Friday, November 21, 2014

BAHAN BIMBINGAN PENGAJARAN SEKOLAH MINGGU
Sabtu 22 November 2014
Nats Alkitab    : 1 Korintus 9:24-27
Tema               : Self Control (penguasaan diri)
Ayat Hafalan    : 2 Timutius 4:5 “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!

Tujuan             : Supaya kita/anak-anak memahami arti penguasaan diri yang sebenarnya serta memiliki tekad  untuk mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
By                   : Rev. T.M. Karo-karo, STh,MA
I.            Ringkasan Nats
Saat kita berlomba/bertanding  butuh mempersiapkan segala sesuatu, dan saat kita mau mengenal Tuhan Yesus lebih dalam kita butuh dari hati kita, belajar dari pelomba  mereka membutuhkan  empat langkah:
1. memiliki target hidup (cita-cita) ayat 24
“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!”

2. menguasa diri ( jaga hati, pikiran untuk tidak iri hati, berjuang dengan jujur) ayat 25
Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

3. melakukan target cita-cita bersama God. ayat 26
Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

4. melatih diri. ayat 27
Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

II.               Cerita (alternative)
Syalom adik-adik yang ganteng dan cantik. siapa yang sudah bagi rapot? ada yang rek nila bagus?
hebat ya, ank Tuhan Yesus memang harus begitu. Namun yang nilai nya tidak bagus, berarti kurang giat belajar dan perlu semangat sama God, supaya nilai nya meningkat bukan menurun, sama juga sampai kalian kualiah seperti cici, terus belajar supaya mendapat nilai terbaik.

Syaloom adik-adik pernah gak melihat lomba lari maraton? apa yang mereka lakukan? ya betul:  latihan, sepatu yang baik untuk lari, memiliki potensi untuk juara lomba, mempunyai tujuan garis finish.
nah, sama seperti kita kan memiliki cita-cita yang tinggi, ada yang mau  jadi dokter, suster, pilot, pedeta, bahkan ada juga yang mau jadi insinyur, apa lagi ? why not? Kenapa tidak? Kita dapat mencapainya bersama dengan Allah.

Pernah dong dengar cerita Daud, walaupun anak bontot( anak terakhir ) tapi memiliki tujuan hidupnya bukan hanya memiliki cita-cita yang tinggi saja seperti kalian, namun juga punya kerinduan dekat dengan Allah, kalo adik-adik mau gak mendekat dengan Allah  seperti Daud lakukan duluan?
Daud dari kecil, sudah rajin beribadah, gak perlu di ajak teman, gak perlu di gendong guru sekolah minggu. namun Daud tetap datang ke sekolah minggu seperti kalian. Dia bisa juga menguasai dirinya, tidak mudah marah, tidak mudah merajuk….pokoknya sip deh.

kembali dalam perlombaan tadi : kalau pingin jadi juara harus siap kesehatan/stamina, peralatan, latihan, diet, waktu latihan yang ketat….pokoknya harus kuasai diri. Seperti adik-adik, mau rek 1, siapa mau? nah tapi kalo gak pernah rek 1 gimana? jangan kecil hati, karena masih ada kelas berikut nya n kesempatan untuk rek 1 , perbaiki cara belajarnya dan waktu yang cukup untuk belajar dan tidur, control diri kita, jangan karena asik main-main, lupa belajar…..dst

Keterangan:

Cerita dapat disampaikan dalam berbagai versi disesuaikan dengan umur anak, dan bisa disungguhkan denga alat peraga yang sesuai, power point tentang pertandingan olah raga secara singkat. Tujuan kita adalah menyampaikan tujuan nats kepada anak-anak. Selamat melayani. 

Thursday, October 30, 2014




BAHAN SERMON LS, CLS,MAJELIS
GMI KASIH KARUNIA, JALAN HANG TUAH 2, MEDAN
JUMAAT 31 OKTOBER 2014

Nats Alkitab             : 1 Tesalonika 4:13-18
Thema                        :  “Penghiburan di dalam Tuhan”

