Saturday, October 4, 2014

RINGKASAN  KHOTBAH MINGGU TGL 05 OKTOBER 2014
Nats Khotah              : Matius  21:33-46
Thema                        :” Taat kepada Allah”

       I.          Pendahuluan
Dalam perumpamaan penggarap-penggarap kebun anggur (21:33-46), terdapat tiga karakter yang muncul. Karakter pertama ialah tuan tanah. Tuan tanah membuka kebun anggur. Tidak disebutkan di sini berapa luas tanah yang dia buka. Hanya yang dikatakan bahwa dia membuka tanah saja (ayat 33). Membuka tanah yang cukup luas membuat para penyewa dengan senang hati menyewanya. Tanah yang dia buka yang kira-kira cukup luas membutuhkan para pekerja yang banyak dan mampu mengelola dengan baik. Kemudian tuan tanah juga membuat pagar di sekelilingnya. Hal ini dia lakukan untuk menghindari kebun anggur itu dari binatang buas dan binatang itu bisa masuk ke dalam kebun dan merusak semua kebun anggur itu. Kemudian dia menggali lubang tempat untuk memeras buah anggur. Anggur itu harus diperas dan bisa langsung dijual. Kemudian dia membangun menara jaga. Menara ini dibuat tinggi agar sudut yang satu dengan sudut yang lain bisa kelihatan oleh penjaga kebun anggur itu. Hal ini juga dia buat agar melihat kalau-kalau ada bahaya atau binatang buas yang masuk ke dalam kebun anggur dan juga untuk mengintai pencuri selama musim panen dan juga tempat untuk para pekerja. Kemudian tuan tanah ini menyewakan kepada penyewa atau penggarap-penggarap itu. Tidak disebutkan berapa harga sewanya. Hanya dia menyewakan saja. Setelah dia menyewakannya, dia pergi ke negeri lain. Tidak disebutkan juga berapa lama dia di negeri lain. Tetapi kita dapat mengidentifikasikan bahwa dia pulang pada musim panen anggur. Ketika tiba musim panen, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil dari kebun anggur itu. Tetapi tidak berhasil. Dia menyuruh lagi hamba yang lain, nasib mereka juga sama dengan hamba yang pertama. Akhirnya dia menyuruh anaknya yang tunggal karena mungkin pikirnya, “anakku ini akan mereka segani”. Tetapi nasib anak ini juga sama dengan hamba-hamba yang pergi dan yang dibunuh. Malah lebih buruk lagi perlakuan yang mereka lakukan. Karena merasa kesal dan marah dalam diri tuan tanah ini, maka dia sendiri yang datang untuk menghabiskan atau membunuh penggarap-penggarap kebun angur itu karena mereka tidak bisa dipercaya untuk membagi hasilnya.
Karakter kedua kita lihat hamba-hamba dan seorang anak (ayat 34-39). Mereka tidak mengatakan apa-apa. Tetapi mereka melakukan tugas mereka dengan sukacita sebagai orang upahan dan juga seorang anak. Mereka melaksanakan tugas itu karena mereka bekerja dari tuan tanah itu dan anaknya ini adalah anak dari tuan tanah ini. Tetapi ketika mereka pergi kepada penggarap-penggarap kebun anggur itu, kekecewaan yang mereka rasakan, mereka mendapat perlakuan yang tidak benar dan sadis dari penggarap-penggarap kebun anggur itu. Mereka dilempari dengan batu, ditangkap dan bahkan ada yang dibunuh. Akhirnya yang diutus adalah anaknya sendiri. Dia pun mendapat nasib yang sama. Dia ditangkap, dibunuh, sama seperti yang mereka perbuat kepada hamba-hamba itu. Dengan penuh keyakinan kita melihat bahwa hamba-hamba dan seorang anak melaksanakan tugas mereka dengan baik. Mereka dipercaya untuk menerima bagian dari tuan tanah itu. Tetapi karena iri hati yang dimiliki oleh penggarap-penggarap kebun anggur itu, mereka membinasakan mereka semua.
Karakter ketiga kita lihat ialah penggarap-penggrarap kebun anggur. Tidak disebutkan berapa jumlah penggarap-penggarap ini. Namun dapat dipastikan bahwa penggarap-penggarap ini banyak karena melihat luas tanah yang telah dibuka oleh tuan tanah itu. Mereka menyewa kebun anggur itu dari tuan tanah. Mereka mendapat kepercayaan untuk mengelola kebun anggur itu supaya berbuah banyak dan hasilnya nanti dapat dibagi-bagikan dengan tuan tanah itu. Dengan tekun mereka mengelola dan berhasil dengan buah yang banyak. Tetapi tidak disebutkan berapa hasilnya. Hanya mereka sangat senang bahwa anggur itu bisa berbuah banyak dan menghasilkan uang yang banyak pula. Timbullah rasa iri hati dalam diri mereka. Terlihat bahwa ketika tiba musim panen, ketika tuan tanah menyuruh hamba-hambanya dan juga anaknya untuk menerima bagiannya, mereka malah membunuh mereka. Apalagi ketika anaknya datang, mereka berpikir dan mereka takut akan posisi mereka bahkan kedudukan mereka. Mereka kuatir kalau-kalau mereka tidak akan memiliki kebun anggur itu kalau anaknya ini masih hidup. Maka mereka membunuhnya.

