Friday, October 17, 2014

SERMON MAJELIS, LAY SPEAKER, CALON LAYSPEAKER
GMI KASIH KARUNIA, JLN HANG TUAH 2 MEDAN, Jumaat 17 Oktober 2014


Nats Alkitab   : I Tesalonika 2:1-8
Thema            : Sifat-Sifat Pembawa Kabar Baik.
By                   : Pdt. T.M. Karo-karo,STh,MA
I.      Pendahuluan
Pada kesempatan ini kita belajar melalui sosok Pembawa Kabar Baik yaitu Paulus. Sesuai  kesaksiannya, Paulus mengalami tantangan yang luar biasa, baik saat menyampaikan Kabar Baik di Filipi, Paulus dihina, diseret, dianiaya, dimasukan  ke penjara. Demikian juga saat di Tesalonika, Paulus memberitakan Mesias, yaitu Yesus, ternyata orang-orang Yahudi menjadi iri hati sepakat dengan para penjahat mengadakan keributan dan kekacauan serta menghadapkan Paulus kepada sidang rakyat. Inilah kondisi yang menyebabkan Paulus disingkirkan dengan paksa dari Tesalonika menuju Berea. Kondisi orang-orang Yahudi di Berea ternyata lebih baik hatinya dari orang-orang Yahudi di Tesalonika. Paulus sangat rindu sekali dapat bertemu dengan orang-orang Kristen di Tesalonika. Kerinduan ini dinyatakan Paulus pada pasal 2:17 “Tetapi kami, saudara-saudara yang seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati, sungguh-sungguh, dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk kamu”.
Kalau kita merenungkan beratnya beban yang dialami Paulus sebagai Pembawa Kabar Baik, saat di Filipi ketika dimasukan  ke dalam penjara yang paling tengah dan membelenggu kakinya dengan pasungan yang kuat,namun Tuhan tidak tinggal diam. Saat Paulus berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah di tengah malam, Tuhan mendengar seru permohonan Paulus dengan terjadinya gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah, dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semuanya.
Demikian juga di Tesalonika, saat Paulus dituduh sebagai pengacau dan mau menghadapkan Paulus kepada sidang rakyat,maka malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus berangkat ke Berea. Tuhan menolong Paulus, sehingga ada-ada saja jalan keluarnya.
Perikop kita hari ini juga memperlihatkan tantangan yang dihadapi Paulus sebagai Pembawa Kabar Baik melalui pemberitaan palsu kepada jemaat Tesalonika binaan Paulus tersebut. Paulus dituduh menyesatkan, maksud tidak murni, tipu daya, tidak menyenangkan hati Allah mencari pujian dan lain-lain.
II.         Penjelasan Dan Aplikasi
Melalui perikop ini juga kita belajar bagaimana Paulus menanggapi pemberitaan palsu tersebut, dengan pernyataan bahwa kedatangan Paulus yang pertama kali ke Tesalonika untuk memberitakan Kabar Baik tidaklah sia-sia, artinya mencapai tujuannya atau dengan kata lain ada hasilnya.
Mengapa berhasil? Karena pertolongan Allah semata, sehingga Paulus mempunyai keberanian. Walaupun dimana-mana tempat ada perlawanan, banyak orang berusaha membungkamkan dan mencegah Paulus memberitakan Kabar Baik, tidak membuat Paulus trauma. Allah telah memberikan kekuatan esktra dan membuang rasa takut di hati Paulus. Terlebih Kabar Baik yang diberitakan Paulus fokus berita tentang Tuhan Yesus Kristus, dan berasal daripada Allah, bukan yang lain-lain atau tentang dirinya. Kristus adalah isi pemberitaan, sedangkan Allah adalah sumber Kabar Baik itu sendiri. Tidak ada pikiran-pikiran yang buruk atau mencoba menipu siapapun
Banyaknya penderitaan dan tantangan tidak membuat Paulus menyerah untuk memberitakan Kabar Baik, sebaliknya bagi Paulus tantangan itu justru menjadi peluang.
Pembawa Kabar Baik tetap fokus untuk menyenangkan hati Allah, bukan membuat orang senang kepada Paulus. Seperti ungkapan permazmur dalam Mzm.62:2 “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku”.
Pembawa Kabar Baik tidak pernah bermulut manis. Paulus tidak mengucapkan kata-kata yang menyenangkan orang lain, tetapi dengan tujuan menutup-nutupi maksud yang sebenarnya, yakni maksud yang tidak baik.
Pembawa Kabar Baik tidak pernah bermaksud loba. Paulus tidak memberitakan Kabar Baik dengan maksud untuk mencari untung dari jemaat Tesalonika. Dalam hal ini Allah adalah saksi artinya Allah tahu benar apa yang Paulus lakukan, bahkan Allah mengetahui isi hati Paulus.
Pembawa Kabar Baik tidak pernah mencari pujian dari manusia. Paulus sama sekali tidak bermaksud menjadi orang terkenal. Paulus tidak berusaha membuat orang lain memujinya. Walaupun Paulus sebagai Rasul berhak menuntut apa yang dibutuhkannya, namun itu tidak dimintanya.
Pembawa Kabar baik berlaku ramah. Paulus bersikap lemah lembut sewaktu berada ditengah-tengah jemaat. Penuh kasih sayang dan baik hati.
Pembawa Kabar Baik penuh kasih sayang seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawati anaknya. Paulus tidak hanya memberikan Kabar baik dari Allah, tetapi juga dengan memberikan hidupnya.
Pembawa Kabar Baik sangat menyatu dengan penerima Kabar Baik. Paulus sangat dekat, tanpa penyekat dengan jemaat Tesalonika. Hal ini terungkap bahwa Paulus tetap mengingat dan berulang kali memakai kata-kata seperti kamu sendiripun memang tahu (2:1), seperti kamu tahu (2:2), hal itu kamu ketahui (2:5), kamu masih ingat (2:9), kamu tahu (2:11). Paulus berbuat apa saja supaya dapat menolong jemaat Tesalonika.
Dampak Pembawa Kabar Baik yang benar terungkap dalam pembacaan Mazmur 1:1-6 dengan tanda-tanda kebenaran, kasih, ketaatan kepada Firman Allah, maka hidupnya selalu diberkati dan berbahagia. Sebaliknya orang fasik pasti yang hidunya tidak tinggal dalam Firman Allah dan kesukaannya berbuat dosa akan menerima penghukuman Allah. Karenanya hidup dan pelayanan kita harus mempunyai   hasrat seperti diingatkan dalam in 2 Kor.5:9 “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya”. Hasrat sebuah keinginan yang begitu besar dan kuat. Dan ketika kita melakukannya, kita tidak bisa membedakan lagi apakah ini pekerjaan? Apakah ini bermain? Apakah ini sebuah karya sosial? Semua menyatu. Batas-batasnya hilang karena kita begitu senang. Begitu semangat untuk melakukannya. Karena mempunyai pengharapan untuk tinggal bersama-sama dengan Yesus dan memperoleh kemuliaan di masa yang akan datang serta jaminan untuk tinggal di sorga, maka semua ini mendorong kita hidup dan melayani yang berkenan kepada Tuhan. Kita harus punya ‘hasrat’ sungguh-sungguh hanya untuk menyenangkan hati Allah. Ada ‘hasrat’ untuk melakukan perbuatan yang mulia, jika hidup dan pelayanan kita sampai meninggalkan tubuh ini, biarlah semuanya berkenan kepada Allah. Tuhan Yesus Memberkati!





