Thursday, August 21, 2014

BAHAN SERMON LS, CLS, MAJELIS GMI  KASIH KARUNIA
JUMAAT 22 AGUSTUS 2014
                                       


Nats Alkitab : Roma 12:9-21
Thema            : Hidup di dalam kasih
Oleh                : Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
(bisa dibaca di: gmikasihkarunia.blogspot.com)

        I.            Pendahuluan
Dalam Pasal 12:1-8, kita diajar paling tidak dalam tiga hal, pertama bagaimana orang Kristen mengadakan ibadah yang sesungguhnya kepada Allah (ayat 1), kedua: sebagai umat yang percaya kepada Tuhan Yesus kehadirannya di tengah-tengah komunitas hidupnya harus berani  tampil beda (ayat 2); dan yang ketiga: bahwa umat Tuhan di dalam hidupnya dan di tengah pelayanannya harus memiliki kerendahan hati.
Roma 12:9-21 adalah kelanjutan dari perikop di atas, dimana Paulus mengemukakan apa-apa saja yang “harus dilakukan” dan apa-apa saja yang “harus dihindari” dari hidup dan bahkan persekutuan orang-orang Kristen.

   II.            Exegese dan Aplikasi
Kalau kita daftarkan nasihat-nasihat Paulus dalam perikop ini, maka pada hakekatnya dapat dibagi menjadi dua bagian, bagian yang pertama perintah larangan: janganlah, jauhi, dll (dalam bahasa etika disebut hukum negative), seperti: jangan pura-pura, jauhi yang jahat lakukanlah yang baik (ayat 9), janganlah hendaknya kerajinanmu kendor….(11a), jangan membalas kejahatan dengan kejahatan (ayat 17), jangan….dll

Bagian yang kedua adalah hukum yang sifatnya untuk dilakukan (sering disebut hukum positip), seperti: lakukanlah yang baik (ayat 9c), saling mengasihi, saling mendahului memberi hormat (ayat 1), bersukacitalah dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, bertekunlah dalam doa (ayat 12), bantulah…., berilah tumpangan, berkatilah yang menganiaya kamu, berkatilah yang mengutuk (ayat 14), bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, menangislah dengan orang yang menangis (ayat 15), hendaklah sehati sepikir, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang, dll.

Sangat tepat dengan judul yang ada dalam Alkitab kita “nasihat untuk hidup di dalam kasih”, kasih adalah benar-benar azas yang dasariah dalam hidup Kristen, Kasih jauh melebihi emosi, jauh lebih kuat dari perasaan yang paling halus. Kasih (agape) adalah sifat dasar “kemurahan Allah” dalam menyelamatkan dunia.

1.      Kasih yang murni, bukan pura-pura, pasti bekerja dengan rupa-rupa cara; kasih pasti menimbulkan rasa kebencian  pada kejahatan, dan kehausan akan yang baik. Kasih mendorong untuk saling mengasihi, saling mendahului dalam memberi hormat, mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan sendiri terlebih-lebih dalam komunitas Kristen dimana kamu hadir. Artina kasih yang melayani, kasih yang aktif. (ayat 9-10)
2.      Kalau kasih berkuasa maka semangat tidak akan kendor, dan pelayanan kepada Tuhan akan semakin  baik. Kerajinan yang disebabkan kasih akan membawa akibat yang positif bagi persekutuan jemaat. Kerajian yang disebabkan motivasi dunia akan membawa pengaruh yang tidak baik bagi diri sendiri dan persekutuan (ayat 11-13).
3.      Petunjuk-petunjuk lain dalam etika Kristen.
Kita sebagai orang percaya hidup bukan sendiri di dunia ini, tapi kita berdampingan dengan orang-orang yang berkepercayaan yang lain dengan kita. Dalam sentuhan itu, kita harus menunjukkan bahwa kita hidup di dalam kasih, dan tetap mempertahankan iman dan kepercayaan kita. Kita harus tetap tanggap akan lingkungan social kita dengan memancarkan terang kasih kita kepadanya (ayat 12-21)

Jika kita perhatikan perintah-perintah dalam perikop ini lebih banyak menuju kepada peran aktif yang harus kita lakukan dari pada larangan-larangan.
 Oleh sebab itu perlu kita sadari bahwa melakukan “ hidup di dalam kasih”  tidak hanya patuh pada larangan-larangan Tuhan (janganlah…..) tetapi juga  harus aktif melaksanakan perintah positif yang diperintahkan oleh Tuhan. Jangan hanya terfokus pada “Jangan…..tetapi juga harus focus pada “aktif”.