I.               Pendahuluan
Melalui perikop ini, rasul Paulus memberikan suatu pengharapan. Kita yang berpisah dengan saudara kita masih akan dipertemukan kembali. Bahkan setelah pertemuan nanti maka tidak akan dipisahkan lagi. Paulus membangun pengharapan ini bukan tanpa alasan. Pengharapan itu ada karena Yesus yang telah mati itu bangkit kembali.
Jemaat Tesalonika sebagian besar adalah orang-orang Yunani yang memiliki pemahaman bahwa arwah orang meninggal hidup menjadi bayangan (batak:begu). Dengan demikian, apabila seorang saudara meninggal tidak ada lagi pengharapan. Kematian adalah akhir segalanya.
II.               Penjelasan dan Aplikasi
Ketika hadir di Tesalonika, Paulus sudah mengajarkan tentang “parousia”. Parousia adalah hari kedatangan Tuhan. Dan hari itu akan segera berlangsung dalam waktu singkat. Sepeninggal Paulus dari Tesalonika, ajaran ini rupa-rupanya menjadi menarik bagi jemaat dan menjadi pembahasan yang menarik bagi mereka oleh karena berbagai pergumulan yang mereka hadapi ; (a) timbulnya penderitaan karena penganiayaan, (b) sudah ada warga jemaat yang meninggal. 
Karena itu, Paulus merasa penting memberikan penjelasan tentang kematian itu. Bagi Paulus, kematian bagi saudara-saudara yang telah mendahului itu hanyalah sedang tertidur, beristirahat sambil menantikan kedatangan Tuhan kembali. Pada saat kedatangan Tuhan kembali maka mereka akan bangkit. Paulus memberikan kronologis parousia itu (ay. 16-17) : (a) ada tanda, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, (b) Tuhan sendiri akan turun dari sorga, (c) mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit, (d) orang-orang yang masih hidup akan diangkat bersama-sama dengan mereka yang telah bangkit dari mati. Selanjutnya, Paulus menggambarkan suasana parousia itu bagaikan arak-arakan manusia menuju angkasa untuk bertemu dengan Tuhan. Demikianlah Tuhan membangkitkan dan mempertemukan kembali semua orang percaya.
Namun, menunggu sampai tibanya parousia itu, Paulus sebagai hamba Tuhan memberikan nasehat di dalam perjalanan hidup ini, agar setiap orang saling menghibur seorang dengan yang lain. Penghiburan yang sejati adalah penghiburan yang memberikan pengharapan.
Allah mau mempertemukan kita dengan saaudara-saudara yang telah mendahului kita tetapi bukan dengan cara kita. Allah mau mempertemukan kita dengan orang-orang yang kita kasihi itu tetapi bukan saat ini. Allah mau mempertemukan kita dengan saudara-saudara kita itu dengan cara dan waktu yang Allah tentukan sendiri.
Karena itu, kita tidak perlu memikirkan mereka yang sedang istirahat itu sebab itu adalah pekerjaan Allah. Tetapi satu hal yang tidak dapat kita lupakan adalah pengharapan. Pengharapan untuk bertemu kembali. Pertemuan yang akan terjadi bukan hanya dengan roh mereka saja, tetapi berjumpa dengan tubuh yang kekal sehingga kita tidak akan pernah lagi berpisah.
Kita perlu kembali merenungkan sikap (berbagai suku) dalam upacara pemujaan terhadap roh orang yang telah mendahului kita. Di dalam budaya Batak ada dikenal ‘mangongkal holi’ (menggali tulang-belulang). Mungkin saja  upacara itu dilakukan sebagai upaya memanggil dengan mengharapkan datangnya roh orang yang telah meninggal ? Atau apakah upacara tersebut merupakan pesta biasa sebagai cara mempertemukan keluarga besar kita ? Kalau motivasi pertama mendorong kita, maka akan siasialah semua upaya itu. Kalau motivasi kedua yang mendorong, baiklah dilakukan dengan penuh kasih dan persaudaraan.
Selama hidup ini, kita perlu mengasihi orang tua, suami atau isteri, anak dan teman-teman. Kasih mengasihi ini perlu dipelihara sebelum Tuhan memanggil. Di dalam dunia inilah kesempatan untuk mengasihi dan menghibur orang-orang yang kita cintai. Kasih kita tidak akan berguna apabila itu kita berikan kepada saudara kita yang telah dipanggil Allah. Ia tidak mengharapkan kasih dari kita sebab ia sudah mendapatkan kasih yang lebih besar dari Allah.
Tetapi dengan iman, kita boleh berpengharapan. Sebagai bukti adanya pengharapan itu, kita dapat mewujudkannya di dalam saling mengasihi. Kasih…inilah yang harus kita lakukan bagi setiap saudara kita dimasa hidupnya. Kita manusia yang mempunyai keterbatasan hanya dapat mengasihi saudara kita yang masih hidup. Kita tidak mampu mengasihi saudara kita yang telah Allah panggil.