Saturday, October 4, 2014

RINGKASAN  KHOTBAH MINGGU TGL 05 OKTOBER 2014
Nats Khotah              : Matius  21:33-46
Thema                        :” Taat kepada Allah”

       I.          Pendahuluan
Dalam perumpamaan penggarap-penggarap kebun anggur (21:33-46), terdapat tiga karakter yang muncul. Karakter pertama ialah tuan tanah. Tuan tanah membuka kebun anggur. Tidak disebutkan di sini berapa luas tanah yang dia buka. Hanya yang dikatakan bahwa dia membuka tanah saja (ayat 33). Membuka tanah yang cukup luas membuat para penyewa dengan senang hati menyewanya. Tanah yang dia buka yang kira-kira cukup luas membutuhkan para pekerja yang banyak dan mampu mengelola dengan baik. Kemudian tuan tanah juga membuat pagar di sekelilingnya. Hal ini dia lakukan untuk menghindari kebun anggur itu dari binatang buas dan binatang itu bisa masuk ke dalam kebun dan merusak semua kebun anggur itu. Kemudian dia menggali lubang tempat untuk memeras buah anggur. Anggur itu harus diperas dan bisa langsung dijual. Kemudian dia membangun menara jaga. Menara ini dibuat tinggi agar sudut yang satu dengan sudut yang lain bisa kelihatan oleh penjaga kebun anggur itu. Hal ini juga dia buat agar melihat kalau-kalau ada bahaya atau binatang buas yang masuk ke dalam kebun anggur dan juga untuk mengintai pencuri selama musim panen dan juga tempat untuk para pekerja. Kemudian tuan tanah ini menyewakan kepada penyewa atau penggarap-penggarap itu. Tidak disebutkan berapa harga sewanya. Hanya dia menyewakan saja. Setelah dia menyewakannya, dia pergi ke negeri lain. Tidak disebutkan juga berapa lama dia di negeri lain. Tetapi kita dapat mengidentifikasikan bahwa dia pulang pada musim panen anggur. Ketika tiba musim panen, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil dari kebun anggur itu. Tetapi tidak berhasil. Dia menyuruh lagi hamba yang lain, nasib mereka juga sama dengan hamba yang pertama. Akhirnya dia menyuruh anaknya yang tunggal karena mungkin pikirnya, “anakku ini akan mereka segani”. Tetapi nasib anak ini juga sama dengan hamba-hamba yang pergi dan yang dibunuh. Malah lebih buruk lagi perlakuan yang mereka lakukan. Karena merasa kesal dan marah dalam diri tuan tanah ini, maka dia sendiri yang datang untuk menghabiskan atau membunuh penggarap-penggarap kebun angur itu karena mereka tidak bisa dipercaya untuk membagi hasilnya.
Karakter kedua kita lihat hamba-hamba dan seorang anak (ayat 34-39). Mereka tidak mengatakan apa-apa. Tetapi mereka melakukan tugas mereka dengan sukacita sebagai orang upahan dan juga seorang anak. Mereka melaksanakan tugas itu karena mereka bekerja dari tuan tanah itu dan anaknya ini adalah anak dari tuan tanah ini. Tetapi ketika mereka pergi kepada penggarap-penggarap kebun anggur itu, kekecewaan yang mereka rasakan, mereka mendapat perlakuan yang tidak benar dan sadis dari penggarap-penggarap kebun anggur itu. Mereka dilempari dengan batu, ditangkap dan bahkan ada yang dibunuh. Akhirnya yang diutus adalah anaknya sendiri. Dia pun mendapat nasib yang sama. Dia ditangkap, dibunuh, sama seperti yang mereka perbuat kepada hamba-hamba itu. Dengan penuh keyakinan kita melihat bahwa hamba-hamba dan seorang anak melaksanakan tugas mereka dengan baik. Mereka dipercaya untuk menerima bagian dari tuan tanah itu. Tetapi karena iri hati yang dimiliki oleh penggarap-penggarap kebun anggur itu, mereka membinasakan mereka semua.
Karakter ketiga kita lihat ialah penggarap-penggrarap kebun anggur. Tidak disebutkan berapa jumlah penggarap-penggarap ini. Namun dapat dipastikan bahwa penggarap-penggarap ini banyak karena melihat luas tanah yang telah dibuka oleh tuan tanah itu. Mereka menyewa kebun anggur itu dari tuan tanah. Mereka mendapat kepercayaan untuk mengelola kebun anggur itu supaya berbuah banyak dan hasilnya nanti dapat dibagi-bagikan dengan tuan tanah itu. Dengan tekun mereka mengelola dan berhasil dengan buah yang banyak. Tetapi tidak disebutkan berapa hasilnya. Hanya mereka sangat senang bahwa anggur itu bisa berbuah banyak dan menghasilkan uang yang banyak pula. Timbullah rasa iri hati dalam diri mereka. Terlihat bahwa ketika tiba musim panen, ketika tuan tanah menyuruh hamba-hambanya dan juga anaknya untuk menerima bagiannya, mereka malah membunuh mereka. Apalagi ketika anaknya datang, mereka berpikir dan mereka takut akan posisi mereka bahkan kedudukan mereka. Mereka kuatir kalau-kalau mereka tidak akan memiliki kebun anggur itu kalau anaknya ini masih hidup. Maka mereka membunuhnya.

