Friday, October 17, 2014

SERMON MAJELIS, LAY SPEAKER, CALON LAYSPEAKER
GMI KASIH KARUNIA, JLN HANG TUAH 2 MEDAN, Jumaat 17 Oktober 2014


Nats Alkitab   : I Tesalonika 2:1-8
Thema            : Sifat-Sifat Pembawa Kabar Baik.
By                   : Pdt. T.M. Karo-karo,STh,MA
I.      Pendahuluan
Pada kesempatan ini kita belajar melalui sosok Pembawa Kabar Baik yaitu Paulus. Sesuai  kesaksiannya, Paulus mengalami tantangan yang luar biasa, baik saat menyampaikan Kabar Baik di Filipi, Paulus dihina, diseret, dianiaya, dimasukan  ke penjara. Demikian juga saat di Tesalonika, Paulus memberitakan Mesias, yaitu Yesus, ternyata orang-orang Yahudi menjadi iri hati sepakat dengan para penjahat mengadakan keributan dan kekacauan serta menghadapkan Paulus kepada sidang rakyat. Inilah kondisi yang menyebabkan Paulus disingkirkan dengan paksa dari Tesalonika menuju Berea. Kondisi orang-orang Yahudi di Berea ternyata lebih baik hatinya dari orang-orang Yahudi di Tesalonika. Paulus sangat rindu sekali dapat bertemu dengan orang-orang Kristen di Tesalonika. Kerinduan ini dinyatakan Paulus pada pasal 2:17 “Tetapi kami, saudara-saudara yang seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati, sungguh-sungguh, dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk kamu”.
Kalau kita merenungkan beratnya beban yang dialami Paulus sebagai Pembawa Kabar Baik, saat di Filipi ketika dimasukan  ke dalam penjara yang paling tengah dan membelenggu kakinya dengan pasungan yang kuat,namun Tuhan tidak tinggal diam. Saat Paulus berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah di tengah malam, Tuhan mendengar seru permohonan Paulus dengan terjadinya gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah, dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semuanya.
Demikian juga di Tesalonika, saat Paulus dituduh sebagai pengacau dan mau menghadapkan Paulus kepada sidang rakyat,maka malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus berangkat ke Berea. Tuhan menolong Paulus, sehingga ada-ada saja jalan keluarnya.
Perikop kita hari ini juga memperlihatkan tantangan yang dihadapi Paulus sebagai Pembawa Kabar Baik melalui pemberitaan palsu kepada jemaat Tesalonika binaan Paulus tersebut. Paulus dituduh menyesatkan, maksud tidak murni, tipu daya, tidak menyenangkan hati Allah mencari pujian dan lain-lain.
II.         Penjelasan Dan Aplikasi
Melalui perikop ini juga kita belajar bagaimana Paulus menanggapi pemberitaan palsu tersebut, dengan pernyataan bahwa kedatangan Paulus yang pertama kali ke Tesalonika untuk memberitakan Kabar Baik tidaklah sia-sia, artinya mencapai tujuannya atau dengan kata lain ada hasilnya.
Mengapa berhasil? Karena pertolongan Allah semata, sehingga Paulus mempunyai keberanian. Walaupun dimana-mana tempat ada perlawanan, banyak orang berusaha membungkamkan dan mencegah Paulus memberitakan Kabar Baik, tidak membuat Paulus trauma. Allah telah memberikan kekuatan esktra dan membuang rasa takut di hati Paulus. Terlebih Kabar Baik yang diberitakan Paulus fokus berita tentang Tuhan Yesus Kristus, dan berasal daripada Allah, bukan yang lain-lain atau tentang dirinya. Kristus adalah isi pemberitaan, sedangkan Allah adalah sumber Kabar Baik itu sendiri. Tidak ada pikiran-pikiran yang buruk atau mencoba menipu siapapun
Banyaknya penderitaan dan tantangan tidak membuat Paulus menyerah untuk memberitakan Kabar Baik, sebaliknya bagi Paulus tantangan itu justru menjadi peluang.
Pembawa Kabar Baik tetap fokus untuk menyenangkan hati Allah, bukan membuat orang senang kepada Paulus. Seperti ungkapan permazmur dalam Mzm.62:2 “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku”.
Pembawa Kabar Baik tidak pernah bermulut manis. Paulus tidak mengucapkan kata-kata yang menyenangkan orang lain, tetapi dengan tujuan menutup-nutupi maksud yang sebenarnya, yakni maksud yang tidak baik.
Pembawa Kabar Baik tidak pernah bermaksud loba. Paulus tidak memberitakan Kabar Baik dengan maksud untuk mencari untung dari jemaat Tesalonika. Dalam hal ini Allah adalah saksi artinya Allah tahu benar apa yang Paulus lakukan, bahkan Allah mengetahui isi hati Paulus.
Pembawa Kabar Baik tidak pernah mencari pujian dari manusia. Paulus sama sekali tidak bermaksud menjadi orang terkenal. Paulus tidak berusaha membuat orang lain memujinya. Walaupun Paulus sebagai Rasul berhak menuntut apa yang dibutuhkannya, namun itu tidak dimintanya.
Pembawa Kabar baik berlaku ramah. Paulus bersikap lemah lembut sewaktu berada ditengah-tengah jemaat. Penuh kasih sayang dan baik hati.
Pembawa Kabar Baik penuh kasih sayang seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawati anaknya. Paulus tidak hanya memberikan Kabar baik dari Allah, tetapi juga dengan memberikan hidupnya.
Pembawa Kabar Baik sangat menyatu dengan penerima Kabar Baik. Paulus sangat dekat, tanpa penyekat dengan jemaat Tesalonika. Hal ini terungkap bahwa Paulus tetap mengingat dan berulang kali memakai kata-kata seperti kamu sendiripun memang tahu (2:1), seperti kamu tahu (2:2), hal itu kamu ketahui (2:5), kamu masih ingat (2:9), kamu tahu (2:11). Paulus berbuat apa saja supaya dapat menolong jemaat Tesalonika.
Dampak Pembawa Kabar Baik yang benar terungkap dalam pembacaan Mazmur 1:1-6 dengan tanda-tanda kebenaran, kasih, ketaatan kepada Firman Allah, maka hidupnya selalu diberkati dan berbahagia. Sebaliknya orang fasik pasti yang hidunya tidak tinggal dalam Firman Allah dan kesukaannya berbuat dosa akan menerima penghukuman Allah. Karenanya hidup dan pelayanan kita harus mempunyai   hasrat seperti diingatkan dalam in 2 Kor.5:9 “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya”. Hasrat sebuah keinginan yang begitu besar dan kuat. Dan ketika kita melakukannya, kita tidak bisa membedakan lagi apakah ini pekerjaan? Apakah ini bermain? Apakah ini sebuah karya sosial? Semua menyatu. Batas-batasnya hilang karena kita begitu senang. Begitu semangat untuk melakukannya. Karena mempunyai pengharapan untuk tinggal bersama-sama dengan Yesus dan memperoleh kemuliaan di masa yang akan datang serta jaminan untuk tinggal di sorga, maka semua ini mendorong kita hidup dan melayani yang berkenan kepada Tuhan. Kita harus punya ‘hasrat’ sungguh-sungguh hanya untuk menyenangkan hati Allah. Ada ‘hasrat’ untuk melakukan perbuatan yang mulia, jika hidup dan pelayanan kita sampai meninggalkan tubuh ini, biarlah semuanya berkenan kepada Allah. Tuhan Yesus Memberkati!





No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.