III.            Kesimpulan
Jangan hanya focus pada larangan-larangan, tetapi kita juga harus aktif pada perintah positif yang diperintahkan oleh Tuhan. Hendaklah “kasih” mewarnai seluruh hidup orang percaya; dalam berpikir, bertindak, hidup dalam keluarga, hidup di dalam persekutuan, dan juga hidup di dalam berdampingan dengan orang-orang yang berlainan kepercayaan dengan kita. Tuhan Yesus memberkati.



Kepustakaan

Davidson F dan Ralph P. Martin, “Tafsiran Roma” dalam Tafsiran Alkitab Masakini, Yayasan   Komunikasi Binakasih/OMF, Jakarta 1999







Saturday, August 16, 2014

KHOTBAH MINGGU 17 AGUSTUS 2014
GMI KASIH KARUNIA, JALAN HANG TUAH 2 MEDAN


Nats Alkitab    : Kejadian 45:1-15
Epstel              : Roma 11:1-2a, 29-32
Responsoria    : Mzm 133:1-3
Thema             : Rekonsiliasi melalui pengampunan
Oleh                : Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA

       I.            Pendahuluan
Kisah Yusuf dengan saudara-saudaranyea adalah suatu rentetan kisah yang cukup menarik dan sangat dinamis. Kisah itu diawali dengan kebencian/irihati dari dari saudara-saudaranya  oleh karena dia menerima perlakuan istimewa dari orangtua mereka (Kej. 37), sehingga saudara-saudara mereka  dengan kekejaman dan tipu daya menjual Yusuf ke Mesir.
Di negeri Mesir, walau hanya sebagai seorang budak Yusuf bisa menunjukkan integritas moral dan iman (dengan isteri Potifar) walaupun akibatnya dia harus mendekap di dalam penjara. Melalui  penjaralah akses Yusuf jalan untuk menjadi orang nomor dua di Mesir, ditetapkan sebagai pemimpin untuk menghadapi  7 tahun kelaparan  di negeri itu, dan tentu saja akibatnya sampai ke Kanaan sebagai tempat tinggal orang tua Yusuf.
Melalui masa kelaparan itu Yusuf bisa  kembali  bertemu dengan saudara-saudaranya yang datang mencari makanan  ketika  disuruh oleh ayah mereka Yakub.
Peristiwa Pertemuan itulah yang diceritakan secara dramatis dalam Kejadian pasal 43-45  ini, termasuk bagian khotbah ini.

    II.            Exegese Nats dan Aplikasi
Ada beberapa hal yang perlu kita pelajari sebagai  dalam pertemuan antara Yusuf dengan saudara-saudaranya tersebut. Kita mengetahui sebagai manusia Yusuf sangat menderita akibat ulah dari saudara2 nya tersebut, tetapi ia melihat penderitaan itu sebagai rencana Allah untuk mendatangkan berkat.  
1.      Yusuf focus pada Allah, bukan pada masalah
Yang sering terjadi dalam kehidupan manusia adalah dendam dan berusaha membalas segala tidakan yang pernah orang lain lakukan dimana ada kesempatan. Mengampuni orang yang pernah menyakiti memang tidaklah mudah. Namun ada sesuatu yang berbeda dalam kisah Yusuf. Yang terjadi justru peristiwa yang sangat mengharukan. Yusuf menangis dan memeluk saudara-saudaranya. Yusuf meyakinkan saudara-saudaranya, "Janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu" (ay. 5).