Kesabaran pemilik kebun telah habis. Dengan membunuh anaknya, para penggarap itu telah membuat kesalahan yang mendatangkan malapetaka. Pemilik itu akhirnya mengusir para penggarap-penggarap kebun dan memprakarsai untuk membawa mereka ke pengadilan; dia menuntut hak penuh atas harta miliknya, dan menunjuk penggarap-penggarap lain untuk merawat kebun anggurnya. Orang-orang ini adalah hamba-hamba yang akan memberi dia bagian hasil yang sudah ditentukan pada waktu musim panen. Tuan tanah itu lalu mengambil kembali kebun anggur itu dan diserahkan kepada yang lain yang mampu dan mau membagi hasilnya secara rata.

    II.            Penjelasan/Aplikasi

Pertama
1)   Di sini  Yesus ‘menyerang’ para tokoh Yahudi:
a)   Mereka adalah orang-orang yang tak tahu terima kasih, sama seperti para penggarap kebun anggur itu.
b)   Mereka tak mau memberikan apa yang menjadi hak dari Allah, sama seperti para penggarap kebun anggur itu tak mau memberikan apa yang menjadi hak dari pemilik kebun anggur.
Hak dari Allah adalah:
1.      Menerima penyembahan dari manusia.
2.      Menerima kepercayaan dari manusia.
3.      Menerima ketaatan dari manusia.
4.      Menerima pelayanan dari manusia.
5.      Menerima persembahan dari manusia.
Renungkan: apakah kita  memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah ini, atau apakah saudara sama seperti para tokoh Yahudi itu?

Kedua
Catatan: dalam ay 37-38, pemilik kebun anggur itu mengira bahwa para penggarap itu akan menghormati anaknya, tetapi ternyata ia salah.
Kesabaran dari pemilik kebun anggur itu menggambarkan kesabaran Tuhan! Tetapi bagaimanapun perlu diingat bahwa kesabaran itu ada batasnya (ay 40-41 bdk. Ro 2:4-5).

Kalau kita berbuat dosa dan tidak mendapatkan hukuman / hajaran Tuhan, apakah saudara lalu justru menyalah-­gunakan kesabaran Allah itu dengan terus hidup di dalam dosa?


Ketiga
Ay 45-46:
·         Ini menunjukkan orang yang keras kepala. Makin ditegur, mereka makin marah.
Apakah saudara sering marah pada waktu mendapat teguran, baik dari teman, keluarga, ataupun pada saat mendengar khotbah?
·         Mereka selalu takut kepada manusia (bdk. ay 26), dan selalu berusaha menyesuaikan tindakan mereka dengan keinginan orang banyak.
Apakah kita  juga seperti mereka? Sebagai orang kristen, kita harus takut kepada Allah, dan bukan kepada manusia (Mat 10:28), dan karena itu kita  harus berusaha menyesuaikan tindakan saudara dengan keinginan Allah, bukan dengan keinginan orang banyak!





