BAHAN SERMON MAJELIS, LAY SPEAKER,
CLS GMI KASIH KARUNIA
Jumaat 11 April 2014
Nats: Yohanes 12:20-36
“Salib Meninggikan Yesus Dan Menarik
Semua Orang KepadaNya”
Pendahuluan.
Orang banyak yang mengelu-elukan Yesus ketika Dia memasuki
Yerusalem sambil berharap bahwa Yesus
akan menjadi Raja, pemimpin mereka. Hal itu terjadi menjelang perayaan Paskah,
yaitu perayaan memperingati pembebasan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir. Namun
pada sisi lain, orang-orang Farisi justru sedang gusar, karena semakin
bertambah hari pengikut mereka semakin berkurang karena beralih kepada Yesus,
seperti yang mereka nyatakan pada pasal 12:19,“Kamu lihat sendiri, bahwa kamu
sama sekali tidak berhasil, lihatlah, seluruh dunia datang mengikut Dia.”
Orang banyak yang mengikut Yesus, demikian juga dengan
orang-orang yang tidak senang akan kehadiranNya, pada dasarnya mereka sama-sama
belum memahami apa misi Yesus yang sesungguhnya. KedatanganNya bukanlah sebagai
raja untuk golongan tertentu, seperti pemahaman orang banyak. Bukan untuk
menggulingkan pemerintahan Romawi, bukan pula pesaing bagi ahli Taurat, imam
kepala, Farisi maupun Saduki. Dia datang untuk menyelamatkan umat manusia dari
kebinasaan akibat dosa, dan misi penyelamatan itu Dia kerjakan melalui jalan
salib. Hal itulah yang Yesus sampaikan dalam perikop ini: “bahwa Dia akan disalibkan, dan
dengan jalan itu Ia akan menarik semua orang datang kepadaNya”.
Beberapa Catatan dan penjelasan:
1. Pelayanan Yesus tidak hanya
berpengaruh bagi bangsaNya (Israel), tapi juga bagi orang-orang Yunani.[1]
Orang-orang Yunani itu berada dalam iring-iringan orang yang akan merayakan
Paskah di Yerusalem, namun mereka punya tujuan khusus, yaitu: ingin bertemu
dengan Yesus, dan keinginan itu disampaikan melalui Filipus, diteruskan kepada
Andreas. Yohanes tidak mencatat apakah orang-orang Yunani itu akhirnya mereka
bawa menemui Yesus. Tapi dalam uraian selanjutnya ada kesan bahwa mereka
bersama-sama.
2. Yohanes juga tidak mencatat
apa maksud orang-orang Yunani itu ingin bertemu Yesus, tapi dari penjelasan
Yesus, ada kesan bahwa mereka salah dalam memahami arti kehadiran Yesus di
Yerusalem saat itu. Untuk menjelaskan apa yang akan terjadi atas diriNya, Ia
memakai gambaran tentang biji gandum. Sebuah prinsip alam bahwa kematian
(pengorbanan) mutlak perlu bagi kehidupan selanjutnya. Satu biji gandum yang
ditanam akan menghasilkan banyak bulir gandum, begitu pula Yesus, bahwa
kematianNya di kayu salib akan menyelamatkan/menghasilkan/membawa banyak orang
kepada kehidupan.
3. “Mencintai nyawanya” dan “tidak
mencintai nyawanya” adalah istilah-istilah relatif oleh umat manusia yang
harus memberikan tanggapan pribadinya terhadap Yesus. Mengikut Yesus berarti
melayani Dia, bukan melayani diri sendiri. Allah Bapa hanya memuliakan mereka
yang memuliakan Anak-Nya, yaitu Yesus.
4. Salib adalah jalan yang harus
dilalui oleh Yesus untuk mewujudkan misi penyelamatan itu. Yesuspun terharu
ketika menyadari saat kematianNya yang makin dekat. Dalam ucapanNya ada
tersirat kegundahan hati, Ia tahu secara mendalam bahwa saat istimewa ini
adalah pengalaman pahit dari seluruh karya penebusanNya. Namun kegundahan itu
dengan tegas ia tolak, sebab justru untuk menjalani kematian itulah maka Ia
datang. Sikap Yesus itu disambut dengan suara dari surga, “Aku telah memuliakanNya,
dan Aku akan memuliakanNya lagi.” (ay. 28). Suara itu menyatakan
pembenaran ilahi atas pilihan Yesus.
5. Ada tiga reaksi terhadap
suara sorgawi itu: ada yang mendengar bunyi Guntur, yang menunjukkan bahwa
telinga mereka tidak terbuka untuk menerima pernyataan. Yang lain mendengar
semacam corak komunikasi, tapi memikirkan tidak lebih daripada malaikat. Hanya
Yesus yang mengenal suara itu selaku “pernyataan sorgawi” untuk mereka yang
berada disitu.
6. Peristiwa penyaliban itu
adalah peristiwa penghakiman atas dunia ini. Dengan penyaliban Yesus, akan
nyata siapa yang berada satu barisan denganNya, yaitu mereka yang mau menerima
keselamatan dan siapa yang menolak Dia. Penyaliban Yesus akan menarik orang
datang kepadaNya. Perkataan “menarik” dalam pasal 6:44, berbicara tentang
penarikan manusia oleh Bapa kepada Kristus. Dalam nas ini, Kristus yang
disalibkan akan bertindak sebagai magnit yang pengaruhnya tidak dapat dielakkan
oleh siapapun.
Penyaliban Yesus bukan merupakan perendahan diriNya melainkan
justru semakin meninggikan Dia bahkan akan menarik semua orang untuk datang
kepadaNya. Hanya dengan jalan kematianNya, maka orang-orang akan menyadari
siapa Dia sesungguhnya. Orang-orang akan sadar atas keberdosaannya lalu dengan
sadar pula mau mengikuti Yesus, Sang Penebus.
Karya penebusan dihubungkan dengan seluruh dunia dan tidaklah
lagi terbatas pada kalangan tertentu atau bagi bangsa terpilih saja. Dalam
perikop ini kita menemukan kata-kata: “Aku akan menarik semua kepadaku” (ayat
32) sebagai konsekuensi dari “apabila aku ditinggikan dari bumi”, yang
terang-terangan berarti apabila aku mati di atas kayu salib (ayat 33 dan ayat
34).
Jadi Paskah yang ingin kita rayakan membenarkan kita sebagai
anggota dari suatu persekutuan yang terdiri dari orang yang “ditarik” dari
seluruh dunia dan itulah sebabnya Yesus datang ke dunia ini.
[1]
Kemungkinan besar mereka adalah orang-orang Yunani yang sudah di-Yahudikan
dengan upacara tertentu, karena tanpa itu mereka tidak diperkenankan ikut dalam
iring-iringan dalam perayaan paskah tersebut.

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.