Kenapa hal demikian dapat ia lakukan? Inilah jawabannya! Yusuf dapat melihat peristiwa masa lalu sebagai campur tangan Allah! Karena itu ia tidak marah atau dendam atas perbuatan jahat saudara-saudaranya itu di masa yang lalu. Ia tidak terfokus pada peristiwa pahit yang pernah dialaminya, tetapi melihat sesutu yang lain, sesuatu yang indah yang dikerjakan Allah. Allah mengubah segala keadaan perjalanan hidup yang pahit, menjadi rancangan damai sejahtera. Allah memakai Yusuf untuk memelihara kelangsungan hidup garis keturunan Kristus.  Peristiwa itu tidak terjadi dalam satu hari, tetapi memakan waktu bertahun-tahun. Itulah proses yang Allah lakukan bagi umat percaya.

Saudara, kisah Yusuf ini merupakan suatu penghiburan yang besar tatkala kita merasa sangat menderita. Kita diajak untuk belajar dari satu perkara penting, bahwa dibalik itu semua rencana Allah sungguh indah. Melalui kebenaran firman Tuhan ini menyiratkan satu pemahaman yang mendalam, seperti yang diungkapkan oleh Yusuf sendiri bahwa Allah mengutusnya untuk mendahului mereka.  Jika Allah memberi Anda suatu permulaan yang sulit janganlah terfokus pada masalah, tetapi bersandar dan mintalah kekuatan dari-Nya untuk dapat melewati hal itu.

Dalam kehidupan sebagai orang beriman, mungkin kita seringkali mengalami peristiwa-peristiwa yang menyakitkan. Dikhianati, difitnah, dijatuhkan, dan aneka bentuk peristiwa menyakitkan lainnya. Dalam proses itu, jika kita tetap setia dalam keyakinan iman dan percaya bahwa Allah menyertai kita, maka hidup kita pun akan berakhir dengan kemenangan dan sukacita. Berhentilah untuk menyesali diri atas peristiwa yang mungkin sedang kita alami kini. Berhentilah memelihara dendam berkepanjangan yang sebenarnya hanya menambah susah. Berhentilah dari hanya terfokus terhadap masalah pahit yang menjepit. Tapi percayalah bahwa Allah juga mengasihi kita, walau apa yang Allah lakukan terkadang tampaknya mustahil untuk dimengerti (bdk.Mzm. 105). Kita harus memusatkan pikiran kepada Allah, bukan kepada masalah. Kita harus berkonsentrasi pada apa yang sedang dan akan Ia lakukan, yaitu rancangan berkat dan damai sejahtera bagi kita.
2.      Rokonsiliasi dan Hidup Rukun
Apakah kita rukun dengan orang yang ada di sekitar kita ?  Jawabannya adalah: jangankan dengan “orang lain” dengan saudara sendiri pun ada yang tak hidup rukun. Persoalan yang paling mungkin terjadi adalah dengan orang yang paling dekat dengan kita, isteri, suami, saudara dan lain-lain. Oleh sebab itu ketika ada persoalan perlu ada rekosiliasi (perbaikan hubungan) dan saudara kembarnya adalah pengampunan.
Ada sebuah pertikaian antara desa ke desa (desa A dengan B), kedua desa ini berbatasan dipisahkan oleh sebuah sungai (namanya sungai sebangkau). Sungai ini adalah pemersatu antara kedua desa itu karena sama-sama hidup dari air sungai itu. Persolan muncul ketika desa A menamai desanya sesuai dengan nama sungai itu, sehingga desa B tidak setuju. Sehingga kedua desa ini terjadi perang, banyak korban jiwa dan kerugian lainnya. Setelah lama berperang mereka sadar, dan mereka mau duduk  bersama dan menyelesaikan permalsahan itu. Dan akhirnya dibuat kesepakatan bahwa kedua desa itu boleh memakai nama sungai itu. Yang satu bernama Sebangkau A dan yang satu lagi Sebangkau B. Sejah saat itu terjadilah pemulihan dan perdamaian antara dua desa tersebut seperti keadaan semula. Itulah Rekonsiliasi : sebuah tindakan memulihkan hubungan atau perdamaian antara dua pihak yang pernah bertikai, secara sadar dan tulus agar hubungan kembali pada keadaan semula. Itulah yang dilakukan Yusuf dengan senjatanya yang dahsyat yaitu: Pengampunan. Pengampunan adalah penerimaan terhadap sikap seseorang yang melukai kita tanpa melihat mau tidaknya si pembuat luka memperbaiki sikapnya. Maukah kita melakukannya?