Thursday, October 2, 2014

BAHAN SERMON MAJELIS, LS, CLS GMI KASIH KARUNIA
JUMAAT 03 OKTOBER 2014

Nats Alkitab    : Filipi 4: 1-9
Thema                        : SUKACITA  DAN DAMAI
I . Exegese
Filipi 4:4 “Senantiasa bergembiralah sepenuhnya dalam persekutuanmu dengan Allah. Aku mengatakan sekali lagi, bersukacitalah.”
Filipi 4:5-7 “Tunjukkanlah kesabaranmu kepada semua orang. Tuhan sudah dekat. Janganlah kuatir terhadap  apapun. Tetapi di dalam semua doamu mintahlah kepada Allah apa yang kamu butuhkan. Dan ketika kamu berdoa, berdoalah dengan hati yang penuh ucapan syukur kepada Allah. Maka kamu akan mendapatkan kedamaian yang diberikan Allah yang melampaui pemahaman manusia melalui persekutuan di dalam Kristus Yesus. Kedamaian itu akan melindungi pikiran, perasaan dan kehendakmu.”
Filipi 4:4 dan 4:5-7 adalah dua nasihat Paulus kepada jemaat Filipi. Dua nasihat ini adalah bagian dari lima nasihat Paulus kepada jemaat Filipi yang terdapat dalam Filipi  4:1-9.
Kelima nasihat itu adalah:
1.  Nasihat untuk terus berjuang dengan bersandar kepada Allah.
2.  Nasihat untuk  bersatu karena Injil.
3.  Nasihat bersukacita di dalam persekutuan dengan Allah.
4.  Nasihat tidak khawatir di tengah kesulitan oleh karena ada kedamaian dari Allah.
5.  Nasihat untuk memikirkan dan melakukan apa yang telah dipelajari dari Paulus.
Nasihat ketiga adalah bersukacita di dalam persekutuan dengan Allah. Nasihat keempat adalah tidak khawatir di tengah kesulitan oleh karena ada kedamaian dari Allah. Kata kunci dari kedua nasihat di atas adalah “sukacita,” “tidak khawatir,” “doa” dan “kedamaian.”  Paulus menasihati “bersukacitalah,” “tidak khawatir di tengah kesulitan,” “berdoalah” maka “kedamaian dari Allah akan melindungi pikiran, perasaan dan kehendakmu.”
Nasihat yang sederhana dan sangat manusiawi. Manusia perlu bergembira, mencurahkan seluruh isi hati  kepada sang Penciptanya, dan mendapatkan ketenangan dari-Nya supaya seluruh hidup tidak roboh(tetap kokoh), jiwa pun menjadi tenang dan damai. Paulus sungguh mengerti akan hal ini.
Di dalam  Filipi 4:4-7. Konteks jemaat adalah ketidakharmonisan dan ketidaksatuan jemaat. Ada berbagai permasalahan dan kesulitan dalam internal jemaat Filipi. Nasihat Paulus jelas di dalam teks, namun bagaimana mungkin itu dilaksanakan di tengah konteks demikian. Di (konteks) tengah permasalahan, harus bersukacita, berdoa, bersabar, dan tidak khawatir. Itulah yang harus dicapai di dalam komunitas jemaat itu.
II. Aplikasi
Nasihat  Paulus ini memberikan kepada kita beberapa prinsip yang penting di dalam hidup kita :

1. Allah lebih sayang kepada jiwa kita, daripada “permasalahan dan kesulitan” yang dihadapi setiap manusia. Sehingga ayat 6 dan 7 dituliskan, “Tetapi di dalam semua doamu mintahlah kepada Allah apa yang kamu butuhkan. Dan ketika kamu berdoa, berdoalah dengan hati yang penuh ucapan syukur kepada Allah. Maka kamu akan mendapatkan kedamaian yang diberikan Allah yang melampaui pemahaman manusia melalui persekutuan di dalam Kristus Yesus. Kedamaian itu akan melindungi pikiran, perasaan dan kehendakmu.” Allah menyediakan diri-Nya untuk mendengar setiap keluh kesah umat-Nya. Allah juga memberikan kedamaian di hati umat-Nya.
2. Sukacita dan damai melampaui segala “permasalahan hidup manusia”. Sukacita dan damai tidak bersifat kondisional. Di tengah kesulitan, manusia bisa mengalami sukacita dan damai seperti yang dialami Maria. Bagaimana bisa? Seperti dituliskan, kedamaian dan sukacita berasal dari Allah dalam persekutuanmu dengan Kristus Yesus. Kedamaian dan sukacita merupakan pemberian ilahi, tidak bisa dibuat-buat, melampaui pemahaman manusia, dan bersifat sangat personal dalam persekutuan dengan Kristus. Kedamaian dan sukacita yang otentik ada di dalam relasi dengan Allah dan Kristus. Permasalahan manusia tidak menghilangkan rasa sukacita dan damai di hati.
3. Sukacita, tidak khawatir, bersabar, berdoa dan merasakan damai merupakan makanan bagi jiwa untuk menghadapi segala permasalahan hidup manusia. Makanan bagi jiwa menjadi semacam kekuatan jiwa bagi pikiran, perasaan dan kehendak yang kita pakai setiap hari. Nasihat Paulus ini bukanlah  ke-semuan rohani atau  sekedar nasihat rohani yang tidak mengerti beratnya kehidupan manusia. Tentu saja kita tidak boleh hidup dalam ke-semuan rohani. Ke-semuan rohani tidak memberikan kita modal menghadapi realita kehidupan, namun menjebak kita ke dalam ke-semuan hidup. 

