Wednesday, September 3, 2014

KHOTBAH PADA KEBAKTIAN PWMI KASIH KARUNIA
KAMIS 04 SEPTEMBER 2014
“PRIORITAS YANG BENAR”
Nats  Alkitab  : Kolose 3:1-4
by rev. T.M. Karo-karo,STh, MA

       I.            Pejelasan Nats
Paulus menekankan kepada Jemaat yang ada di kota Kolose agar kesatuan dengan Kristus  membuat motivasi yang benar di dalam tujuan hidup. Karena di dalam hidup dimanapun kita diberikan kesempatan untuk memilih, pilihan kita tergantung dari tujuan/motivasai yang ada dalam pikiran kita. Atau adakan hati pikiran kita dipengaruhi oleh kehendak Kristus yang telah menyelamatkan kita atau dipengaruhi oleh perkara-perkara dunia ini. Sehingga di dalam Kolose 3:2 Paulus berkata : “Pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang di bumi”.
    II.            Prioritas Yang Benar
John Wesley menjelaskan bahwa dalam hidup beragama kita harus berdasarkan pada 3 hal; yaitu Alkitab (Bible), Dogma, rasio (intelektual). Penekanan saya pada saat ini adalah tentang penekanannya terhadap Ratio. Ini jelas sekali berhubungan dengan Kolose 3;1-4 ini, artinya Tuhanlah yang memberikan “pikiran” kepada kita oleh sebab itu mari kita mempergunakan pemberiaan Tuhan ini dengan benar dan sesuai dengan rencanaNya.
Dalam Ayat kita ini ada dua pilihan “pikiran”  yang saling kontradiktif yakni “perkara yang di atas” versus “perkara yang di bumi”.
1.      Perkara yang di atas
Mencari hal-hal di atas berarti kamu berpikir tentang hal-hal di atas. Hal-hal di atas di sini kontras dengan hal-hal di bumi. Hal-hal di atas berarti hal-hal tentang Sorga tempat Kristus duduk di sebelah kanan Allah. Hal-hal tentang Sorga berarti hal-hal kebajikan yang sesuai dengan kehendak Allah.
Jika kita telah memiliki hidup baru, respon kita adalah mencari dan memikirkan hal-hal tentang Sorga yang mendatangkan kesenangan bagi Allah. Mencari dan memikirkan berarti mengarahkan segenap roh dan jiwa kita pada kehendak Allah. Artinya di sini roh dan jiwa yang baru diarahkan pada Sorga sehingga tubuh jasmani kita melakukan keinginan-keinginan sorga yang mendatangkan kesenangan bagi Allah. Roh dan jiwa kita baru sehingga kita punya pikiran, perasaan, dan kehendak baru yang selalu berorientasi kepada Allah bukan kepada dunia. Secara batin kita suka pada firman Allah dan secara jasmani kita melakukan firman Allah. Hal inilah yang seharusnya menjadi respon kita setelah kita dibangkitkan bersama dengan Kristus.
2.      Evaluasi Diri
Kita lihat realita hidup kita masing-masing. Apakah hal demikian yang terjadi?
Satu sisi secara batin kita punya kerinduan mencari hal-hal tentang Sorga seperti tekun beribadah, berdoa, membaca dan merenungkan kita suci, melayani di gereja, dan lain-lain. Namun setelah kita jalani itu semua, apakah kita pernah mengevaluasi bagaimana kehidupan batin kita? Apakah maju atau mundur atau stagnan? Apakah kehidupan batin kita penuh gelisah, bersalah, dan berdosa? Atau kita merasa baik-baik saja? Berapa banyak aktivis gereja, majelis, bahkan hamba Tuhan merasa kering dan akhirnya jatuh pada perbuatan dosa yang mendatangkan murka Allah. Berapa banyak di antara kita yang masih hidup dalam dosa yang sama dari dulu tidak pernah berubah. Kita hidup seperti dalam dua realita yang tidak sinkron. Satu sisi kita telah mengakui memiliki hidup baru dan menjalani hidup sebagai orang Kristen, namun sisi lain kita hidup dengan perbuatan jasmani yang mendatangkan murka Allah dan bertentangan dengan nilai-nilai kekristenan.
 III.            Aplikasi
