Sunday, November 17, 2013

Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA

 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
 Khotbah Minggu 17 November 2013
GMI Kasih Karunia, Medan
Nats Alkitab : Lukas 21: 5-19

Bersama Injil Markus (13:1), di bagian ini pun Lukas menggambarkan bahwa bangunan Bait Allah bukanlah sekedar bangunan yang menjadi obyek wisata yang sangat terkenal, karena merupakan bangunan yang sangat besar/megah, sangat indah (super-estetik), dan sangat kokoh/kuat dengan dindingnya yang sangat tebal, namun juga merupakan bangunan yang menjadi simbol negara dan simbol kedekatan hubungan antara umat Yahudi dengan Allah. Bangunan ini adalah simbol Yudaisme –– yang menyangkut seluruh aspek kehidupan Yahudi, mulai aspek sosial, ekonomi, politik, maupun budaya. Kondisi bangsa Yahudi dilukiskan secara nyata oleh keberadaan bangunan ini. Oleh sebab itu, hancurnya gedung Bait Allah juga menyatakan hancurnya Yahudi sebagai bangsa dan negara.
Dan sungguh mengejutkan bila mengenai Bait Allah ini Tuhan Yesus justru berkata: “akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ay. 6). Ini memang merupakan nubuatan yang secara harfiah benar-benar terjadi pada th 70, dimana pasukan Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus membumi-hanguskan Yerusalem, termasuk Bait Allah. Namun, sesungguhnya kehancuran Bait Allah yang dimaksudkan Yesus menunjuk pada konsep mengenai akhir zaman. Memang, kebetulan secara fisik Bait Allah benar-benar runtuh pada th 70, tetapi bukan itu maksud perkataan Tuhan di ay. 6 ini. Sebab, di bagian ini Tuhan Yesus sesungguhnya ingin memaparkan suatu pemahaman eskatologis, bahwa: hancurnya Bait Allah adalah simbol yang menunjuk pada hancurnya kedekatan hubungan antara manusia dengan Allahnya. Zaman yang penuh cobaan ini, ditandai dengan: penyesatan (ay. 8); peperangan dan pemberontakan (9-10); gempa bumi, penyakit, kelaparan, teror, dan tanda-tanda surgawi yang besar yang akan mendahului Kedatangan Kedua Kali (ay. 11). Secara rinci tanda-tanda surgawi ini disebut dalam Kitab Wahyu ps. 6-18. Namun hal-hal itu belumlah seberapa, sebab yang paling berpengaruh adalah bahwa: pada zaman ini kehidupan orang beriman akan mengalami ujian yang berat. Berbagai ujian yang akan dialami orang beriman itu dipaparkan Lukas dalam ay. 12, di antaranya: mereka akan dimusuhi di sinagog-sinagog (bnd. Mat. 10:17; Mrk 13:9), ditangkap, dianiaya, dipenjara, dan dihadapkan kepada para penguasa bangsa lain untuk diadili (bnd. Mat 10:18; Mrk 13:9). Semua itu terjadi oleh karena “nama-Ku” –– yakni karena iman mereka kepada Yesus. Di samping itu, di ay. 16-17, mereka juga akan mengalami pengkhianatan dari kerabat dekat dan teman-teman (bdk. Mrk 13:12).
Akan tetapi ujian yang dihadapi oleh orang beriman itu justru merupakan kesempatan bagi mereka untuk dapat “bersaksi” (ay. 13). Dan dalam melakukan “kesaksian”-nya ini mereka tidak perlu khawatir tentang apa yang harus mereka katakan, melainkan hanya bergantung pada janji Yesus yang akan membantu mereka berkata-kata (bdk. Kel. 4:11, 15; Yeh. 29:21) dan kebijaksanaan yang akan mereka butuhkan saat itu (bdk. 12:11-12; Mat. 10:19-20, Mrk 13:11). Ini semua akan mereka terima melalui karya Roh Kudus kepada mereka (Mrk 13:11). Mereka akan menemukan bahwa kesaksian mereka akan menjadi sangat kuat. Ini semua akhirnya memang benar-benar terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula (mis., Kis 4:14; 6:10; 8:3; 12:4; 21:11; 22:4, 27:1, 28:17) dan di sepanjang sejarah gereja. Dalam hal ini, Yesus berjanji bahwa Dia akan selalu menjaga mereka agar tetap aman (ay. 18). Ini mungkin berarti bahwa tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka tanpa seizin Bapa (ay 16; bnd. Kis 27:34). Beberapa penafsir percaya bahwa  hal ini hanyalah mengacu pada keselamatan rohani, tetapi tidak terhadap keselamatan jasmani.
Hal terpenting di sini (ay. 19) adalah bahwa: dengan ketekunan dalam karya, saat mereka dianiaya, hal itu justru akan melestarikan kehidupan mereka (Yun. ktesesthe tas psychas hymon). Artinya, mereka tidak akan mati sebelum dikehendaki Tuhan (ay 18). Beberapa penafsir percaya bahwa ayat ini bertujuan menyatakan bahwa mereka yang bertahan sampai akhir akan mengalami keselamatan (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Mereka yang tetap setia sampai akhir dari masa Kesengsaraan akan masuk ke dalam kerajaan tanpa kematian (bnd. Mat 24:13, Mrk 13:13). Ini berarti bahwa ketekunan dalam karya akan mendatangkan ganjaran kekal (lih. ay. 36; Why 2:10).