By: Rev. T.M. Karo-karo, STh, MA




Tuesday, September 30, 2014

KHOTBAH KEBAKTIAN SEKTOR 30 SEPTEMBER 2014
Nats Alkitab   : Filipi 3:4b-14
(dikutip dari Forum Biblika)


Ayat 4. Paulus, untuk sesaat, menempatkan dirinya bersama dengan para lawannya untuk menunjukkan bahwa menurut patokan mereka sekalipun, dia memiliki alasan untuk menaruh pereaya pada hal-hal lahiriah (menafsirkan pepoithesis secara obyektif).

Ayat 5. Paulus mengemukakan bukti-bukti kebenarannya, Disunat pada hari kedelapan. Dia adalah seorang Ibrani tulen sejak lahir. Dia bukan seorang bukan Yahudi yang kemudian menjadi penganut agama itu, tetapi murni dari bangsa Israel. Sesungguhnya, dia merupakan anggota suku Benyamin yang dihormati sebab memberikan kepada Israel raja mereka yang pertama (Saul). Berbeda dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani (golongan Helenis), dia berasal dari keluarga Ibrani asli, yaitu keluarga yang tetap memelihara adat dan bahasa Ibrani (atau Aram). Sebagai tambahan terhadap kelebihan-kelebihan yang diperoleh sejak lahir ini, terdapat kelebihan-kelebihan yang berkenaan dengan pilihannya sendiri. Di dalam hubungannya dengan hukum Taurat dia adalah 
orang Farisi - "penganut yang penuh semangat dari tradisi Yahudi yang paling ketat".

Ayat 6. Kebenaran dalam menaati hukum Taurat. "Kebenaran" yang dicapai karena ketaatan kepada perintah-perintah yang bersifat lahiriah. Tidak bercacat. Sebuah pengakuan yang menakjubkan manakala diingat betapa rumitnya peraturan golongan Farisi ini dan juga 
pelaksanaan perintah-perintah Taurat (Mitsvot).


Dalam ayat empat Paulus menyamakan dirinya dengan orang-orang Yahudi Kristen yang suka menurut Taurat, dan memakai bahasa mereka.

Sebenarnya Rasul Paulus mempunyai dengan kelimpahan, dan lebih banyak daripada mereka, segala apa yang sedang mereka turut, yaitu syarat-syarat di luar saja. Di sini Rasul Paulus mulai memberitahukan apa yang dapat dibanggakannya kalau ia mau, yaitu kalau ia mau membanggakan perbuatannya di dalam tubuh. Tetapi dapat kita baca nanti bahwa semua itu dibuang oleh Rasul Paulus.

Paulus hanya mau bermegah dalam Kristus. Ia mau bersukacita dalam Kristus dan ini menjadi suatu tujuan tunggal bagi Paulus. Tujuan tunggal itu menghilangkan segala hal sayang diri sendiri dan bangga akan diri sendiri dan perbuatan amal-ibadah diri sendiri. Oleh karena Paulus telah membuang segala kebanggaan akan amal dan perbuatan diri sendiri, maka dengan itu ia meniadakan segala pengajaran orang-orang sesat yang ingin menambah-nambahkan syariat Taurat kepada pekerjaan Kristus.

Paulus mempunyai dua perkara, yaitu segala hal yang dituntut oleh orang Yahudi Kristen itu dan juga mempunyai segala sesuatu yang ada pada pihak orang yang percaya dan berdasarkan iman saja. Satu pihak dibuang sama sekali oleh Paulus dan yang lain dipegang teguh. Oleh karena itu, ia berhak memberitahukan dengan resmi kepada orang Filipi apa yang wajib mereka pegang dan apa yang wajib mereka buang.

Dalam Filipi pasal dua bisa kita ketahui bahwa ada tujuh perkara yang ditinggalkan Tuhan Yesus pada waktu Ia merendahkan diri-Nya, dan kemudian kedapatan tujuh perkara yang lebih indah dan lebih mulia. Pada Paulus juga ada tujuh perkara yang disebutnya kerugian. Orang Yahudi Kristen menyebut semua itu keuntungan baginya. Ketujuh kerugian yang dibuang oleh Rasul Paulus dibagi dalam dua bagian.


Dalam ayat lima kita dapati empat perkara yang diwarisi Paulus di luar kehendaknya sendiri. Empat perkara itu adalah :

1. Paulus disunat pada hari kedelapan yang menyatakan bahwa ibu bapanya bukan orang kafir dan juga bukan anak-anak Ismael.

2. Ibu bapa Paulus bukan orang yang memeluk agama Israel, tetapi mereka berasal dari bangsa Israel.

3. Nenek moyang Paulus keturunan bangsa Israel, dari suku Benyamin. Raja pertama Israel, Saul, adalah dari Suku Benyamin.