 III.            Kesimpulan

Mari kita fokuskan mata kita kepada rencana Allah dalam hidup kita, dan janganlah focus kepada permasalahan karena Allah mempunyai rancakan yang indah bagi orang-orang percaya. Mari kita mengadakan rekonsiliasi dengan orang-orang yang dekat dengan kita melalui senjata yang ampuh yaitu: pengampunan. 

Friday, August 15, 2014

BAHAN SERMON LS, CLS, MAJELIS GMI  KASIH KARUNIA
JUMAAT 15 AGUSTUS 2014
                                       

Nats Alkitab    : Roma 12:1-8
Thema             : Hidup oleh Kemurahan Allah
Oleh                : Pdt. T.M. Karo-karo, STh,MA
(bisa dibaca di: gmikasihkarunia.blogspot.com)

       I.            Pendahuluan
Pasal 12 merupakan bagian aplikasi  surat Roma, setelah sebelumnya Paulus secara panjang lebar membahas tentang keselamatan dan mengakhirinya dengan sebuah doxology (bd. 11:33-36). Dalam Pasal 12:1-8 Paulus membahas tentang dua macam pelayanan orang Kristen, yaitu pelayanan pribadi kepada Tuhan (ayat 1-2) dan pelayanan komunal dalam konteks gereja (ayat 3-8). 

    II.            Exegese dan Aplikasi

Kata “karena itu” dalam ayat 1 menunjukan adanya hubungan yang erat antara pasal 12 dengan ayat-ayat sebelumnya. Dan perkataan “demi kemurahan Allah”  mempunyai arti: kemurahan, belas kasihan, kasih sayang. Yang dapat diartikan: belas kasihan yang diberikan kepada seseorang yang sedang dalam kesulitan atau kesusahan.
Orang percaya adalah orang yang telah menerima belas kasihan Allah, dari yang tidak layak menjadi layak, dari yang seharusnya binasa menjadi selamat, itu adalah kemurahan Allah. Dan inilah dasar kita  untuk melayani, beribadah dan bersyukur kepadaNya.
Ada tiga sikap yang harus dimiliki orang percaya sebagai orang yang hidup dalam kemurahan Allah:

1.   Memiliki Ibadah yang sejati (ayat 1)
Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan kepada Allah dengan memperhatikan  tiga aspek yaitu, hidup, kudus dan berkenan kepada Allah.
·         Mempersembahkan (parastesai) berarti; menyediakan, membawa dan mempersembahkan.
·         Hidup (zaw): tidak mati, dapat bergerak dan bertindak, aktif dengan penuh kekuatan.
·         Kudus (agios): suci secara fisik, suci moral dan rohani
·         Berkenan (eu arestos) : menyenangkan, dapat diterima, baik
Bila hasil menyenangkan berarti motivasinya benar.
Ketiga unsur ini harus berjalan secara bersamaan, keaktifan kita beribadah atau melayani Tuhan harus dibarengi dengan kekudusan hidup. Dan ketika kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan motivasi kita adalah menyenangkan Tuhan  bukan menyenangkan diri kita.

2.   Berani berbeda dengan dunia (ayat 2)
Janganlah kamu serupa dengan dunia (ayat 2), serupa: sama, tidak bisa dibedakan; dunia: mengacu kepada segala hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Dunia identik dengan kegelapan, sedangkan orang percaya adalah terang. Bila kehidupan kita tidak bisa dibedakan dengan dunia, bagaimana hasilnya? Maka Paulus menasehati: berubahlah oleh pembaharuan budimu. Yang bebarti: pembaruan pikiran, pengertian, akal dan perasaan. Sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah---menguji atau melihat apakah sesuatu asli atau palsu.