Aplikasi

Di kalangan orang Kristen, ada yang beranggapan bahwa pelayanan adalah sesuatu yang dilakukan secara sukarela. Namun, “sukarela” ini kadang dimaknai sebagai ‘sesukanya’ atau se-‘rela’-nya sehingga membuat kualitas pelayanan itu sendiri menjadi berkurang, tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh (kalau sempat), bahkan tidak perlu membutuhkan keterampilan khusus. Definisi pelayanan yang seperti ini seringkali dibedakan dengan definisi mengenai pekerjaan, yakni: sesuatu yang dilakukan, semestinya secara profesional (kemampuan khusus yang dibayar), untuk mencari nafkah, atau mendapatkan suatu hasil. Kalangan seperti ini menganggap bahwa bekerja berbeda dengan melayani, sebab melayani bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk jenis kegiatan yang dapat dilakukan secara serabutan, dan tidak berorientasi pada hasil melainkan pada ketekunan.
Sepintas, idea semacam ini pada kenyataannya memang ada benarnya, bahkan seperti inilah yang berlaku secara umum di banyak gereja. Maka tak mengherankan jika berbagai bentuk pelayanan gerejawi, dalam komisi apapun, seringkali terkesan asal-asalan, kurang berkualitas, bahkan yang penting ada kemauan. Sebagai contoh: jika paduan suara gerejawi, dari tahun ke tahun menyanyikan lagu yang itu-itu saja, jumlah anggotanya tidak pernah pasti, jadual latihan tidak menentu, bahkan tanpa latihan pun bisa tampil; hal itu dianggap biasa/wajar dalam pelayanan. “Namanya juga pelayanan, sudah baik masih mau tampil”.
Memang, pelayanan yang dilakukan seperti itu tidak salah, sebab Bunda Teresa pun pernah menyatakan bahwa: “Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk Sukses, Dia hanya mengharuskan kita Berusaha”. Namun sesungguhnya, pelayanan yang dilakukan seperti itu dapat dianggap sebagai pelayanan yang kurang baik. Oleh sebab itu sebaiknya kita perlu kembali belajar kepada Perjanjian Baru mengenai makna pelayanan yang baik :
Kata yang dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menunjuk pada “pelayanan” adalah: diakoneo, douleo, leitourgeo, dan latreuo. Makna tiap kata itu tidak sama. Diakoneo: melayani orang yang lebih rendah dari dirinya; Douleo: menghamba, melayani orang yang lebih tinggi dari dirinya; Leitourgeo: kerja bakti untuk kepentingan orang banyak; sedangkan Latreuo: bekerja untuk mendapatkan latron (upah, gaji, kualitas). Dari ke-4 kata yang biasa dipakai oleh Perjanjian Baru itu, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa:pelayanan adalah aktifitas yang dilakukan, baik untuk kepentingan sesama maupun untuk kemuliaan Allah, menuju suatu pencapaian yang baik (berkualitas), sehingga harus dilakukan secara profesional (dengan kemampuan dan minat).
-------
Oleh sebab itu jugalah, maka seluruh bagian Alkitab yang sedang kita perbincangkan saat ini sesungguhnya menekankan bahwa: pelayanan itu tak lain adalah ‘karya’ atau ‘kerja’. Sebab ketika ‘kerja’ itu merupakan sebuah upaya “menghidupi diri sendiri” (lih. II Tes. 3:10), maka demikian juga ‘pelayanan’, yakni “menghidupi imannya sendiri”. Oleh karena itu, maka ‘pelayanan’ pun perlu dilakukan dengan ketekunan, sebab seperti halnya manusia hidup butuh makan, kehidupan iman pun butuh makanan yang dihasilkan dari buah-buah pelayanan (agar tetap memperoleh hidup, lih. Lukas 21:19). Dan jika pelayanan yang dilakukan itu bukanlah sebuah karya yang profesional, berkualitas, dan tanpa minat, maka tentu buah-buah yang dihasilkannya pun tidak akan mengenyangkan kehidupan beriman. Oleh sebab itu, maka kinerja dalam pelayanan itu  haruslah sebuah upaya yang profesional, berkualitas, serta penuh tekad dan minat.
Apa yang sedang diwacanakan ini bukanlah bermaksud untuk membedakan, bahwa: pekerjaan itu hanyalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi), sedangkan pelayanan itu menyangkut kehidupan iman (sorgawi). Sebab sesungguhnya keduanya, baik pekerjaan maupun pelayanan itu adalah aktifitas yang menyangkut kehidupan profan (duniawi) sekaligus kehidupan iman (sorgawi). Zaman Kerajaan 1000 tahun (zaman akhir) yang sedang terjadi dan kita alami saat ini pada hakekatnya adalah kehidupan duniawi di bawah pemerintahan (kendali) Sang Kristus, sehingga kerja/pelayanan umatNya pun berkenaan dengan seluruh kepentingan, baik sorgawi maupun duniawi. Pelayanan/kerja bagi kepentingan sesama, kepentingan diri sendiri dan bagi kemuliaan Tuhan, semuanya haruslah dilakukan sesuai kehendak Kristus, dan tidak perlu dipertentangkan antara satu dengan yang lain: mana yang sorgawi atau mana yang duniawi. Dengan demikian, maka:
§  Mereka yang menjadi Guru, baiklah mereka mendidik dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan para muridnya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi pegawai negeri, baiklah mereka mengabdi dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan masyarakat sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.
§  Mereka yang menjadi dokter, baiklah mereka mengobati dengan ketekunan dan kinerja yang gigih bagi kebaikan lingkungannya sekaligus demi kemuliaan Sang Kristus.

