup dalam perbudakan dosa dan kegelapan. Statistik mencatat ada lebih dari 3 milliar jiwa manusia yang hidup dalam dosa dan krisis yang begitu berat. Mereka semua sedang menantikan kedatangan kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai keselamatan yang tidak mungkin dijawab oleh siapapun kecuali oleh Yesus Kristus. Pemandangan ini bagaikan mimpi yang pernah dilihat oleh Rasul Paulus bagaimana orang-orang Makedonia melambai-lambaikan tangan mereka meminta Rasul Paulus supaya menyeberang ke sana. Paulus taat akan penglihatan dan panggilan itu dan akhirnya melalui pemberitaannya, orang-orang Makedonia diselamatkan. Jawablah panggilan misi dari Allah untuk kita.
Tuhan Yesus Kristus memberkati. Amin.

Catatan: 
Khotbah ini dipersiapkan oleh GMI Distrik 2 wil. I dalam memperingati bulan Missi GMI pada bulan Mei 2014, dan Khotbah ini akan disampaikan pada kebaktian sektor GMI Kasih karunia, pada Keb sektor minggu I.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.