Saudara-saudara, bagaimana memikirkan dan mencari hal-hal yang di atas? Biasanya kita berpandangan sempit. Kita hanya berorientasi pada hal-hal rohani yang ada di dalam Alkitab. Tidak boleh ini dan itu karena itu adalah firman Allah. Kita hanya sibuk menasihati dan menghakimi orang lain termasuk anak kita, saudara kita, bahkan diri kita sendiri. Kita tidak mengerti bagaimana sebetulnya menjalankan firman Allah yang mendatangkan kesenangan bagi Allah. Kita lupa bagaimana kondisi jiwa kita sebetulnya. Memang betul, roh dan jiwa kita telah lahir baru, namun bukan berarti struktur jiwa kita berubah 180 derajat. Struktur jiwa kita masih dikontrol oleh pikiran bawah sadar kita. Kita lupa bagaimana jiwa kita itu bekerja ketika di lingkungan sosial, kerja, gereja, rumah, dan di saat sendirian. Apakah nilai-nilai yang telah kita pelajari di dalam firman Allah itu efektif bekerja di dalam jiwa kita ketika kita sendirian atau bersama dengan orang lain? Pikiran bawah sadar bekerja dan yang menentukan apa yang akan kita perbuat.
Saudara-saudara kita harus memperhatikan 4 hal yang membentuk pikiran bawah sadar kita. Pendidikan, pergaulan sosial, lingkungan kita sehari-hari hidup, dan gaya hidup kita.
·      Pendidikan berarti kita harus menjadi orang yang terdidik. Belajar berbagai disiplin ilmu yang disertai takut dan hormat kepada Allah sebagai sumber ilmu. Sebagai orang tua sudahkah kita mendidik diri kita sendiri menjadi orang tua yang membawa pengaruh kepada anak-anak
·      Pergaulan sosial berarti kita harus cermat membawa diri kita. Dewasa ini, pergaulan sosial begitu rentan. Baik dan jahat begitu tipis. Pergaulan bebas terjadi di mana-mana dan secara langsung ataupun tidak langsung membentuk diri kita. Pergaulan bebas ini bukan hanya berpengaruh kepada anak-anak kita tetapi juga merambah kaum ibu. Kita harus waspada dan tidak terjebak di dalam pergaulan yang tidak sehat.
·      Lingkungan kita berada baik di tempat kerja, rumah, sekolah, masyarakat, bahkan gereja juga turut serta membentuk pikiran bawah sadar kita. Bagaimana kita menciptakan lingkungan yang kondusif untuk bertumbuh? Faktor lingkungan memegang peranan penting membentuk siapa diri kita.
·      Gaya hidup adalah pola tingkah laku kita sehari-hari terhadap materi atau kebutuhan hidup. Gaya hidup seperti apa yang sedang kita jalani? Konsumtif, boros, atau sederhana. Seringkali kita tidak menyadari gaya hidup yang boros dan konsumtif sebetulnya membentuk diri kita menjadi pribadi yang egoistik dan ketidakpekaan terhadap orang miskin atau yang membutuhkan.
Apakah kita semua memperhatikan keempat hal di atas? Kita menjadi murid Tuhan sekian puluh tahun pun tidak berguna kalau kita tidak memperbaiki hidup kita di dalam 4 hal tersebut. Seringkali orang Kristen merasa sudah cukup berbuat baik untuk Tuhan dengan beribadah dan melayani Tuhan, namun sebetulnya dia tidak atau belum memikirkan dan melakukan kehendak Allah. Mengapa? Karena diri kita telah terbentuk atau terpola untuk terus menerus melawan Allah dengan melakukan segala perbuatan yang mendatangkan murka Allah (lihat Roma 7). Apakah kita menyadari hal demikian? Kita harus menyadari bahwa pendidikan, pergaulan, lingkungan, dan gaya hidup adalah 4 hal yang membentuk diri kita. Mari kita berbuat secara praktis dengan memakai spirit berjuang dan latihan terus menerus seperti tradisi dari orang-orang yang sungguh-sungguh hidup kudus dan suci. Pertama, mulai mendidik diri kita sesuai firman Allah, jadi pribadi yang educated, perlengkapi ilmu pengetahuan dan pengajaran firman Allah sebanyak mungkin. Selanjutnya, perhatikan pergaulan kita sehari-hari, lingkungan kita berada, dan koreksi gaya hidup kita yang tidak benar. Dengan demikian perlahan-lahan kita akan menjadi pribadi dengan jiwa atau batin yang memikirkan kehendak Allah dan dengan jasmani kita melakukan kehendak Allah.



No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.