Medan 17 November 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA

Thursday, November 14, 2013

Khotbah Pada Penutupan Kebaktian Sektor Tahun 2013
GMI KASIH KARUNIA, Jalan Hang Tuah 2 Medan
“Pentingnya  keteladanan hidup”
2 Tesalonika 3:6-15
Apakah pentingnya sebuah keteladanan? Benyamin Franklin berkata: sebuah teladan hidup yang baik adalah khotbah yang terbaik yang dapat disampaikan kepada semua orang. Melalui teladan hidup itulah orang bisa melihat dengan nyata bagaimana teladan hidup anak-anak Tuhan bukan hanya sekedar sebuah teori, bukan hanya sekedar suatu pemahaman theologi, melainkan nyata dalam kehidupan pribadi demi pribadi.
Albert Schweizer berkata: kalau engkau mau mempengaruhi orang lain, teladan bukanlah hal yang utama, tetapi teladan adalah satu-satunya hal untuk mempengaruhi orang. Jadi teladan bukanlah hal yang sembarangan, melainkan merupakan suatu faktor ampuh yang bisa dipakai untuk membawa orang kepada Kristus. Teladan hidup, teladan berjemaat merupakan suatu harta karun, suatu keseriusan, suatu perjuangan, dan suatu komitmen untuk mau membawa orang kepada Tuhan.
Keteladanan hidup bukan datang dalam sehari, bukan dibangun berdasarkan satu perjuangan yang remeh, tetapi merupakan perjuangan yang disertai jutaan tetesan air mata. Keteladanan juga dibentuk dari berbagai macam ketajaman/ kepekaan diri dan kewaspadaan diri. Kita tidak bisa menjadi teladan hanya dengan lenggang kangkung dan sekedar berkata-kata melainkan kita perlu masuk ke dalam perjuangan yang terus menerus. Gereja adalah wajah dimana pemerintahan Tuhan ada di muka bumi ini. Gereja adalah wajah dimana kasih Allah dinyatakan di dalam dunia ini. Gereja adalah suatu eksistensi yang sedang diperhatikan oleh seluruh dunia bahkan juga setan. Berarti kita sebagai anak-anak Tuhan bukan sekedar ada di tempat ini sebagaimana kita ada, tetapi banyak mata yang sedang memperhatikan dan melihat bagaimana kita hidup didalam pengajaran yang kita jalani.
Masalah percabulan yang disebutkan dalam 1Tesalonika 4:1-10 jelas-jelas belum terjadi melainkan merupakan suatu peringatan dari Paulus. Tetapi masalah kemalasan dan ketertiban hidup jemaat dalam ayat 11-12 adalah benar-benar sudah terjadi. Mengapa Paulus harus terlalu mengurusi masalah seperti ini, apakah hal ini berkaitan dengan kehidupan berjemaat?
Ada 3 pendekatan Paulus untuk kita bisa melihat sikap Paulus dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan bergereja, yang seharusnya juga menjadi bagian kita memandang kehidupan kita dan peran kita dalam kehidupan sebagai anak Tuhan, yaitu:
1)       Keseimbangan antara penginjilan, pengajaran, dan penggembalaan.
Paulus dikenal sebagai rasul bagi orang-orang kafir. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kilometer dia jalani untuk menjalankan panggilannya. Paulus berdebat, mengajar, mengabarkan Injil tentang satu-satunya Juruselamat yaitu Yesus Kristus. Jadi Paulus dikenal sebagai seorang penginjil dan pengajar. Dia dikenal sebagai rasul yang terdidik, rasul yang memiliki pemaparan yang terinci dan sangat sistematis. Yang seringkali dilupakan dari sosok Paulus adalah dia juga melakukan pelayanan pastoral. Apa yang ditulis dalam 1 dan 2 Tesalonika ini jelas-jelas menunjukkan bahwa Paulus meneliti kehidupan jemaatnya pribadi demi pribadi.
Jadi Paulus menulis ayat-ayat diatas adalah dalam kaitan penggembalaan yang dia kerjakan. Dia melihat adanya bahaya besar di tengah-tengah ketidak seimbangan antara penginjilan, pengajaran dan penggembalaan. Ketiga hal tersebut merupakan 3 pilar yang menopang kehidupan rohani seseorang. Alangkah mengerikannya jika kita hanya menekankan satu saja dari ketiga hal tersebut. Ada yang mengatakan bahwa penginjilan adalah proses seorang bayi rohani dilahirkan. Alangkah ironisnya jika ada bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu tetapi dia tidak pernah diberi makan didalam kaitannya dengan pendidikan dalam pengajaran. Kalau kita melepaskan begitu saja orang yang baru menerima Injil maka orang tersebut akan memasuki hidup yang baru tanpa mempunyai pegangan yang lebih konkrit, tanpa mengerti kebenaran doktrin yang mendasari hidupnya.
Penggembalaan akan membawa orang yang sudah mempelajari Kebenaran kepada penerapan Kebenaran dalam hidupnya. Kalau Kebenaran hanya dipelajari tanpa diterapkan dalam hidup maka kekristenan akan mengalami hal yang sama dengan yang terjadi di Eropa yaitu gereja mati. Gereja-gereja itu dibangun diatas doktrin yang ketat  tetapi mereka tidak melakukan penginjilan.
2)       Keseimbangan antara isi pengajaran dan model kehidupan yang menjadi contoh.