4. Maka ada juga orang Yahudi yang sudah mempusakai iman akan Taurat itu, tetapi kemudian mereka undur daripadanya dan menurut agama orang-orang kafir yang mengelilingi mereka itu. Nenek moyang Paulus tidak demikian karena mereka adalah orang Ibrani asli, yang berarti bahwa semua nenek moyang Paulus tidak tercampur dengan bangsa asing, dan mereka menganut agama Israel dengan teliti. Paulus dididik dalam bahasa Ibrani dan mengetahui bahasa itu. Juga Paulus tahu bahasa Yunani dan bahasa Aram (bahasa yang dipakai di Palestina pada waktu Tuhan Yesus hidup).


Sesudah Rasul Paulus mendaftarkan perkara-perkara yang telah dipusakainya dari nenek moyangnya, barulah ia menyebutkan tiga perkara yang berdasarkan perbuatan dan kegiatan diri sendiri :

5. Rasul Paulus boleh bangga oleh kare a Taurat dan sebab dahulu ia hidup sebagai seorang 
Farisi menurut mazhab yang paling keras dalam agama Yahudi.

6. Tentang kegiatan ia adalah penganiaya jemaat yang paling giat. Pada waktu itu orang-orang Farisi membenci orang-orang Kristen dan selalu berusaha menganiaya mereka. Karena itulah Paulus pergi ke Damsyik untuk menganiaya orang-orang Kristen di sana. Segala perbuatan itu masih mengganggu ingatan Rasul Paulus sampai pada waktu ia sedang menulis surat kepada jemaat di Filipi. Walaupun demikian, Tuhan Allah telah menyatakan rahmat-Nya dan mengampuni Paulus dan mengubah dia dari penganiaya jemaat yang paling kejam menjadi pengabar Injil yang paling berani.

7. Tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat Rasul Paulus tidak bercacat. Kita harus ingat bahwa Rasul Paulus tidak bercacat menurut ukuran kebenaran Taurat, dan bukan menurut ukuran kebenaran Kristus. Tidak ada tuntutan Taurat yang tidak digenapi oleh Paulus. Tambahan pula, dengan giat ia telah menganiaya orang-orang Kristen.

Dalam penjelasannya itu, seolah-olah Paulus berkata bahwa jikalau orang-orang lain bangga atas perbuatan Taurat, ia terlebih lagi. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan baginya, sekarang dianggapnya rugi karena Kristus. Memang ia perlu menyangkal semua itu, sebelum ia dapat mencapai kebenaran yang datang dari Kristus Yesus. Paulus mendapati bahwa semua yang dahulu merupakan keuntungan baginya sama sekali tidak berharga kalau dibandingkan dengan Kristus Yesus dan kebenaran-Nya. Karena nilai Kristus jauh lebih besar bagi Paulus, maka ia membuang semua yang lain itu. Semua itu terjadi pada waktu Rasul Paulus diselamatkan, yaitu pada waktu ia berjumpa dengan Tuhan Yesus dalam perjalanan ke Damsyik. Paulus dahulu bangga atas ketujuh perkara yang sekarang sudah ditolaknya supaya ia mendapat tujuh perkara yang lebih indah lagi, yaitu:

1. Mendapat Kristus.
2. Kedapatan di dalam Kristus.
3. Mendapat kebenaran yang sungguh.
4. Mengenal Kristus dengan sungguh.
5. Mendapat kuasa kebangkitan Kristus.
6. Merasakan persekutuan dalam penderitaan Kristus.
7. Sampai kepada kebangkitan dari antara orang mati.



Tinjauan


Seandainya Rasul Paulus telah mengumpulkan segenap kebenaran Allah yang diilhamkan kepadanya dan mengemukakannya dalam suatu karangan Asas Pengajaran Kristen, maka di dalamnya kita tentu menjumpai pikiran orang yang mengasihi kebenaran dan menjumpai suatu pikiran yang tajam sekali. Akan tetapi dalam surat-surat Paulus terlihatlah seorang manusia yang seluruhnya dimiliki Kristus dan terlihat juga seorang pemimpin yang luar biasa. Teristimewa dalam Surat Filipi ini terdapat gambaran (potret) Rasul Paulus. Paulus memberikan kepada kita suatu gambaran dirinya sendiri, suatu tulisan tentang kehidupannya sendiri, atau dengan kata lain, suatu autobiografi seorang hamba Allah yang beralih kepada perkembangannya yang penuh (Ibrani 6: 1).

Dalam surat ini terlihat kehidupan Rasul Paulus yang dipersatukan dengan kehidupan seorang yang lain, yaitu Kristus yang lengkap itu. Kelihatan dalam surat ini kerinduan Rasul Paulus yang sangat dalam, yaitu kerinduan akan kesempurnaan Kristen. Rasul Paulus terlihat sebagai seorang yang tenang, tetapi masih mengusahakan diri. Ia terlihat sebagai seorang yang 'sempurna', tetapi menuju kepada kesempurnaan. Ia terlihat sebagai orang yang dipegang, tetapi ia masih mengusahakan diri untuk memegang. Menurut Injil yang diberitakan oleh Rasul Paulus orang wajib bersandar hanyalah dan semata-mata kepada iman akan Kristus yang disalibkan dan dibangkitkan. Apabila orang bersandar kepada suatu perbuatan amal-ibadah dirinya sendiri supaya ia diterima baik oleh Tuhan, maka hal itu tidak lain daripada suatu pekerjaan yang menghinakan Kristus.

