KHOTBAH
PADA KEBAKTIAN PWMI KASIH KARUNIA
KAMIS
04 SEPTEMBER 2014
“PRIORITAS
YANG BENAR”
Nats Alkitab :
Kolose 3:1-4
by rev. T.M. Karo-karo,STh, MA
I.
Pejelasan Nats
Paulus menekankan
kepada Jemaat yang ada di kota Kolose agar kesatuan dengan Kristus membuat motivasi yang benar di dalam tujuan
hidup. Karena di dalam hidup dimanapun kita diberikan kesempatan untuk memilih,
pilihan kita tergantung dari tujuan/motivasai yang ada dalam pikiran kita. Atau
adakan hati pikiran kita dipengaruhi oleh kehendak Kristus yang telah
menyelamatkan kita atau dipengaruhi oleh perkara-perkara dunia ini. Sehingga di
dalam Kolose 3:2 Paulus berkata : “Pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang
di bumi”.
II.
Prioritas Yang Benar
John Wesley menjelaskan
bahwa dalam hidup beragama kita harus berdasarkan pada 3 hal; yaitu Alkitab
(Bible), Dogma, rasio (intelektual). Penekanan saya pada saat ini adalah
tentang penekanannya terhadap Ratio. Ini jelas sekali berhubungan dengan Kolose
3;1-4 ini, artinya Tuhanlah yang memberikan “pikiran” kepada kita oleh sebab
itu mari kita mempergunakan pemberiaan Tuhan ini dengan benar dan sesuai dengan
rencanaNya.
Dalam Ayat kita ini ada
dua pilihan “pikiran” yang saling
kontradiktif yakni “perkara yang di atas” versus “perkara yang di bumi”.
1. Perkara
yang di atas
Mencari hal-hal di atas
berarti kamu berpikir tentang hal-hal di atas. Hal-hal di atas di sini kontras
dengan hal-hal di bumi. Hal-hal di atas berarti hal-hal tentang Sorga tempat
Kristus duduk di sebelah kanan Allah. Hal-hal tentang Sorga berarti hal-hal
kebajikan yang sesuai dengan kehendak Allah.
Jika kita telah
memiliki hidup baru, respon kita adalah mencari dan memikirkan hal-hal tentang
Sorga yang mendatangkan kesenangan bagi Allah. Mencari dan memikirkan
berarti mengarahkan segenap roh dan jiwa kita pada kehendak Allah. Artinya di
sini roh dan jiwa yang baru diarahkan pada Sorga sehingga tubuh jasmani kita
melakukan keinginan-keinginan sorga yang mendatangkan kesenangan bagi
Allah. Roh dan jiwa kita baru sehingga kita punya pikiran, perasaan, dan
kehendak baru yang selalu berorientasi kepada Allah bukan kepada
dunia. Secara batin kita suka pada firman Allah dan secara jasmani kita
melakukan firman Allah. Hal inilah yang seharusnya menjadi respon kita
setelah kita dibangkitkan bersama dengan Kristus.
2. Evaluasi
Diri
Kita lihat realita
hidup kita masing-masing. Apakah hal demikian yang terjadi?
Satu sisi secara batin
kita punya kerinduan mencari hal-hal tentang Sorga seperti tekun beribadah,
berdoa, membaca dan merenungkan kita suci, melayani di gereja, dan lain-lain.
Namun setelah kita jalani itu semua, apakah kita pernah mengevaluasi bagaimana
kehidupan batin kita? Apakah maju atau mundur atau stagnan? Apakah kehidupan
batin kita penuh gelisah, bersalah, dan berdosa? Atau kita merasa baik-baik
saja? Berapa banyak aktivis gereja, majelis, bahkan hamba Tuhan merasa kering
dan akhirnya jatuh pada perbuatan dosa yang mendatangkan murka Allah. Berapa
banyak di antara kita yang masih hidup dalam dosa yang sama dari dulu tidak
pernah berubah. Kita hidup seperti dalam dua realita yang tidak sinkron. Satu
sisi kita telah mengakui memiliki hidup baru dan menjalani hidup sebagai orang
Kristen, namun sisi lain kita hidup dengan perbuatan jasmani yang mendatangkan
murka Allah dan bertentangan dengan nilai-nilai kekristenan.
III.