Paulus menjalankan model kehidupan yang sangat harmoni dengan isi pengajarannya (2Tesalonika 3:7-9). Ada orang yang menganggap Paulus sebagai orang yang sombong. Menurut saya, Paulus berkata bahwa dia bekerja keras menghidupi dirinya, bahkan tidak makan dari uang orang lain, adalah merupakan satu konsistensi keseimbangan antara isi pengajarannya dengan pola hidupnya di hadapan Tuhan. Dia mengajar jemaatnya untuk kerja keras, dan dia sendiri juga bekerja keras.  
Keteladanan adalah sebuah integritas hidup, bukan hanya sekedar pameran dari apa yang dapat dia lakukan. Keteladanan adalah suatu kristalisasi dari nilai-nilai dalam dirinya yang dipertunjukkan kepada dunia yang sedang menantikan apa yang sedang diperbuat oleh gereja/ anak-anak Tuhan.
Keteladanan bukan sekedar indah untuk dibicarakan melainkan merupakan suatu pergumulan seumur hidup Paulus, bahkan sampai darahnya tercurah. Inilah ketajaman dan bobot pengajaran Paulus yang tidak bisa sama dengan orang yang hanya jago dalam teori tetapi tidak bisa menjalankannya dalam hidupnya. Gereja dituntut untuk menyatakan pemahamannya akan Kebenaran dalam hidupnya.
3)       Keseimbangan antara iman dan karya hidup.
Paulus ketika menjalankan isi pengajarannya, dia juga melihat karya Tuhan dalam hidupnya dan hidup jemaat. Paulus melakukan karya-karya hidup yang dapat memperbaiki orang lain yang sudah mendengarkan pengajarannya.
Setiap orang yang mengajar theologi belum tentu iman dan isinya benar. Paulus dalam iman yang benar juga memiliki kepekaan dan kepedulian kepada jemaatnya.
Keteladanan tidak dapat dibangun hanya oleh segelintir orang. Setiap kita berada di jalur untuk hidup dalam keteladanan. Kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Bukan hanya orang yang mengerti theologi secara mendalam melainkan kita dipanggil karena esensi kita sebagai garam dan terang dunia.
Mengapa Paulus menggunakan kata-kata yang begitu keras kepada orang yang tidak mau bekerja dan tidak hidup tertib? Setelah ditelusuri, ternyata penyebab dari mereka tidak bekerja dan tidak hidup tertib adalah karena 3 aspek yaitu:
1)       mereka memiliki pengertian yang salah akan ajaran yang mereka terima.
Mereka mendapatkan pengajaran yang membawa mereka kepada kesimpulan untuk tidak perlu bekerja. Isu theologis yang muncul pada waktu itu adalah kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya akan terjadi segera sehingga menjadi sesuatu yang akan mendesak kehidupan mereka. Akhirnya mereka merasa tidak perlu bekerja, tidak perlu lagi menangani kehidupan duniawi. Paulus akhirnya menjelaskan tentang kedatangan Tuhan yang tidak bisa ditentukan waktunya.  
Sebuah pengajaran belum tentu membuat hidup seseorang menjadi benar, bahkan theologia sekalipun belum tentu membawa orang mengenal Tuhan secara benar. Ajaran sesat akan mendatangkan maut bagi orang yang mempelajarinya. Pernahkah kita peduli dengan kebenaran yang kita pelajari dan telah mempengaruhi hidup kita sampai sejauh apa? Beberapa jemaat di Tesalonika mensimbiosiskan ajaran yang mereka terima di luar gereja dengan ajaran yang mereka terima di dalam gereja. Kita harus senantiasa menguji ajaran yang kita terima dalam kerangka tulang punggung Kebenaran sejati sehingga kita menemukan kebenaran yang solid.
2) mereka tidak mengikuti standar hidup Tuhan.
Ada jemaat di Tesalonika masuk ke dalam spiritualitas yang semu setelah mendengar Firman Tuhan. Mereka berada di dalam gereja tanpa melakukan ibadah yang sejati. Akhirnya Paulus merasa perlu untuk melakukan disiplin gereja yang ketat. Mereka juga membuang-buang waktu dan menjadi parasit bagi gereja. Ajaran yang mereka terima yang menggiring mereka melakukan hal itu. Paulus hendak mengajak jemaat di Tesalonika untuk membangun orang-orang ini, membawa orang-orang ini kepada jalur yang benar.
3)mereka merusak kesaksian umat Tuhan.
Mereka tidak bisa lagi hidup sebagai orang yang sopan di mata orang luar, tidak dapat lagi mandiri dan menjadikan kehidupan gereja menjadi tidak baik. Seberapa jauh kita memiliki hidup yang dihormati orang lain? Ini adalah sisi lain dari keteladanan hidup.
Sebagai jemaat  GMI  yang dikenal memiliki teologi yang dinamis, dapatkah kita berdiri tegak di hadapan orang kafir dan menjadi model hidup bagi mereka di sepanjang hidup kita sampai kita dipanggil Tuhan? Keteladanan hidup adalah panggilan hidup yang tidak bisa dipermainkan.
Kesimpulan dari pembahasan kita pada hari ini adalah:
1)      Kita harus waspada antara isi theologi dengan isi kehidupan kita. Seberapa jauh hal tersebut menunjukkan keharmonisan yang baik? Kalau tidak, maka kita akan hidup dalam dunia kita sendiri.
2)      Problema keteladanan adalah problema panggilan bukan pilihan. Anak-anak Tuhan harus berdiri menjadi model bagi dunia, bahkan menjadi mercusuar bagi jiwa-jiwa yang terhilang dan membutuhkan keselamatan. Seberapa kita berani menjadikan kehidupan kita sebagai surat Kristus yang terbuka?