3.   Memiliki kerendahan hati (ayat 3-8)
Dalam BIS : 12:3 Allah sudah memberi anugerah kepada saya. Itu sebabnya saya menasihati Saudara-saudara semuanya: Janganlah merasa diri lebih tinggi dari yang sebenarnya. Hendaknya kalian menilai keadaan dirimu dengan rendah hati; masing-masing menilai dirinya menurut kemampuan yang diberikan Allah kepadanya oleh karena ia percaya kepada Yesus----berpikir menganggap lebih tinggi dari pada sepantasnya. Intinya kerendahan hati, Paulus memberikan  alasan mengapa orang percaya harus memiliki kerendahan hati:
·         Karena kita adalah satu tubuh di dalam Kristus, berarti satu pemilik, satu tujuan, yaitu mempermuliakan Allah.
·         Kita mempunyai tugas yang berbeda antara satu dengan yang lain, tetapi satu tujuan untuk mempermuliakan Allah.
Jangan menjadi sombong dan menganggap lebih baik dari pada yang lain, tetapi milikilah kerendahan hati sebab kita sudah menerima kemurahan Allah.

 III.            Kesimpulan
Orang percaya adalah orang yang hidup dalam kemurahan Allah, karena itu harus memiliki sikap, yaitu memiliki ibadah yang sejati, berani tampil beda dengan dunia dan memiliki kerendahan hati.


Kepustakaan

Davidson F dan Ralph P. Martin, “Tafsiran Roma” dalam Tafsiran Alkitab Masakini, Yayasan   Komunikasi Binakasih/OMF, Jakarta 1999
Imanzanwordpress.com, Hidup oleh Kemurahan Allah.





Friday, August 1, 2014

BAHAN SERMON LAY SPEAKER, MAJELIS GMI KASIH KARUNIA
JUMAAT 01 AGUSTUS 2014
Nats Alkitab: Roma 10:4-15
Thema: Kristus adalah kegenapan Hukum Taurat
By: Pdt. T.M.Karo-karo,STh, MA


       I.            Pendahuluan
Dalam bagian ini Rasul Paulus hendak membuktikan bahwa semua manusia adalah orang berdosa, dan bagaimana orang berdosa ini dapat diselamatkan. Istilah teologi untuk keselamatan ini ialah pembenaran oleh iman (Justification by faith), dimana pembenaran ini adalah tindakan Allah untuk membenarkan orang berdosa di dalam Kristus berdasarkan karya penyelamatan Kristus yang sempurna di kayu salib. Disini Paulus juga ingin berbicara mengenai hubungan antara Injil dengan hukum Taurat, dimana doktrin pembenaran oleh iman tidak bertentangan dengan hukum Taurat karena doktrin ini justru meneguhkannya.(3:27-31). Pernyataan ini adalah untuk meluruskan pandangan Jahudi terhadap hukum Taurat itu, dimana mereka yakini bahwa dengan melakukan hukum Taurat keselamatan itu akan mereka peroleh. Orang-orang Kristen Jahudi bertanya, bagaimana hubungan antara doktrin pembenaran karena iman dengan sejarah kita..? 