Aplikasi
Saudara-saudara,
bagaimana memikirkan dan mencari hal-hal yang di atas? Biasanya kita
berpandangan sempit. Kita hanya berorientasi pada hal-hal rohani yang ada di
dalam Alkitab. Tidak boleh ini dan itu karena itu adalah firman Allah. Kita
hanya sibuk menasihati dan menghakimi orang lain termasuk anak kita, saudara
kita, bahkan diri kita sendiri. Kita tidak mengerti bagaimana sebetulnya
menjalankan firman Allah yang mendatangkan kesenangan bagi Allah. Kita lupa
bagaimana kondisi jiwa kita sebetulnya. Memang betul, roh dan jiwa kita telah
lahir baru, namun bukan berarti struktur jiwa kita berubah 180 derajat.
Struktur jiwa kita masih dikontrol oleh pikiran bawah sadar kita. Kita lupa
bagaimana jiwa kita itu bekerja ketika di lingkungan sosial, kerja, gereja, rumah,
dan di saat sendirian. Apakah nilai-nilai yang telah kita pelajari di dalam
firman Allah itu efektif bekerja di dalam jiwa kita ketika kita sendirian atau
bersama dengan orang lain? Pikiran bawah sadar bekerja dan yang menentukan apa
yang akan kita perbuat.
Saudara-saudara kita
harus memperhatikan 4 hal yang membentuk pikiran bawah sadar kita. Pendidikan,
pergaulan sosial, lingkungan kita sehari-hari hidup, dan gaya hidup kita.
· Pendidikan berarti
kita harus menjadi orang yang terdidik. Belajar berbagai disiplin ilmu yang
disertai takut dan hormat kepada Allah sebagai sumber ilmu. Sebagai orang tua
sudahkah kita mendidik diri kita sendiri menjadi orang tua yang membawa
pengaruh kepada anak-anak
· Pergaulan
sosial berarti kita harus cermat membawa diri kita. Dewasa ini, pergaulan
sosial begitu rentan. Baik dan jahat begitu tipis. Pergaulan bebas terjadi di
mana-mana dan secara langsung ataupun tidak langsung membentuk diri kita. Pergaulan
bebas ini bukan hanya berpengaruh kepada anak-anak kita tetapi juga merambah
kaum ibu. Kita harus waspada dan tidak terjebak di dalam pergaulan yang tidak
sehat.
· Lingkungan kita
berada baik di tempat kerja, rumah, sekolah, masyarakat, bahkan gereja juga
turut serta membentuk pikiran bawah sadar kita. Bagaimana kita menciptakan
lingkungan yang kondusif untuk bertumbuh? Faktor lingkungan memegang peranan
penting membentuk siapa diri kita.
· Gaya
hidup adalah pola tingkah laku kita sehari-hari terhadap materi atau
kebutuhan hidup. Gaya hidup seperti apa yang sedang kita jalani? Konsumtif,
boros, atau sederhana. Seringkali kita tidak menyadari gaya hidup yang boros
dan konsumtif sebetulnya membentuk diri kita menjadi pribadi yang egoistik dan
ketidakpekaan terhadap orang miskin atau yang membutuhkan.
Apakah kita semua
memperhatikan keempat hal di atas? Kita menjadi murid Tuhan sekian puluh tahun
pun tidak berguna kalau kita tidak memperbaiki hidup kita di dalam 4 hal
tersebut. Seringkali orang Kristen merasa sudah cukup berbuat baik untuk
Tuhan dengan beribadah dan melayani Tuhan, namun sebetulnya dia tidak atau
belum memikirkan dan melakukan kehendak Allah. Mengapa? Karena diri kita telah
terbentuk atau terpola untuk terus menerus melawan Allah dengan melakukan
segala perbuatan yang mendatangkan murka Allah (lihat Roma 7). Apakah kita
menyadari hal demikian? Kita harus menyadari bahwa pendidikan, pergaulan,
lingkungan, dan gaya hidup adalah 4 hal yang membentuk diri kita. Mari
kita berbuat secara praktis dengan memakai spirit berjuang dan latihan terus
menerus seperti tradisi dari orang-orang yang sungguh-sungguh hidup kudus dan
suci. Pertama, mulai mendidik diri kita sesuai firman Allah, jadi pribadi yang
educated, perlengkapi ilmu pengetahuan dan pengajaran firman Allah sebanyak
mungkin. Selanjutnya, perhatikan pergaulan kita sehari-hari, lingkungan kita
berada, dan koreksi gaya hidup kita yang tidak benar. Dengan demikian
perlahan-lahan kita akan menjadi pribadi dengan jiwa atau batin yang memikirkan
kehendak Allah dan dengan jasmani kita melakukan kehendak Allah.
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.