Kasih dan persaudaraan perlu diciptakan ; dalam keluarga, tetangga, kerabat kerja, dan terutama di dalam persekutuan kita. Saling menghibur dan menguatkan senantiasa harus tetap dipelihara sambil menanti-nantikan kedatangan Tuhan kita, sehingga saat kedatangan Tuhan, kita semua dapat bersama-sama menyongsongNya. Inilah pengharapan yang kita nanti-nantikan. Kita tidak perlu lelah memanggil-manggil roh nenek moyang kita (karo=perumah begu; toba= memanggil sumangot). Allah sendiri akan membangkitkan leluhur kita, bukan hanya roh tetapi juga tubuhnya. 


Khotbah Pada Keb. P2MI GMI KK
Cara Menghadapi Masa Yang Sukar
Habakuk 3:2-19

Masa yang sukar adalah masa yang tidak disukai oleh siapapun di bawah kolong langit ini. Termasuk orang Kristen pun sering tidak menginginkan masa sukar itu terjadi pada dirinya. Mengapa masa sukar itu tidak disukai? Tentu ada banyak jawaban yang bisa kita kemukakan. Misalnya, karena masa yang sukar itu membuat banyak orang mengalami tekanan psikologis yang hebat. Karena masa yang sukar itu membuat banyak orang kehilangan semangat dan motivasi dalam hidupnya. Dan tentu masih banyak lagi jawaban yang lain. Lalu apa bentuk dari masa yang sukar itu? Wujud atau bentuk dari masa sukar itu antara lain, sakit yang berkepanjangan, krisis ekonomi global yang tidak tahu kapan harus berakhir, bencana alam yang terus meningkat sehingga menimbulkan kerusakan yang parah dan korban jiwa yang banyak, peperangan yang telah memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan, dan lain sebagainya. Dalam Habakuk 3:17-19, ditegaskan demikian: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku". Habakuk hidup pada jaman di mana bangsa Israel mengalami penindasan oleh musuh-musuhnya. Dalam keadaan semacam itu, tentu hidup tidak bebas. Juga tidaklah gampang mempertahankan hidup di dalam iman. Masa-masa yang sukar di mana musuh selalu menindas, menyebabkan sendi-sendi kehidupannya terpengaruh. Ladang yang biasanya menjadi tempat yang mendatangkan penghasilan dan merupakan tempat tumpuan bagi penghidupannya tidak lagi membuahkan hasil. Ternak yang menjadi harta kekayaannya terhalau dari kurungannya. Tidak ada lagi simpanan baginya. Sedangkan dia mempunyai kebutuhan yang harus terus dipenuhi. Bukankah hal-hal ini juga yang sedang melanda kehidupan kita hari-hari ini? Bagaimana supaya daya tahan dan motivasi hidup kita tetap terjaga? Bagaimana supaya dalam masa yang sukar, kita tidak kehilangan motivasi? Berikut beberapa cara yang bisa membantu kita: 1. Berdoa kepada TUHAN Allah Habakuk 3:1-2: "Doa nabi Habakuk. Menurut nada ratapan. TUHAN, telah kudengar kabar tentang Engkau, dan pekerjaan-Mu, ya TUHAN, kutakuti! Hidupkanlah itu dalam lintasan tahun, nyatakanlah itu dalam lintasan tahun; dalam murka ingatlah akan kasih sayang!" Berdoa kepada TUHAN Allah merupakan cara pertama, terutama dan terpenting yang harus kita lakukan ketika kita ada dalam masa yang sukar. Di dalam doa kita minta kepada TUHAN Allah agar Dia datang dan campur tangan menolong kita. Doa bukanlah cara alternatif yang harus kita ambil karena sudah tidak ada pilihan lain lagi. Doa harus menjadi cara hidup kita sebagai umat TUHAN Allah. Doa harus menjadi jembatan bagi kita untuk melangkah memasuki hadirat TUHAN Allah. Doa harus menjadi cara kita untuk mendapatkan motivasi hidup dari Sang Pemilik Hidup. Sehingga di dalam masa yang sukar kita tidak menjadi lemah dan kehilangan gairah serta motivasi dalam hidup ini. 2. Fokus kepada TUHAN Allah dan bukan pada masalah Habakuk 3:17-18: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan,

Medan 29 Oktober 2014



Khotbah Pada Pembukaan Retreat Keluarga
GMI Kasih Karunia, Jln Hang Tuah 2 Medan
Kampung Ladang 25 Oktober 2014