    II.            Tafsiran
Di dalam ayat 4 ada dua hal yang ditekankan: (1) siapa Kristus sebenarnya; (2) siapa yang memperoleh manfaat dari Kristus. Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya. Kata kegenapan (telos)  tampaknya memadukan pengertian dari kata sasaran dan akhir. Kita tidak dapat mengatakan bahwa Kristus hanyalah sasaran dan akhir dari hukum Taurat. Lebih tepat kalau dikatakan bahwa Dia adalah sasaran dan akhir dari hukum Taurat dalam kaitan dengan kebenaran. Sebelum Kristus datang, orang-orang yang percaya kepada Allah berada dalam ketegangan. Artinya, mereka dijanjikan akan memperoleh hidup dengan syarat bahwa mereka hidup dengan cara yang tidak mungkin dapat mereka penuhi. Dalam ayat 5,  Sekalipun ketika mengutip Musa, Paulus sedikit mengubah Imamat 18:5 dari naskah Ibrani dan Yunani, ia pada dasarnya memberikan pengertian yang benar dari ayat itu. Orang yang melakukannya (kebenaran yang dituntut oleh hukum Taurat) akan hidup karenanya. Di dalam naskah Yunani (Septuaginta) untuk Imamat 18:5, orang percaya Yahudi diperintahkan untuk memelihara semua ketetapan dan peraturan. Sekalipun seorang yang percaya kepada Allah berusaha sebaik-baiknya untuk memenuhi tuntutan untuk hidup benar yang ditetapkan hukum Taurat. Dia juga sadar akan segala kegagalannya. Keadaan tidak konsisten ini menghasilkan ketegangan. Karena itu ia selalu menyajikan persembahan kurban tebusan salah dan kurban penghapus dosa. Sebab itu, seorang Yahudi yang percaya tidak dapat berpegang pada Imamat 18:5 sebagai landasan hukum yang menjamin dirinya memperoleh hidup kekal, tetapi hanya sebagai janji dari Allah menyangkut persekutuan manusia dengan Dia. Manusia tidak dapat melihat ayat tersebut sebagai sebuah peraturan hukum. Kalau manusia berbuat demikian maka ketegangan yang muncul tidak tertahankan. Kristus telah mengakhiri ketegangan ini. Melalui kehidupan dan kematian-Nya Dia menyatakan kebenaran sempurna dari Allah, yang dicurahkan oleh Bapa melalui iman kepada Anak. Inilah sasaran yang ditunjuk oleh hukum Taurat. Kehidupan dan kematian Kristus mengakhiri ketegangan yang muncul karena adanya janji kehidupan kepada manusia dengan syarat yang tidak akan pernah dapat dipenuhinya. Karena manusia tidak dapat hidup sebagaimana dikehendaki oleh Allah, keselamatan di bawah Perjanjian Lama maupun di bawah Perjanjian Baru haruslah oleh iman.
Di dalam Roma 10:6-8 Paulus mengutip Ulangan 30:12-14 dengan menyisipkan aneka tanggapan dan frasanya sendiri. Di dalam nas Perjanjian Lama, kata -"nya" di dalam pertanyaan mengenai siapa yang akan naik atau siapa yang akan menyeberang untuk mengambil-"nya" bagi manusia, mengacu kepada perintah untuk "mengasihi Tuhan, Allahmu." Perintah Allah inilah yang ada di dalam hati dan diucapkan oleh mulut orang Israel itu. 6, 7. Tetapi Paulus mengambil kalimat dalam Ulangan itu dan memakainya untuk soal kebenaran yang diperoleh karena iman. Paulus mengaitkan masalah naik dan menyeberang itu dengan soal naik dan turunnya Kristus. 8. Ucapan yang ada di mulut dan dalam hati ialah firman iman yang kami beritakan. Paulus tidak mengatakan bahwa Musa di dalam kitab Ulangan menubuatkan bahwa kebenaran akan diperoleh melalui iman. Yang dikatakan Paulus ialah, "Kebenaran karena iman berkata demikian" (10:6). Kesesuaian dua perjanjian tersebut ditunjukkan oleh fakta bahwa kebenaran ini ternyata demikian cocok dengan kalimat di Perjanjian Lama itu.

 III.            Kesimpulan/Aplikasi

Ucapan Paulus ini dapat mengandung dua arti. Pertama, Tuhan Yesuslah sebenarnya tujuan Taurat sebab hanya Ia telah memenuhi tuntutan Taurat dengan sempurna. Kedua, karena itu Ia menggenapi Taurat. Bukan lagi Taurat jalan untuk orang berharap diselamatkan, tetapi iman kepada-Nya saja jalan keselamatan. Kenyataan itu tidak perlu dipersoalkan lagi. Sebab Yesus Kristus nyata-nyata sudah datang menjadi manusia, mati dan bangkit. Mempertanyakan ulang fakta itu seolah orang yang ingin mencoba menjelajahi jurang tak terukur yang telah dijembatani Kristus (ayat 7).
Iman di hati, pengakuan di mulut. Keduanya tak dapat dipisahkan. Berseru (memanggil dalam doa) hanya dapat dilakukan oleh orang yang percaya (ayat 14). Percaya yang sungguh akan terungkap dalam pengakuan di mulut. Israel telah menerima berita keselamatan melalui para rasul, dan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama menunjuk kepada Kristus. Namun mereka tidak percaya. Sayang Israel tak dapat berseru kepada Kristus karena mereka menolak Kristus. Seluruh umat manusia terancam binasa dalam murka Allah. Semua suku bangsa, setiap orang perlu mendengarkan Injil. Kita yang telah mengalami kebaikan Yesus, tidakkah tergerak membawa kabar baik bagi mereka?