Dewasa ini, adakah orang yang berharap kepada pekerjaan lain daripada pekerjaan Kristus? Ya, memang ada. Pekerjaan diri sendiri, amal perbuatan sendiri, dan kesombongan yang menyertainya sukar sekali dihilangkan atau dibinasakan. Sebab manusia suka merasa diri selamat dalam pekerjaannya sendiri dan itu mendatangkan suatu perasaan yang meninggikan diri di atas orang-orang lain. Seandainya keselamatan kita dapat direncanakan dengan mengerjakan ini dan tidak mengerjakan itu, maka manusia dapat sombong dan membesarkan diri sendiri sebab melakukannya. Tetapi Tuhan menuntut lebih daripada itu dari kita sekalian, hal yang sama juga diangkat Paulus dalam Kitab Roma, lihat Artikel 
MANUSIA DIBENARKAN HANYA OLEH IMAN (Roma 3:21-4:25)

Ada seorang profesor yang pernah berkata begini, "Dahulu saya juga banyak berpikir-pikir mengenai agama karena agama adalah suatu perkara yang besar lagi penting. Tetapi saya sibuk sekali dan tidak ada waktu untuk menyelidiki agama. Karena itu, saya menjadi seorang penganut Roma Katolik supaya tidak perlu lagi mengusahakan diri dalam perkara agama. Saya menyerahkan persoalan itu kepada Gereja Roma dan sekali setahun saya masuk dan menghadiri misa. Gereja mengerjakan semua untuk saya dan saya tidak usah lagi pusing kepala atau sibuk dalam perkara agama." Ya, dewasa ini banyak orang yang berpikiran demikian, tetapi Tuhan menuntut lebih daripada itu dari kita masing-masing. Perbuatan diri sendiri, bahkan perbuatan suatu gereja bagi kita, tidak membawa kita rapat kepada Tuhan, dan tidak membawa keselamatan kepada kita. "Barang siapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan" (I Korintus 1:31). Keselamatan kita adalah semata-mata karunia dari Tuhan.


Ada tiga sifat orang Kristen yang sungguh-sungguh :

1. Ia beribadah oleh Roh Allah, yaitu oleh Roh Kudus. Ibadah orang Kristen tidak berdasarkan syarat-syarat, melainkan berdasarkan pekerjaan dan dorongan Roh Kudus di dalam hati orang yang percaya. Rasul Paulus telah berkata, "Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan" (2 Korintus 3: 17). Orang-orang yang mengajarkan kepada kita supaya berharap dan mendasarkan ibadah kita atas syarat-syarat saja, yaitu peraturan-peraturan yang luar saja, maka mereka itu hanyalah pekerja sesat yang menipu kita, tidak lain dari anjing-anjing seperti disebutkan Paulus. Karena itu, hendaklah kita waspada dalam hal menurut syarat-syarat saja. Kita menyembah Tuhan dengan Roh dan kebenaran, bukan dengan syarat-syarat yang kelihatan saja.

2. Kita bersukacita dalam Kristus Yesus. Artinya, kita tidak bersukacita atas amal-ibadah atau perbuatan diri sendiri untuk mendapat keselamatan melainkan bersukacita di dalam Kristus atas segala pekerjaan-Nya yang mendatangkan keselamatan kepada kita.

3. Kita tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, tidak menaruh percaya pada perbuatan tubuh. Tubuh atau diri yang lama harus disalibkan. Perbuatan tubuh tidak lain daripada menaruh percaya pada diri sendiri dan perbuatan diri sendiri. Hal itu harus disalibkan kalau kita ingin mendapat kebenaran Kristus.


Perbuatan diri sendiri berdasarkan kesombongan, dan juga mendatangkan kesombongan dalam hati manusia. Sebelum Paulus menjadi orang Kristen, dalam hidupnya terlihat empat macam kesombongan :

1. Kesombongan karena keturunannya: "Orang Ibrani asli, disunat pada hari kedelapan" dll.

2. Kesombongan karena ia mentaati hukum Taurat dengan teliti, atau dengan kata lain, seorang yang "ortodoks", yang betul-betul taat kepada agama.

3. Kesombongan karena ia seorang yang giat dan berjerih-payah dalam menjalankan agamanya walaupun ia buta kepada hal ia menganiayakan orang Kristen dan merusakkan jemaat Tuhan.

4. Kesombongan karena kebenaran diri sendiri, Tetapi kebenaran itu berdasarkan Taurat saja, bukan kebenaran yang berkenan kepada Tuhan atau yang sampai kepada kebenaran Kristus. Kebenaran Paulus dahulu itu tidak menunjukkan kepadanya banyak kesalahan yang ada di dalam hatinya, misalnya kesalahan mengiakan hal Stefanus dibunuh karena agama. Rasul Paulus dahulu bermegah atas semua itu, tetapi semua itu tidak dibenarkan di hadapan Allah. Yang berkenan kepada-Nya hanyalah iman kepada Kristus dan kepada anugerah-Nya.