3)      Proses keteladanan adalah proses pembentukan diri di dalam Tuhan. Ketika kita menjadi teladan, kita mengingat seberapa jauh kita sudah dibentuk oleh Tuhan. Hal itu akan menentukan seberapa besar dampak keteladanan kita bagi orang lain. Keteladanan hidup adalah harta kehidupan yang tidak bisa dibeli dengan tingkat pendidikan maupun tingkat kehidupan seberapapun juga.

Syaloom 
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA

Tuesday, October 15, 2013


KUNCI SUKSES KELUARGA KRISTEN
I Korintus 11: 11 – 12
oleh :  Pdt. T.M.Karo-karo,STh,MA
Dikhotbahkan pada tgl 16 Oktober 2013 GMI Kasih Karunia, Jln Hang Tuah 2, Medan

Ada banyak alasan manusia untuk menikah, antara lain:
1.            Biar saya mencintai dan dicintai
2.            “Saya ingin mendapatkan sesuatu yang dulu tidak pernah saya dapatkan dari keluarga saya.”
3.            “Saya tidak ingin kesepian.”
4.            “Saya tidak ingin menjalani kehidupan ini seorang diri.”
5.            “Saya ingin ada yang merawat dan menemani kalau saya tua nanti.”
6.            Agar saya memiliki keturunan
7.            dll
Saudara, jawaban-jawaban tersebut terdengar sangat logis dan tidak salah. Jawaban-jawaban itu menyiratkan egoisme dan egosentrisme, hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri, harapan dan keinginan pribadi serta apa yang ingin kita dapatkan.
1. Pernikahan tidak selalu berisi apa yang akan kita dapatkan dari pasangan kita tetapi juga harus berisi apa yang akan saya berikan pada pasangan kita.
2. Pernikahan tidak hanya berfokus pada apa yang akan kita dapatkan tetapi juga apa yang akan saya berikan.
3. Pernikahan yang hanya mengharapkan sesuatu ---adalah pernikahan yang tak seimbang---keropos dan rapuh.
Ibu Theresa pernah berkata, “Bagikan kasih ke mana saja Anda pergi; pertama di rumah Anda sendiri.
Pernikahan tanpa kasih/cinta akan penuh kesedihan, keluhan dan rintihan, air mata, kesia-siaan, haus akan cinta, perkelahian, penuh kehancuran hati.
Bagaimana hari-hari kehidupan kita jika kita tidak hidup di dalam kasih? Mungkin Anda dan saya perlu merenungkan hal berikut ini:
Dari bacaan kita, I Korintus 11: 11 – 12   kita dapat melihat beberapa pokok penting yang perlu kita pahami dalam kaitannya dengan hidup pernikahan dan membangun sebuah keluarga.
1.            Pernikahan adalah relasi dua arah dan seimbang.
2.            Kedudukan suami tidak lebih tinggi daripada istri. Begitu juga kedudukan istri tidak lebih tinggi daripada suami.
3.            Yang satu tidak lengkap tanpa yang lain.
Dari bacaan kita setidaknya ada empat (4) hal yang dapat kita lihat dan kembangkan sebagai dalam membangun sebuah pernikahan.

1. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah komitmen pada sebuah hubungan yang permanen.
Yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah komitmen. Hidup pernikahan dibangun di atas serangkaian komitmen antara suami dan istri. Komitmen untuk saling mengasihi, saling menghargai, saling mengingatkan, saling mendoakan dan komitmen untuk menjalani kehidupan pernikahan sampai maut memisahkan. Oleh sebab itu, Yesus pernah berkata, “Apa yang telah dipersatukan oleh Allah jangan dipisahkan oleh manusia.”
Komitmen untuk mengasihi dan mencintai harus menjadi dasar hidup pernikahan.
Komitmen menjadikan rumah tangga kita semakin hari semakin kokoh dan semakin terasa menyenangkan.
2. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah panggilan untuk melayani dengan penuh kesetiaan.
Pernikahan adalah sebuah panggilan bagi masing-masing, suami dan istri, untuk melakukan yang terbaik bagi pasangannya. Alangkah indahnya sebuah rumah tangga yang di dalamnya satu sama lainnya terdorong untuk saling melayani dan saling memberi.
3. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah proses pemurnian.
Pernikahan adalah sebuah perpaduan dua pribadi, di mana masing-masing pribadi, suami dan istri, dengan kesadaran penuh memberikan sebagian ruang dalam hidupnya bagi pasangannya. Sehingga tidak ada lagi aku atau kamu. Yang ada adalah kita. Bukan kepentinganmu atau kepentinganku, yang ada adalah kepentingan kita bersama.
4. Pernikahan harus dilihat sebagai sebuah anugerah.
Tidak ada orang yang tidak senang menerima hadiah. Hadiah akan selalu disambut dengan sukacita dan rasa syukur sesederhana apa pun bentuknya.
Dengan memandang pernikahan sebagai sebuah hadiah, kita akan menjalaninya dengan penuh sukacita dan penuh rasa syukur, bukan sebagai beban apalagi sebagai penjara.
SELAMAT BERBAHAGIA!



Sunday, October 13, 2013

Bahan Bimbingan Khotbah  majelis, Lay Speaker, Cls
GMI Kasih Karunia, Jalan Hang Tuah 2 Medan
Jumaat 11 Oktober 2013
Untuk dikhotbahkan pada Keb. Sektor tgl 15 dan 16 Okt 2013

Nats Alkitab        : 2 Timotius 1:1-14

1.       Pendahuluan
Paulus kini adalah seorang tahanan di Roma yang menantikan saat kematiannya, ditinggalkan oleh banyak sahabatnya (ayat 2Tim 1:152Tim 4:16), dan rindu untuk melihat Timotius sekali lagi. Dia memohon teman sekerjanya tetap setia pada kebenaran Injil dan datang secepatnya untuk bersama dia sementara hari-hari terakhir hidupnya di bumi ini (2Tim 4:21).

