RINGKASAN KHOTBAH MINGGU TGL 05 OKTOBER 2014
Nats Khotah : Matius 21:33-46
Thema
:” Taat kepada
Allah”
I. Pendahuluan
Dalam perumpamaan
penggarap-penggarap kebun anggur (21:33-46), terdapat tiga karakter yang
muncul. Karakter pertama ialah tuan
tanah. Tuan tanah membuka kebun anggur. Tidak disebutkan di sini berapa
luas tanah yang dia buka. Hanya yang dikatakan bahwa dia membuka tanah saja
(ayat 33). Membuka tanah yang cukup luas membuat para penyewa dengan senang
hati menyewanya. Tanah yang dia buka yang kira-kira cukup luas membutuhkan para
pekerja yang banyak dan mampu mengelola dengan baik. Kemudian tuan tanah juga
membuat pagar di sekelilingnya. Hal ini dia lakukan untuk menghindari kebun
anggur itu dari binatang buas dan binatang itu bisa masuk ke dalam kebun dan
merusak semua kebun anggur itu. Kemudian dia menggali lubang tempat untuk
memeras buah anggur. Anggur itu harus diperas dan bisa langsung dijual.
Kemudian dia membangun menara jaga. Menara ini dibuat tinggi agar sudut yang
satu dengan sudut yang lain bisa kelihatan oleh penjaga kebun anggur itu. Hal
ini juga dia buat agar melihat kalau-kalau ada bahaya atau binatang buas yang
masuk ke dalam kebun anggur dan juga untuk mengintai pencuri selama musim panen
dan juga tempat untuk para pekerja. Kemudian tuan tanah ini menyewakan kepada
penyewa atau penggarap-penggarap itu. Tidak disebutkan berapa harga sewanya.
Hanya dia menyewakan saja. Setelah dia menyewakannya, dia pergi ke negeri lain.
Tidak disebutkan juga berapa lama dia di negeri lain. Tetapi kita dapat
mengidentifikasikan bahwa dia pulang pada musim panen anggur. Ketika tiba musim
panen, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima
hasil dari kebun anggur itu. Tetapi tidak berhasil. Dia menyuruh lagi hamba
yang lain, nasib mereka juga sama dengan hamba yang pertama. Akhirnya dia
menyuruh anaknya yang tunggal karena mungkin pikirnya, “anakku ini akan mereka
segani”. Tetapi nasib anak ini juga sama dengan hamba-hamba yang pergi dan yang
dibunuh. Malah lebih buruk lagi perlakuan yang mereka lakukan. Karena merasa
kesal dan marah dalam diri tuan tanah ini, maka dia sendiri yang datang untuk
menghabiskan atau membunuh penggarap-penggarap kebun angur itu karena mereka tidak
bisa dipercaya untuk membagi hasilnya.
Karakter kedua kita lihat hamba-hamba dan seorang anak (ayat 34-39). Mereka tidak mengatakan apa-apa. Tetapi mereka melakukan tugas mereka dengan sukacita sebagai orang upahan dan juga seorang anak. Mereka melaksanakan tugas itu karena mereka bekerja dari tuan tanah itu dan anaknya ini adalah anak dari tuan tanah ini. Tetapi ketika mereka pergi kepada penggarap-penggarap kebun anggur itu, kekecewaan yang mereka rasakan, mereka mendapat perlakuan yang tidak benar dan sadis dari penggarap-penggarap kebun anggur itu. Mereka dilempari dengan batu, ditangkap dan bahkan ada yang dibunuh. Akhirnya yang diutus adalah anaknya sendiri. Dia pun mendapat nasib yang sama. Dia ditangkap, dibunuh, sama seperti yang mereka perbuat kepada hamba-hamba itu. Dengan penuh keyakinan kita melihat bahwa hamba-hamba dan seorang anak melaksanakan tugas mereka dengan baik. Mereka dipercaya untuk menerima bagian dari tuan tanah itu. Tetapi karena iri hati yang dimiliki oleh penggarap-penggarap kebun anggur itu, mereka membinasakan mereka semua.
Karakter ketiga kita lihat ialah penggarap-penggrarap kebun anggur. Tidak disebutkan berapa jumlah penggarap-penggarap ini. Namun dapat dipastikan bahwa penggarap-penggarap ini banyak karena melihat luas tanah yang telah dibuka oleh tuan tanah itu. Mereka menyewa kebun anggur itu dari tuan tanah. Mereka mendapat kepercayaan untuk mengelola kebun anggur itu supaya berbuah banyak dan hasilnya nanti dapat dibagi-bagikan dengan tuan tanah itu. Dengan tekun mereka mengelola dan berhasil dengan buah yang banyak. Tetapi tidak disebutkan berapa hasilnya. Hanya mereka sangat senang bahwa anggur itu bisa berbuah banyak dan menghasilkan uang yang banyak pula. Timbullah rasa iri hati dalam diri mereka. Terlihat bahwa ketika tiba musim panen, ketika tuan tanah menyuruh hamba-hambanya dan juga anaknya untuk menerima bagiannya, mereka malah membunuh mereka. Apalagi ketika anaknya datang, mereka berpikir dan mereka takut akan posisi mereka bahkan kedudukan mereka. Mereka kuatir kalau-kalau mereka tidak akan memiliki kebun anggur itu kalau anaknya ini masih hidup. Maka mereka membunuhnya.