Daftar Pustaka
Davidson F dan Ralph P. Martin, “Tafsiran Roma” dalam Tafsiran Alkitab Masakini, Yayasan   Komunikasi Binakasih/OMF, Jakarta 1999
Alkitab Sabda, www.alkitabsabda.co.id


Monday, July 14, 2014

Khotbah  Minggu 13 Juli 2014 GMI Kasih Karunia
Nats Alkitab  : Matius 13:1-9; 18-23
Tema : Tidak sia-sia orang yang menerima Firman Allah.

Pendahuluan :
Perumpamaan tentang seorang Penabur adalah Firman Allah yang tidak asing lagi bagi kita. Perumpamaan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari penduduk Palestina pada abad pertama. Penabur yang menebarkan benih di atas tanah yang telah dibajak, dicangkul atau dibersihkan supaya dapat ditanami. Walaupun tidak dijelaskan apa yang ditabur, namun biasanya berupa biji-bijian. Biasanya ladang gandum memiliki jalan setapak di sekeliling ladang. Karenanya kalau pada ayat 4 ada benih yang jatuh di pinggir jalan berarti di tepi jalan setapak itu atau diatas jalan itu sendiri. Datanglah burung yang seperti kelaparan dan rakus memakannya sampai habis.
Ada juga yang jatuh di tanah yang berbatu-batu artinya di tanah tipis yang melapisi batu-batuan. Sinar matahari segera memanaskan batu-batuan yang hanya dilapisi tanah tipis, sehingga benih yang ada didalamnya bertunas lebih cepat dari pada benih yang tersimpan di bawah lapisan tanah yang dalam. Mengingat tanah tidak cukup, maka dia tidak dapat bertahan untuk tetap hidup. Bahkan panas matahari membuat tunas-tunas itu cepat layu, kering dan mati karena akarnya tidak masuk cukup dalam. Cepat bertunas dan cepat mati.
Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri. Ayat ini memberi kesan bahwa sebagian dari benih tertabur ke atas sekumpulan semak duri yang telah lama tumbuh atau rumput liar yang tumbuh dengan cepat dan memiliki banyak duri. Benih yang ditabur ternyata tumbuh serempak dengan rumput liar itu. Bahkan tumbuhan berduri itu lebih cepat dan mempunyai daya tahan yang lebih kuat dari pada benih yang ditabur. Akhirnya biji yang ditabur terhimpit dan mati.
Sebagian dari benih yang ditabur itu jatuh di tanah yang subur, lalu berbuah; bahkan ada yang seratus, ada yang enam puluh, dan ada juga yang tiga puluh kali lipat. Ternyata benih yang jatuh di tanah yang subur, dimana tanahnya cukup tebal dan tidak di tumbuhi semak berduri dapat menghasilkan panen yang luar biasa.
Ayat 9 ini mengulangi ayat 15 “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!
Walaupun Perumpamaan seorang Penabur kita temui juga pada Injil Markus dan Lukas. Namun apa arti perumpamaan itu secara khusus dengan penjelasannya hanya ada pada Injil Matius 13:18-23. Yesus menerangkan kepada murid-muridNya tentang apa arti perumpamaan yang telah diceritakan dalam ayat 1-9.
Barang siapa yang mendengar firman...sama seperti benih yang ditaburkan.
Benih yang jatuh di jalan ibarat orang-orang yang mendengar kabar tentang bagaimana Allah memerintah, tetapi tidak mengerti. Si jahat itu adalah iblis akan merampas apa yang sudah ditabur dalam hati mereka. Inilah keadaan orang yang digambarkan benih yang jatuh di sepanjang jalan setapak itu.
Lain halnya dengan benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu. Ibarat orang-orang yang mendengar kabar itu, dan langsung menerimanya dengan senang hati. Tetapi karena tidak berakar dalam hati mereka, sehingga saat diperhadapkan dengan penindasan atau penganiayaan oleh karena firman itu, maka mereka segera meninggalkannya. Cepat bertunas dan cepat mati. Segera menerima firman dengan sukacita, namun karena ada tantangan atau kesulitan segera pula berubah hatinya. Firman itu tidak tertanam dan meresap dalam hatinya. Sehingga hanya bertahan untuk sementara saja. Ia langsung meninggalkan imannya.
Sedangkan benih yang jatuh di tengah-tengah semak berduri ibarat orang-orang yang mendengar kabar itu, tetapi khawatir tentang hidup mereka dan ingin hidup mewah. Karena itu khabar dari Allah terhimpit di dalam hati mereka sehingga tidak berbuah. Orang seperti ini membiarkan kecintaannya pada kekayaan menguasai hidupnya, sehingga tiada tempat bagi firman itu sendiri. Kata menghimpit berarti mencekik, yang menggambarkan bagaimana semak berduri yang tumbuh di sekeliling tunas yang baru muncul itu dan menutupinya, sehingga mencekiknya sampai mati. Firman tidak mempengaruhi kehidupan orang itu. Firman tidak berdampak dalam hidupnya.
Tentu beda dengan benih yang jatuh di tanah yang subur. Ibarat orang-orang yang mendengar firman itu dan dengan sungguh-sungguh mencoba untuk memahaminya. Mereka berbuah banyak, ada yang seratus, ada yang enam puluh, dan ada yang tiga puluh kali lipat hasilnya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Tanah adalah hati manusia. Tergantung pada tanah adalah bergantung pada hati. Hati manusia itu ada yang keras seperti batu. Semua pikiran yang baik, nasihat serta bimbingan yang baik tidak bisa masuk kedalam hatinya. Ada hati yang penuh duri. Suka mematikan nasihat yang baik dengan perasaan curiga, ragu-ragu dan kurang percaya. Ada hati manusia seperti tanah di pinggir jalan. Sikap mereka seperti orang di pinggir jalan. Suka menonton dan tidak pernah mau terlibat dalam tindakan atau perbuatan yang baik. Namun tanah yang baik adalah hati yang baik. Orang yang berhati baik tidak sama dengan orang yang pintar atau sekolahnya tinggi. Bahkan bisa juga jadi orang pintar mempunyai hati berbatu dan berduri. Agar tercapai kemajuan diperlukan orang yang mempunyai tanah hati yang baik. Bukan saja tergantung kepada pimpinan yang baik atau Pendeta yang baik atau khotbah yang baik.