2.       Tafsiran Nats

i)        Ayat 3-5
Paulus menitikberatkan hati nurani yang murni (Sunedesis)  di dalam pelayanannya kepada Allah baik pada masa sesudah ia menjadi orang Kristen maupun sebelumnya. Keseriusan pengabdian ini telah ia warisi dari nenek moyangnya (ayat: 3 “ …seperti yang dilakukan oleh nenek moyangku…”. Sekalipun  Paulus telah menjadi Kristen ia tidak mengingkari kekayaan-kekayaan yang ada dalam agama-agama nenek moyangnya  bahkan ia menghormati kekayaan-kekayaan itu.
Paulus memuji bahwa hati nurani yang demikian juga ada pada diri Timotius (“imanmu yang tulus ikhlas” atau iman yang tidak munafik), iman yang demikian diwarisi Timotius dari ibunya “Eunike” dan neneknya “Lois”. Nenek dan ibunya ini telah mendidik Timotius secara serius sejak kecil di dalam kitab suci PL  (II Tim 3:14,15) kemudian setelah mereka menjadi Kristen tetap mendampinginya secara tulus di dalam iman kepada Yesus.

ii)       Nasihat untuk bertekun ayat 6-14
Bagian ini membahas nasihat Paulus kepada Timotius supaya ia bertekun dalam menunaikan tugasnya, nasihat ini didasarkan tiga hal:
·         Kesadaran akan panggilan yang mulia untuk tugas pelayanan
·         Kasih Karunia Tuhan Yesus yang bekerja pada diri orang percaya
·         Teladan Paulus sendiri dalam menjalankan tugas dan menanggung penderitaan
      Ayat 7: ….bukan roh ketakutan melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
 Sifat-sifat ini dimiliki tiap orang Kristen yang hidup di dalam Roh, terlebih ini berlaku untuk Timotius yang hidup di dalam Roh. Oleh karena Timotius dalam kemudaanya masih dihinggapi oleh perasaan takut, maka dia diperlengkapi dengan keberanian dan kekuatan dan kasih dan penguasaan diri untuk melakukan tugas pelayanannya dengan baik.

3.       Refleksi/Aplikasi
Nats ini cukup kaya akan pengajaranan bagi kehidupan umat Kristen masa kini, tetapi dalam kesempatan ini kami mengemukakan 2 topik aplikasi yang ditonjolakan:

·           Pendidikan Rohani yang baik kepada anak-anak akan memberikan warisan berharga bagi masa depannya.
·           Tuhan memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Poin ini kami jelaskan dengan kutipan illustrasi full-life di bawah ini:
Pendiri dan pimpinan sebuah perusahaan penerbangan Amerika yang sukses mengungkapkan filsafat bisnisnya, "Saya suka melakukan hal-hal yang menakutkan. Tanpa ketakutan, tak ada keberanian." Itulah sebabnya ia selalu mencari kemungkinan-kemungkinan untuk dapat memperluas jangkauan penerbangan, bukannya berpuas diri dengan kekayaan yang telah dicapai perusahaannya. Ia menempuh banyak risiko setiap kali memulai pelayanan ke kota-kota yang baru. Namun ia tak pernah patah semangat.
Keberanian bukan berarti tak ada ketakutan, melainkan adanya kemauan untuk bertindak, bahkan ketika kita merasa takut akan apa yang mungkin terjadi bila kita melakukannya.
Ketika Paulus menulis kepada rekan sekerjanya Timotius, ia mendorong Timotius untuk berani bertindak demi Kristus, walaupun keberanian Paulus sendiri telah membawanya ke penjara. "Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan," tulis Paulus, "melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu" (2Timotius 1:7,8).
"Mencari yang aman" tak sepantasnya menjadi pilihan para pengikut Kristus. Orang-orang percaya senantiasa dipanggil untuk mengidentifikasikan diri secara terang-terangan dengan Yesus dan dengan mereka yang menderita karena kesetiaan kepada Kristus. Kekuatan untuk melakukan hal itu datang dari Roh Kudus Allah yang diam di dalam diri kita.
Marilah bertindak dengan berani dan menghadapi segala sesuatu yang menakutkan pada hari ini
KEBERANIAN BUKAN BERARTI TAK ADA RASA TAKUT
MELAINKAN MENGUASAI RASA TAKUT

Medan 11 Oktober 2013
Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA


Daftar Pustaka
·         Budiman, R, Surat-surat Pastoral I & II Timotius dan Titus, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1984
·         Guthrie, Donald, “Tafsiran I &II Timotius” dalam Tafsiran Alkitab Masakini 3, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta 1999
·         Alkitab Sabda.Com—full life



Saturday, October 5, 2013

Khotbah Minggu 6 Oktober 2013
GMI KASIH KARUNIA
Thema: “kami ini hamba-hamba yang tidak berguna”
 (Luk 17:5-10)

Luk 17:5-10 selengkapnya: 17:5 Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" 17:6 Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." 17:7 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan. 17:8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. 17:9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? 17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."
----------------------------------------
Pendahuluan
Mungkin kita pernah diperlakukan oleh orang lain tidak sepantasnya atau bahkan menimbulkan kerugian atau penderitaan, maka melalui nats yang kita baca minggu ini kita belajar tentang hubungan iman dengan pengampunan dosa. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai kita tersesat oleh karena tergoda untuk melakukan pembalasan. Ajaran perjanjian lama mengatakan bahwa mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Cara berpikir seperti ini memang ada pada orang Yahudi (Mat 5:38-44). Akan tetapi apakah untuk memberikan pengampunan diperlukan iman yang besar? Dan bagaimana iman tersebut menghasilkan sesuatu yang besar, serta hubungannya dengan penggunaannya yang tidak membuat kita sombong rohani. Maka melalui bacaan minggu ini, kita diajarkan oleh Tuhan Yesus beberapa hal sebagai berikut.

