Thursday, October 2, 2014

BAHAN SERMON MAJELIS, LS, CLS GMI KASIH KARUNIA
JUMAAT 03 OKTOBER 2014

Nats Alkitab    : Filipi 4: 1-9
Thema                        : SUKACITA  DAN DAMAI
I . Exegese
Filipi 4:4 “Senantiasa bergembiralah sepenuhnya dalam persekutuanmu dengan Allah. Aku mengatakan sekali lagi, bersukacitalah.”
Filipi 4:5-7 “Tunjukkanlah kesabaranmu kepada semua orang. Tuhan sudah dekat. Janganlah kuatir terhadap  apapun. Tetapi di dalam semua doamu mintahlah kepada Allah apa yang kamu butuhkan. Dan ketika kamu berdoa, berdoalah dengan hati yang penuh ucapan syukur kepada Allah. Maka kamu akan mendapatkan kedamaian yang diberikan Allah yang melampaui pemahaman manusia melalui persekutuan di dalam Kristus Yesus. Kedamaian itu akan melindungi pikiran, perasaan dan kehendakmu.”
Filipi 4:4 dan 4:5-7 adalah dua nasihat Paulus kepada jemaat Filipi. Dua nasihat ini adalah bagian dari lima nasihat Paulus kepada jemaat Filipi yang terdapat dalam Filipi  4:1-9.
Kelima nasihat itu adalah:
1.  Nasihat untuk terus berjuang dengan bersandar kepada Allah.
2.  Nasihat untuk  bersatu karena Injil.
3.  Nasihat bersukacita di dalam persekutuan dengan Allah.
4.  Nasihat tidak khawatir di tengah kesulitan oleh karena ada kedamaian dari Allah.
5.  Nasihat untuk memikirkan dan melakukan apa yang telah dipelajari dari Paulus.
Nasihat ketiga adalah bersukacita di dalam persekutuan dengan Allah. Nasihat keempat adalah tidak khawatir di tengah kesulitan oleh karena ada kedamaian dari Allah. Kata kunci dari kedua nasihat di atas adalah “sukacita,” “tidak khawatir,” “doa” dan “kedamaian.”  Paulus menasihati “bersukacitalah,” “tidak khawatir di tengah kesulitan,” “berdoalah” maka “kedamaian dari Allah akan melindungi pikiran, perasaan dan kehendakmu.”
Nasihat yang sederhana dan sangat manusiawi. Manusia perlu bergembira, mencurahkan seluruh isi hati  kepada sang Penciptanya, dan mendapatkan ketenangan dari-Nya supaya seluruh hidup tidak roboh(tetap kokoh), jiwa pun menjadi tenang dan damai. Paulus sungguh mengerti akan hal ini.
Di dalam  Filipi 4:4-7. Konteks jemaat adalah ketidakharmonisan dan ketidaksatuan jemaat. Ada berbagai permasalahan dan kesulitan dalam internal jemaat Filipi. Nasihat Paulus jelas di dalam teks, namun bagaimana mungkin itu dilaksanakan di tengah konteks demikian. Di (konteks) tengah permasalahan, harus bersukacita, berdoa, bersabar, dan tidak khawatir. Itulah yang harus dicapai di dalam komunitas jemaat itu.
II. Aplikasi
Nasihat  Paulus ini memberikan kepada kita beberapa prinsip yang penting di dalam hidup kita :

1. Allah lebih sayang kepada jiwa kita, daripada “permasalahan dan kesulitan” yang dihadapi setiap manusia. Sehingga ayat 6 dan 7 dituliskan, “Tetapi di dalam semua doamu mintahlah kepada Allah apa yang kamu butuhkan. Dan ketika kamu berdoa, berdoalah dengan hati yang penuh ucapan syukur kepada Allah. Maka kamu akan mendapatkan kedamaian yang diberikan Allah yang melampaui pemahaman manusia melalui persekutuan di dalam Kristus Yesus. Kedamaian itu akan melindungi pikiran, perasaan dan kehendakmu.” Allah menyediakan diri-Nya untuk mendengar setiap keluh kesah umat-Nya. Allah juga memberikan kedamaian di hati umat-Nya.
2. Sukacita dan damai melampaui segala “permasalahan hidup manusia”. Sukacita dan damai tidak bersifat kondisional. Di tengah kesulitan, manusia bisa mengalami sukacita dan damai seperti yang dialami Maria. Bagaimana bisa? Seperti dituliskan, kedamaian dan sukacita berasal dari Allah dalam persekutuanmu dengan Kristus Yesus. Kedamaian dan sukacita merupakan pemberian ilahi, tidak bisa dibuat-buat, melampaui pemahaman manusia, dan bersifat sangat personal dalam persekutuan dengan Kristus. Kedamaian dan sukacita yang otentik ada di dalam relasi dengan Allah dan Kristus. Permasalahan manusia tidak menghilangkan rasa sukacita dan damai di hati.
3. Sukacita, tidak khawatir, bersabar, berdoa dan merasakan damai merupakan makanan bagi jiwa untuk menghadapi segala permasalahan hidup manusia. Makanan bagi jiwa menjadi semacam kekuatan jiwa bagi pikiran, perasaan dan kehendak yang kita pakai setiap hari. Nasihat Paulus ini bukanlah  ke-semuan rohani atau  sekedar nasihat rohani yang tidak mengerti beratnya kehidupan manusia. Tentu saja kita tidak boleh hidup dalam ke-semuan rohani. Ke-semuan rohani tidak memberikan kita modal menghadapi realita kehidupan, namun menjebak kita ke dalam ke-semuan hidup. 

By: Rev. T.M. Karo-karo, STh, MA




No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.