Refleksi:
Jatuh di pinggir jalan → Mendengar tetapi tidak mengerti
Jatuh di tanah yang berbatu-batu → Mendengar tetapi tidak berakar
Jatuh di tengah semak duri → Mendengar tetapi tidak berbuah
Jatuh di tanah yang baik → Mendengar dan mengerti
AD 1
Selama kesiapan kita mendengar Firman Tuhan hanya sekedar menjalani rutinitas, dengan sekejap Firman yang ditaburkan itu akan hilang. Dari dalam dirinya memang sudah keras untuk tidak mau menerima pertumbuhan Firman Tuhan.
AD2
Selama kesiapan kita mendengar Firman Tuhan hanya menerima tetapi tidak mau menyelidiki dan memahami lebih dalam, maka ketika berhadapan dengan realita hidup Firman yang ditaburkan itu pun akan mati. Sebab orang itu mendengar Firman Tuhan hanya siap untuk membuat dia senang dan gembira tanpa mempertanyakan apakah dia sudah menyenangkan Tuhan. Justru sebaliknya, pendengarannya akan Firman Tuhan di pakai untuk menyelidiki kesalahan dan dosa orang lain, sementara dia tidak menyelidiki dirinya. Dalam 2 Korintus 13:5dikatakan: "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman".
AD3
Selama kesiapan kita mendengar Firman Tuhan hanya sampai pada mengetahui, maka Firman yang ditaburkan itu pun akan mati terhimpit. Dia sudah mendengar, menerima dan mengetahui apa yang seharusnya dia perbuat, tetapi dia tidak lekas bertindak karena ternyata dia lebih mengikuti keinginan dagingnya daripada keinginan Tuhan.
AD4

Tetapi Firman Tuhan itu akan bertumbuh dan menghasilkan buah adalah yang mendengar dan mengerti. Yang tidak mengerti adalah sikap ketidaksungguhan dan penolakan dari dalam diri, yang walaupun mendengar, mengetahui tetapi tidak membuka diri (Rm. 1:21,28,32) untuk dikuasai oleh Firman Tuhan (bnd. Neh. 8).