1.    Menambah iman (ayat 5)
Pada ayat 1-4 sebelumnya Tuhan Yesus mengingatkan pentingnya pengampunan dosa bagi sesama, agar jangan sampai ada orang percaya yang jatuh ke dalam dosa karena menyimpan beban sakit hati atau dendam. Namun untuk bisa memberi pengampunan dosa, menurut para murid waktu itu, dibutuhkan iman yang besar sehingga kekuatiran tidak terjadi sebaliknya, malah iman yang memberi pengampunan justru yang tergerus menghilang. Oleh karena itu, para murid kemudian meminta kepada Tuhan Yesus: "Tambahkanlah iman kami". Mereka berpikir polos dan sederhana, pertambahan iman itulah yang dibutuhkan dalam memberi pengampunan.

 Menjawab hal ini Tuhan Yesus menjelaskan bahwa yang diperlukan dan utama dalam memberi pengampunan bukanlah ukuran besar-kecilnya iman, akan tetapi bagaimana iman itu diyakini dan dilaksanakan. Oleh karena itu Tuhan Yesus memberi kiasan iman itu seperti biji sesawi. Biji sesawi sangat kecil (bayangkan sebesar gula pasir) sehingga melalui yang dikatakan-Nya, iman yang kecil pun sebenarnya memiliki kuasa untuk memberi pengampunan dan tidak memerlukan iman yang besar. Justru melalui pemberian pengampunan itu, iman orang percaya berkarya dan bertumbuh semakin besar serta dikuatkan. Jadi, bukan sebaliknya yang terjadi, yakni perlu iman besar untuk pengampunan melainkan dengan iman kecil kita memberi pengampunan dan menghasilkan pertumbuhan iman yang semakin besar.

Maka kesusahan atau penderitaan sebesar apa pun yang kita alami karena perlakuan orang lain, baik oleh pihak yang kita tidak kenal maupun oleh orang yang kita kenal, maka semua itu tidak perlu kita balaskan secara langsung (apalagi bila itu terjadi bukan karena kesengajaan). Penderitaan yang kita tanggung karena perbuatan orang lain itu sepenuhnya diserahkan kepada Tuhan, agar kita mampu untuk mengatasinya dan melewatinya, tanpa ada dampak dan efek lanjutannya yang merugikan diri sendiri. Justru dengan iman kecil yang kuat kepada Tuhan, dengan penderitaan itu iman kita semakin bertumbuh dan dikuatkan. Penderitaan dan tantangan sebesar apa pun pada prinsipnya bisa kita lalui selama kita berjalan bersama Tuhan dalam mengatasi dan melewatinya (Flp 4:13)

2.    Iman yang dapat memindahkan pohon (ayat 6)
Sebagaimana biji sesawi, iman (yang dalam bahasa Yunani disebut dengan pistis) memang merupakan kata benda. Akan tetapi meski kata benda, iman adalah hidup dan sesuatu yang bisa bertumbuh serta berbuah sebagaimana biji sesawi yang asalnya juga sangat kecil. Dalam hal ini sebagaimana biji, maka iman yang bertumbuh haruslah berakar pada sesuatu, yakni dalam hal ini berakar pada Tuhan. Jadi inti dari iman adalah ketergantungan total pada Allah dan menempatkan-Nya sebagai sumber pertumbuhan yang diperkuat dengan keinginan untuk melakukan kehendak-Nya sebagai buah. Maka dalam hal ini ukuran besarnya iman tidaklah menjadi penting sebab yang diperlukan adalah dasar dan sikap ketergantungan tadi kepada Allah.
Kalau iman diberi kiasan sebagai biji sesawi, maka sama halnya dengan perpindahan pohon ara yang terbantun dan tertanam di dalam lautan, itu juga hanya kiasan. Jelas terbantunnya itu sebuah peristiwa “besar dan ajaib”, tidak masuk akal. Akan tetapi apa yang ingin disampaikan oleh Yesus adalah melalui iman kita bisa melakukan hal yang besar dan ajaib dan tidak masuk akal pikiran manusia. Jadi iman membuat hal yang tak mungkin menjadi mungkin. Ini yang dikatakan-Nya bahwa jika orang percaya memiliki iman, maka “tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya” (Mrk 9:3; Mat 9:23). Inilah yang yang ditekankan-Nya bahwa iman tidak mengenal hal yang mustahil.
Sebagaimana biji sesawi maka biji itu bertumbuh terus dan kemudian berbuah. Iman yang bertumbuh akan menghasilkan buah dan buahnya semakin lebat, yang tadinya impossible menjadi possible. Semua itu terjadi bukan karena kehebatan manusia, akan tetapi karena pertolongan dan kuasa Allah yang tidak terbatas. Biji sesawi yang kecil itu awalnya juga kecil dan tidak tampak, akan tetapi melalui pertumbuhan dengan buah-buah yang kelihatan, maka iman itu semakin kelihatan dan kuat teruji. Jadi kita tidak membutuhkan iman yang besar melainkan iman yang sehat dan kuat dan siap untuk bertumbuh. Semua itu hanya mungkin apabila iman itu berdasar dan kokoh ketergantungannya kepada Tuhan Yesus.
3.     Kedudukan hamba di hadapan Tuan (ayat 7-9)
Pada awalnya sangat sulit bagi kita untuk memahami mengapa ayat tentang iman yang dapat memindahkan pohon ini dikaitkan dengan kedudukan hamba. Akan tetapi hubungan itu menjadi jelas, sebab umumnya para hamba Tuhan memiliki iman yang lebih besar dibandingkan dengan orang percaya lainnya. Melalui iman mereka, karya Allah diwujud-nyatakan kepada anggota jemaat dalam pendampingan maupun keteladanan diri mereka mengarungi permasalahan kehidupan sehari-hari. Para hamba Tuhan ini diminta memperlihatkan bahwa dengan iman yang kecil dan kuat, semua permasalahan kehidupan apapun akan dapat dilewati dengan kemenangan, sebab dengan iman kita tidak berjalan sendirian melainkan beserta dengan Allah.
Akan tetapi poin lainnya para hamba Tuhan ini melakukan itu semua karena memang itu tugas dan panggilannya. Tidak ada alasan bagi para hamba Tuhan untuk menganggap bahwa Allah berhutang atas semua karya iman yang dilakukannya itu. Semua pekerja dalam ladang Tuhan dan orang percaya memiliki kedudukan hamba dan melayani Tuhan dengan tanpa pamrih atau mengharapkan imbalan, sebab itu memang kewajibannya. Sama seperti dalam ayat di atas, ketika hambanya pulang dari ladang dan berkata kepada hamba itu: “Mari segera makan. Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum…”. Artinya secapek apapun hamba, tetap tujuannya adalah melayani Tuannya.