Kalau Kristus dinobatkan di dalam kita, maka barulah kehidupan kita berkenan kepada Tuhan. Banyak orang di dalam dunia ini yang tulus hatinya, tetapi tidak berbuat menurut kebenaran Allah. Dahulu dengan tulus hati Paulus menyangka bahwa ia berbuat menurut kebenaran walaupun ia menyetujui dan mengambil bagian da1am pembunuhan Stefanus. Ketulusan hati Paulus didasarkan atas kepercayaan yang salah, yang sangat disesalinya kemudian hari (lihat 1 Korintus 19:9; Galatia 13; 1 Timotius 1: 13). Menganut suatu kepercayaan atau suatu agama itu tidak benar. Kita harus mengasihi Tuhan kita Yesus Knstus dengan tulus ikhlas. Itulah kehidupan yang Tuhan ingin dapati di dalam kita. Kristus saja yang menyelamatkan kita dan Kristus saja yang memuas: kan hati kita. Kristus menjadi segala di dalam segala, memenuhi hati kita dengan segala sukacita, yang tidak dipahami dan tidak didapati oleh orang-orang lain. Kehidupan itu menjauhkan kita dari segala keduniawian dan perbuatan menaruh percaya pada pekerjaan jasmani saja. "Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya" (Roma 13:14).

Thursday, September 25, 2014

BAHAN SERMON  LS, CLS, MAJELIS GMI KASIH KARUNIA
JUMAAT 19 SEPTEMBER 2014


Nats Alkitab    : Filipi 2:1-13
Thema             : Bersatulah di Dalam Kasih Kristus
By                   : Rev. T.M. Karo-karo, STh, MA
(bisa dibaca di: gmikasihkarunia.blogspot.com)
I.       Pendahuluan
Paulus dengan bahasa yang sangat halus mengharapkan  jemaat di Filipi supaya melakukan beberapa hal yang sangat penting dalam persekutuan mereka: “sempurnakanlah sukacitaku dengan ini”
1.      Hendaklah kamu sehati sepikir/bersatu
2.      Rendah hati dengan menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri
3.      Jangan Egoisme, tapi perdulilah kepada yang lain.
Dalam hal semua ini Tuhan Yesus sebagai teladan yang telah mengosongkan diri, yang menganggap kesetaraannya  dengan Allah itu sebagai suatu yang tidak harus dipertahankan.

II.    Paulus Menginginkan Kesatuan
Pada hakekatnya gereja di Filipi sangat baik, ini terlihat dari banyaknya pujian yang diberikan Paulus pada mereka (bdk 1:5, 4:10, 14-18). Tetapi bagaimanapun juga ini bukan gereja yang sempurna, dalam gereja ini ternyata ada perpecahan (bdk 4:2).
Paulus bersukacita kalau gereja di Filipi bisa bersatu, orang Kristen yang sejati seharusnya “pembawa damai”, sehingga seharusnya senang kalau gereja bisa  bersatu. Tetapi anehnya ada orang-orang tertentu yang senang kalau melihat sesuatu gereja pecah.

III. Cara Bersatu
1.   Tidak mencari kepentingan diri sendiri  dan pujian yang sia-sia (ayat 3a)
Adanya keinginan untuk meninggikan diri sendiri, selalu menyebabkan timbulnya persaingan yang tidak sehat dan akibatnya timbul permusuhan. Demikian juga akan timbul kesombongan dan egoisme---cara untuk bersatu seperti yang diharapkan adalah menjauhkan sikap ini dari dalam diri kita. Menjauhkan diri kita dari mementingkan diri sendiri, kepentingan bersama harus selalu diutamakan.

2.   Rendah hati dan menganggap orang lain lebih baik dari kita. (ayat 3b)
Kalau kita berusaha untuk bersatu, maka kita berusaha mendekat satu sama lain. Tetepi ini bisa membuat kita makin melihat kejelekan saudara seiman kita sehingga bisa menyebabkan kita bahkan makin tidak senang kepada saudara seiman kita. Karena itu ayat 3b ini penting sekali, kita harus menganggap saudara seiman kita lebih baik dari diri kita sendiri dalam segala hal, dalam hal ini hendaknya mata kita bisa melihat kelemahan diri kita sendiri dan selalu memperhatikan kebaikan orang lain, cara berpikir sedemikian akan menjauhkan kita dari sikap “memuji diri sendiri”.

3.   Jangan hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (ayat 4)
Intinya jangan egois, tetapi perdulilah kepada orang lain juga di dalam segenap hidupmu, karena kita ditetapkan harus hidup di dalam kebersamaan.

4.   Meneladani Yesus (ayat 5)
Kita hanya bisa sehati, sepikir dan seperasaan dengan Yesus kalau kita banyak bersekutu dengan Dia. Oleh sebab itu sediakan senantiasa waktu kita untuk bersekutu dengan Dia.

IV. Teladan Yesus Kristus
Dalam semuanya ini teladan Yesus Kristus adalah hal yang luarbiasa yang bisa kita terapkan. Dia yang berkuasa mengosongkan diri (ber-kenosis), tidak memperhitungkan kuasaNya itu, tapi Ia tetap dalam tugas yang diembankan Bapa kepadaNya. Dia taat menjadi seperti tidak berkuasa, walau menderita, mati Dia tetap rendah hati.
Teladan seperti inilah yang harus dipraktekkan oleh pemimpin Kristen dan bahkan semua orang beriman sehingga segala sikap : mementingkan diri sendiri (egoism), tinggi hati, ketidak perdulian kepada sesame bisa pupus dari dalam hidup kita. Sole Deo Gloria!