Mezbah Keluarga
Yesaya 56:1-8
By: Pdt. T.M. Karo-karo, STh, MA

Ay. 7, “mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”
Suatu kenyataan bahwa membangun sebuah keluarga bukanlah perkara yang mudah.  Keluarga seperti sebuah perahu kecil ditengah samudra yang diombang-ambingkan oleh angin dan gelombang. Banyak orang yang tidak mampu mempertahankan biduk keluarganya dan akhirnya karam ditengah samudra kehidupan.
Kalau kita mengingat akan awal dari terbentuknya sebuah keluarga, yaitu bahwa keluarga adalah sebuah komunitas/lembaga yang dibentuk oleh Allah sendiri untuk mewujudkan kehendakNya. Kita ingat bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dan mempersatukan mereka dalam pernikahan (menjadi satu daging), dan memerintahkan mereka untuk memenuhi bumi, untuk mengusahakan bumi dan memeliharanya.  Dalam melaksanakan kehendakNya itu Allah mengawalinya dari sebuah keluarga, oleh sebab itu keluarga adalah tonggak-tonggak utama dalam mewujudkan kehendak Allah demi terwujudnya damai sejahtera di bumi ini. Maka keberlangsungan kehidupan keluarga yang kokoh, kuat tahan terhadap gelombang sangat penting dan sangat diperlukan. Dalam Kejadian 1:26-27:
Kej.1:26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.Kej.2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.
Tetapi apa yang terjadi, bahwa keluarga-keluarga itu telah kehilangan kendali dan keluar dari jalurnya; keluarga-keluarga itu telah kehilangan identitasnya sebagai tonggak utama mandataris Allah dalam mengelola bumi ini. Dan kalau hal ini dibiarkan maka berakhirlah kehidupan manusia.
Bukti: Keluarga terbentuk bukan dalam rangka melaksanakan kehendak Allah, tetapi karena akibat dosa/nafsu (misal: karena kehamilan diluar nikah); Keluarga tidak dijalani sebagaimana Allah kehendaki, yaitu dengan dasar kasih dan sebagai mandataris Allah dalam mendatangkan damai sejahtera, tetapi dijalani dengan dasar keserakahan, keuntungan diri, kekerasan/kebebasan yang tak terkendali dan dengan tujuan untuk mencari kesenangan, kepuasan dan kekayaan.
Tetapi Allah tidak membiarkan itu terjadi, Allah telah memulihkan itu semua di dalam Tuhan Yesus Kristus, sehingga Ia telah memanggil keluarga-keluarga baru di dalam persekutuan yang baru pula, yaitu di dalam terang kasihNya. Dan Tuhan menghendaki supaya keluarga-keluarga itu terus memiliki persekutuan yang indah diantara anggota keluarga itu maupun persekutuan dengan Tuhan.
Bagaimana supaya persekutuan yang indah itu terus terjalin ? maka diperlukan yang namanya mezbah keluarga.
Tema Retreat kita “mezbah Tuhan dalam keluarga”  sangat relevan sekali,  karena ternyata sebagian besar dari keluarga-keluarga kita masih belum menerapkan mezbah keluarga ini di dalam keluarganya. Banyak orang yang menganggap bahwa mezbah keluarga tidak penting. Mezbah adalah tempat korban dipersembahkan.
Pentingnya Mezbah Keluarga:
1.      Mezbah keluarga adalah kegiatan penyembahan kepada Allah yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga.
2.      Tujuan mezbah keluarga adalah untuk menempatkan Kristus sebagai yang utama di dalam keluarga; membawa masuk keluarga kita dalam kerajaan Allah (kehidupan yang dipimpin oleh Allah)
3.      Melalui mezbah keluarga ini keluarga dibangun didalam persekutuan yang intim antara anggotanya:
·        Ada komunikasi di antara anggota keluarga
·        Ada keterbukaan di antara anggota keluarga
·        Ada kedekatan dan kehangatan di antara anggota keluarga
·        Ada pemecahan persoalan bersama
·        Ada kasih yang tercurah
4.      Melalui mezbah keluarga ini keluarga dibangun didalam persekutuan yang intim antara keluarga itu dengan Allah:
·        Ada komunikasi dengan Tuhan di dalam doa
·        Ada keterbukaan dengan Tuhan
·        Ada penyerahan diri
·        Ada tuntunan Tuhan melalui firmanNya
·        Ada jawaban atas pergumulan keluarga melalui firmanNya dan solusi bersama
·        Ada berkat yang luar biasa
5.      Melalui mezbah keluarga ini keluarga diingatkan bahwa Kristus adalah sebagai yang utama di dalam keluarga.
6.      Melalui mezbah keluarga ini keluarga diingatkan bahwa Kristus hadir dan tinggal di dalam keluarga itu.
Bagaimana kita memulai?
·        Milikilah keberanian untuk memulai
·        Langkah yang pertama kali menentukan langkah-langkah selanjutnya
·        Miliki komitmen bersama diantara anggota keluarga.