Jadi tidak ada alasan untuk sombong apalagi bermegah atas pelayanan iman yang diberikan. Pekerjaan hamba sebagaimana kita di hadapan Allah adalah hal yang selayaknya kita lakukan dan justru diminta ketaatan, termasuk taat dalam memberi pengampunan tadi. Kalau pun semua itu kita lakukan maka tidak ada keistimewaan yang layak kita terima. Ketaatan dan tunduk pada perintah-Nya bukanlah sesuatu yang istimewa melainkan suatu kewajiban dasar saja. Jangan kita berpikir adanya hak atau imbalan khusus untuk itu. Seperti ayat yang kita baca: “Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?” Maka semua sikap ini akan membuktikan karakter kita sebagai orang percaya (dan hamba Tuhan) sehingga menjadi berkat bagi orang lain.


4.    Hamba yang rendah hati (ayat 10)
Akan tetapi Tuhan Yesus juga tidak mengatakan bahwa yang kita perbuat itu sia-sia dan tanpa arti, atau beranggapan itu tidak berguna dan bermanfaat, melainkan Ia mengecam mereka-mereka yang menonjolkan diri sendiri dan membuat itu sebagai kesombongan rohani. Tuhan Yesus menekankan agar kita jangan merekam dan berhitung apalagi bermegah dan menyombongkan diri untuk itu. Anugerah iman dan kuasanya yang besar sangat mudah menimbulkan kesombongan rohani, dan itulah yang Tuhan tidak inginkan. Kuasa iman juga bukan sesuatu yang perlu kita tonjolkan dan pamerkan, apalagi obral, melainkan semua itu hanyalah ketaatan dalam meninggikan dan memuliakan Dia.

 

Oleh karena itu Tuhan Yesus mengajarkan hubungan iman ini dengan kerendahan hati. Iman tidak dipakai dengan kesombongan apalagi menguji Allah membuktikan Allah sanggup melakukan segala sesuatu. Memang Allah mampu melakukan segala sesuatu dan tidak ada yang mustahil bagi Dia (Luk 1:37; Mrk 14:36) akan tetapi itu semua sesuai kehendak-Nya. Allah sanggup dan orang percaya menjadi sanggup melalui kuasa-Nya, akan tetapi itu tidak dipakai untuk bermegah apalagi untuk mengharapkan kedudukan yang istimewa di hadapan Allah. Justru sebagai orang percaya apalagi hamba Tuhan, kita semakin dipanggil untuk melakukan semua itu dengan kerendahan hati dan hasrat yang kuat dan berakar pada Kristus, ketergantungan total dalam meninggikan Dia sehingga perbuatan kita hanya untuk menyenangkan hati-Nya.

Bagian terakhir dari pesan Tuhan Yesus adalah iman yang kita miliki harus dipakai untuk berkarya melalui perbuatan-perbuatan kasih. Untuk itu tidak dipersoalkan besarnya dan bentuknya iman yang kita miliki, akan tetapi yang utama adalah keinginan untuk berbuah nyata dalam tindakan kasih kepada sesama terutama yang membutuhkan. Sebab jikalau tidak demikian, iman yang dianugerahkan kepada kita itu tidak berbuah nyata, maka Allah akan menganggap kita sebagai hamba yang tidak berguna. Kalau soal kekuatiran akan tidak cukupnya iman adalah sesuatu yang wajar, sebagaimana kisah seorang ayah yang membawa anaknya untuk disembuhkan karena kerasukan roh yang membisukan anaknya: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk 9:14-27). Maka tetaplah berdoa agar iman kita semakin bertumbuh dan dikuatkan.

Medan 06 Oktober 2013


Pdt. T.M. karo-karo, STh,MA