Karakter kedua kita lihat hamba-hamba dan seorang anak (ayat 34-39). Mereka tidak mengatakan apa-apa. Tetapi mereka melakukan tugas mereka dengan sukacita sebagai orang upahan dan juga seorang anak. Mereka melaksanakan tugas itu karena mereka bekerja dari tuan tanah itu dan anaknya ini adalah anak dari tuan tanah ini. Tetapi ketika mereka pergi kepada penggarap-penggarap kebun anggur itu, kekecewaan yang mereka rasakan, mereka mendapat perlakuan yang tidak benar dan sadis dari penggarap-penggarap kebun anggur itu. Mereka dilempari dengan batu, ditangkap dan bahkan ada yang dibunuh. Akhirnya yang diutus adalah anaknya sendiri. Dia pun mendapat nasib yang sama. Dia ditangkap, dibunuh, sama seperti yang mereka perbuat kepada hamba-hamba itu. Dengan penuh keyakinan kita melihat bahwa hamba-hamba dan seorang anak melaksanakan tugas mereka dengan baik. Mereka dipercaya untuk menerima bagian dari tuan tanah itu. Tetapi karena iri hati yang dimiliki oleh penggarap-penggarap kebun anggur itu, mereka membinasakan mereka semua.
Karakter ketiga kita lihat ialah penggarap-penggrarap kebun anggur. Tidak disebutkan berapa jumlah penggarap-penggarap ini. Namun dapat dipastikan bahwa penggarap-penggarap ini banyak karena melihat luas tanah yang telah dibuka oleh tuan tanah itu. Mereka menyewa kebun anggur itu dari tuan tanah. Mereka mendapat kepercayaan untuk mengelola kebun anggur itu supaya berbuah banyak dan hasilnya nanti dapat dibagi-bagikan dengan tuan tanah itu. Dengan tekun mereka mengelola dan berhasil dengan buah yang banyak. Tetapi tidak disebutkan berapa hasilnya. Hanya mereka sangat senang bahwa anggur itu bisa berbuah banyak dan menghasilkan uang yang banyak pula. Timbullah rasa iri hati dalam diri mereka. Terlihat bahwa ketika tiba musim panen, ketika tuan tanah menyuruh hamba-hambanya dan juga anaknya untuk menerima bagiannya, mereka malah membunuh mereka. Apalagi ketika anaknya datang, mereka berpikir dan mereka takut akan posisi mereka bahkan kedudukan mereka. Mereka kuatir kalau-kalau mereka tidak akan memiliki kebun anggur itu kalau anaknya ini masih hidup. Maka mereka membunuhnya.
Kesabaran pemilik kebun telah habis. Dengan membunuh anaknya, para penggarap itu telah membuat kesalahan yang mendatangkan malapetaka. Pemilik itu akhirnya mengusir para penggarap-penggarap kebun dan memprakarsai untuk membawa mereka ke pengadilan; dia menuntut hak penuh atas harta miliknya, dan menunjuk penggarap-penggarap lain untuk merawat kebun anggurnya. Orang-orang ini adalah hamba-hamba yang akan memberi dia bagian hasil yang sudah ditentukan pada waktu musim panen. Tuan tanah itu lalu mengambil kembali kebun anggur itu dan diserahkan kepada yang lain yang mampu dan mau membagi hasilnya secara rata.
II.
Penjelasan/Aplikasi
Pertama
1) Di
sini Yesus ‘menyerang’ para tokoh Yahudi:
a) Mereka
adalah orang-orang yang tak tahu terima kasih, sama seperti para penggarap
kebun anggur itu.
b) Mereka
tak mau memberikan apa yang menjadi hak dari Allah, sama seperti para penggarap
kebun anggur itu tak mau memberikan apa yang menjadi hak dari pemilik kebun
anggur.
Hak dari Allah adalah:
1. Menerima
penyembahan dari manusia.
2. Menerima
kepercayaan dari manusia.
3. Menerima
ketaatan dari manusia.
4. Menerima
pelayanan dari manusia.
5. Menerima
persembahan dari manusia.
Renungkan: apakah kita memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak
Allah ini, atau apakah saudara sama seperti para tokoh Yahudi itu?
Kedua
Catatan: dalam
ay 37-38, pemilik kebun anggur itu mengira bahwa para penggarap itu akan
menghormati anaknya, tetapi ternyata ia salah.
Kesabaran dari pemilik
kebun anggur itu menggambarkan kesabaran Tuhan! Tetapi bagaimanapun perlu
diingat bahwa kesabaran itu ada batasnya (ay 40-41 bdk. Ro 2:4-5).
Kalau kita berbuat dosa
dan tidak mendapatkan hukuman / hajaran Tuhan, apakah saudara lalu justru menyalah-gunakan
kesabaran Allah itu dengan terus hidup di dalam dosa?
Ketiga
Ay 45-46:
·
Ini menunjukkan orang yang keras kepala.
Makin ditegur, mereka makin marah.
Apakah saudara sering
marah pada waktu mendapat teguran, baik dari teman, keluarga, ataupun pada saat
mendengar khotbah?
·
Mereka selalu takut kepada manusia (bdk.
ay 26), dan selalu berusaha menyesuaikan tindakan mereka dengan keinginan
orang banyak.
Apakah kita juga seperti mereka? Sebagai orang kristen,
kita harus takut kepada Allah, dan bukan kepada manusia (Mat 10:28), dan karena
itu kita harus berusaha menyesuaikan
tindakan saudara dengan keinginan Allah, bukan dengan keinginan orang banyak!
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.