Kesabaran pemilik kebun telah habis. Dengan membunuh anaknya, para penggarap itu telah membuat kesalahan yang mendatangkan malapetaka. Pemilik itu akhirnya mengusir para penggarap-penggarap kebun dan memprakarsai untuk membawa mereka ke pengadilan; dia menuntut hak penuh atas harta miliknya, dan menunjuk penggarap-penggarap lain untuk merawat kebun anggurnya. Orang-orang ini adalah hamba-hamba yang akan memberi dia bagian hasil yang sudah ditentukan pada waktu musim panen. Tuan tanah itu lalu mengambil kembali kebun anggur itu dan diserahkan kepada yang lain yang mampu dan mau membagi hasilnya secara rata.

    II.            Penjelasan/Aplikasi

Pertama
1)   Di sini  Yesus ‘menyerang’ para tokoh Yahudi:
a)   Mereka adalah orang-orang yang tak tahu terima kasih, sama seperti para penggarap kebun anggur itu.
b)   Mereka tak mau memberikan apa yang menjadi hak dari Allah, sama seperti para penggarap kebun anggur itu tak mau memberikan apa yang menjadi hak dari pemilik kebun anggur.
Hak dari Allah adalah:
1.      Menerima penyembahan dari manusia.
2.      Menerima kepercayaan dari manusia.
3.      Menerima ketaatan dari manusia.
4.      Menerima pelayanan dari manusia.
5.      Menerima persembahan dari manusia.
Renungkan: apakah kita  memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah ini, atau apakah saudara sama seperti para tokoh Yahudi itu?

Kedua
Catatan: dalam ay 37-38, pemilik kebun anggur itu mengira bahwa para penggarap itu akan menghormati anaknya, tetapi ternyata ia salah.
Kesabaran dari pemilik kebun anggur itu menggambarkan kesabaran Tuhan! Tetapi bagaimanapun perlu diingat bahwa kesabaran itu ada batasnya (ay 40-41 bdk. Ro 2:4-5).

Kalau kita berbuat dosa dan tidak mendapatkan hukuman / hajaran Tuhan, apakah saudara lalu justru menyalah-­gunakan kesabaran Allah itu dengan terus hidup di dalam dosa?


Ketiga
Ay 45-46:
·         Ini menunjukkan orang yang keras kepala. Makin ditegur, mereka makin marah.
Apakah saudara sering marah pada waktu mendapat teguran, baik dari teman, keluarga, ataupun pada saat mendengar khotbah?
·         Mereka selalu takut kepada manusia (bdk. ay 26), dan selalu berusaha menyesuaikan tindakan mereka dengan keinginan orang banyak.
Apakah kita  juga seperti mereka? Sebagai orang kristen, kita harus takut kepada Allah, dan bukan kepada manusia (Mat 10:28), dan karena itu kita  harus berusaha menyesuaikan tindakan saudara dengan keinginan Allah, bukan dengan keinginan orang banyak!





No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.